Kulkas Organik, Sebuah Inovasi Besar dari Nele

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 12 Oktober 2018 - 09:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 36 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kulkas organik dari Kecamatan Nele, dipajang saat Bursa Inovasi Desa, Kamis (11/10), di halaman Sikka Innovation Center

Kulkas organik dari Kecamatan Nele, dipajang saat Bursa Inovasi Desa, Kamis (11/10), di halaman Sikka Innovation Center

Maumere-SuaraSikka.com: Bursa Inovasi Desa (BID) yang digelar satu hari, Kamis (11/10),  di halaman Sikka Convention Center (SCC) di Jalan Ahmad Yani menyisakan banyak kekaguman. Satu di antaranya adalah kulkas organik dari Kecamatan Nele. Ini boleh dibilang inovasi yang besar dari warga desa.
Sebuah benda berukuran persegi panjang dipajang persis di depan stand Kecamatan Nele. Di bagian atasnya ditutup dengan karung. Ada genangan air terlihat pada karung. Terkesan benda setinggi kurang lebih 1 meter ini hanya sebuah pajangan biasa saja. Orang baru tahu benda tersebut adalah kulkas organik, setelah membaca keterangan tulisan pada bagian depan, atau bagian pintu.
Kulkas organik ini terbuat dari beberapa bahan lokal seperti bambu, batang kelapa, batu merah. Bambu menjadi bahan lokal yang mendominasi. Kecamatan Nele terkenal sebagai daerah penghasil bambu. Sehingga tidak menyulitkan penggagas kulkas organik untuk berkreasi dan inovasi.

Berita Terkait:


Adalah Sabinus, warga Desa Nele Wutung, yang memiliki inspirasi membuat kulkas organik. Laki-laki ini memang pekerja seni. Dia biasa membuat pot bunga dari bahan-bahan lokal. Semuanya dilakukan secara otodidak, baik dari melihat kreatifitas orang lain, maupun secara nekad mengekspresikan daya pikirnya.
Kulkas organis lahir dari keprihatinan Sabinus akan cepat rusaknya sejumlah sayur dan buah-buahan di rumah. Lalu dia membayangkan memiliki sebuah kulkas sebagai media pengawet. Sabinus kemudian berpikir sekiranya bisa membuat kulkas dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal.
Jadilah ide itu mulai dikerjakan pada tahun 2016. Dia mengumpulkan bahan-bahan lokal untuk membuat kerangka kulkas. Modelnya disesuaikan seperti kulkas biasa, dengan ada rak-rak bertingkat. Dinding kulkas dibuat dari belahan bambu.
Bagaimana kulkas organik ini bisa menjadi pengawet, sehingga sayuran dan buah-buahan tidak lekas rusak, ini yang membuat Sabinus harus putar otak. Dia pun menemukan jawaban sederhana. Sabinus merancang bagian atas kulkas sebagai media penyalur udara dingin ke dalam kulkas. Dengan cara berpikir yang sederhana, dia pun merancang saluran resapan air yang bisa mempengaruhi suhu di dalam kulkas.
Jika membuka pintu kulkas, kelihatannya seperti biasa saja. Tidak terasa suhu dingin dari dalam. Berapa besar temperatur di dalam kulkas tidak diketahui secara pasti. Sabinus perlu memperdalam bagian ini untuk lebih meyakinkan inovasi itu. Tetapi sudah terbukti bahwa sayuran dan buah-buahan yang disimpan di dalam kulkas organik, masih dalam keadaan awet. Bahkan pernah ada sayuran yang berbunga di dalam kulkas organik itu.
Sabinus sudah memproduksi dua buah kulkas organik. Yang dipajang di BID adalah hasil karya yang ketiga. Dua buah kulkas organik, sekarang sudah berpindah tangan, dijual kepada pihak-pihak yang tertarik dengan inovasi ini. Sejauh ini tidak ada klaim dari pembeli, malah yang diterima adalah bahwa benar kulkas organik yang sederhana itu terbukti bisa mengawetkan sayur dan buahan untuk rentang waktu 3 minggu lamanya.
Inovasi kulkas organik ini mendapat dukungan penuh dari Tim Inovasi Kecamatan. Mereka memberikan masukan dan pikiran agar rancangan kulkas organik bisa kelihatan lebih menarik daya beli. Pekerjaan rumah sekarang adalah mengetahui suhu dan temperatur, serta mengupayakan agar kulkas organik ini juga bisa mengawetkan bahan lain seperti ikan.*** (eny)
Baca Juga :  SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan

Berita Terkait

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan
Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih
49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi
Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere
Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:32 WITA

BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Berita Terbaru