Bagian Utama Badan Lion Air Sudah Terdeteksi

0
239
Bagian Utama Badan Lion Air Sudah Terdeteksi
Tim SAR sedng bersiap-siap melakukan pencarian badan pesawat Lion Air, Selasa (30/10)
Jakarta-SuaraSikka.com: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan pencarian badan pesawat Lion Air mulai menemui titik terang. Titik lokasi yang diduga merupakan fuselage atau bagian badan utama pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Tanjung Karawang sudah terdeteksi. Hadi mengatakan ada dugaan tubuh para korban masih terjebak di dalam bagian pesawat tersebut.
“Pagi hari ini saya mendapatkan penjelasan dari Kabasarnas tentang titik terang adanya dugaan kuat adalah bagian dari fuselage 610 itu sudah ditentukan koordinatnya,” kata Hadi di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/10).
Hadi mengatakan, titik tersebut masih berupa dugaan. Dia belum bisa menyampaikan titik koordinat pastinya. Dia juga belum bisa memastikan apakah benda yang terdeteksi itu benar badan pesawat atau bukan. Oleh karena itu, Hadi menyebut KRI Rigel yang mempunyai fasilitas sonar canggih sudah berada di titik tersebut. Beberapa kapal lain milik TNI AL dan Basarnas juga sudah berada di lokasi.
“Dari KRI Rigel termasuk dari geosurvei saat ini kami fokus pada satu titik itu meyakinkan bahwa apa yang kami duga di dasar permukaan itu adalah bagian dari JT610,” ujar dia.
Hadi bersama Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi sedang dalam perjalanan menuju titik tersebut menggunakan KRI I Gusti Ngurah Rai.
Tim SAR Gabungan yang melakukan pencarian pada Senin (29/10) belum menemukan badan pesawat Lion Air. Penyelaman yang dilakukan belum membuahkan hasil. Direktur Badan SAR Nasional Didi Hamzar mengatakan sulitnya pencarian diduga karena pesawat dalam kecepatan tinggi saat jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Dorongan kecepatan mesin diduga membuat lokasi badan pesawat sulit terdeteksi.

Berita Terkait:


“Pesawat kecepatan tinggi saat jatuh. Asumsinya, tidak mungkin langsung mengambang, pasti ada dorongan karena tekanan mesin,” ujar Didi di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/10).
Meski demikian, upaya pencarian terus dilakukan secara maksimal. Mulai hari ini, lokasi pencarian diperluas dari 5 mil laut menjadi 10 mil laut atau menjadi 9,2 kilometer dari titik yang diduga lokasi pesawat jatuh.
Sementara itu, hingga Selasa siang, Tim SAR telah mengumpulkan potongan tubuh korban ke dalam 26 kantong jenazah. Sebanyak 24 kantong telah diserahkan kepada tim DVI Polri untuk proses identifikasi.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Didi Hamzah mengatakan, dua negara menawarkan bantuan dalam upaya pencarian ini.
“Yang kami dapatkan dari Singapura, Australia itu menawarkan,” ujar Didi Hamzah dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/10).
Khusus untuk Australia, Didi mengatakan, tawaran bantuan berupa sistem komunikasi dan sistem deteksi dini sebagai bagian dari kerja sama bilateral kedua negara.
Namun, Basarnas belum mengambil keputusan menanggapi tawaran bantuan tersebut. Alasannya, Basarnas masih sanggup melakukan operasi pencarian.
“Kami dengan menilai dari setiap area kejadian, kami masih cukup untuk melakukan operasi pencarian karena ini baru hari kedua,” kata Didi.
Pesawat Lion Air JT610 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, sekitar pukul 06.10 WIB, Senin (29/10/2018). Sedianya, pesawat mendarat di Bandara Pangkal Pinang pukul 07.20 WIB. Namun, pesawat tersebut hilang kontak pukul 06.33 WIB.
Pada konferensi pers pukul 10.00 WIB, Basarnas memastikan bahwa pesawat tersebut jatuh di perairan dekat Karawang, Jawa Barat. Proses pencarian korban pun dilakukan. Pesawat tersebut membawa 189 penumpang, terdiri dari 179 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi, 2 pilot dan 5 kru.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini