Jalan Putus di Kolisia, 370 Warga Magerepu Terancam Terisolir
Dibaca 23 kali
Suasasa banjir bandang pekan lalu di Desa Kolisia Kecamatan Magepanda, yang berakibat terisolirnya ratusan warga di Dusun Magerepu
Maumere-SuaraSikka.com: Banjir bandang pekan lalu di Desa Kolisia Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Propinsi NTT, tidak saja mengakibatkan putusnya badan jalan dan jembatan. Kini sebanyak 139 kepala keluarga atau 370 jiwa di Dusun Magerepu terancam terisolir.
Dusun Megerepu terletak pada sebelah selatan dari jembatan yang hanyut terbawa banjir bandang. Dari jalan Trans Flores Maumere-Magepanda kurang lebih 3 kilometer jaraknya. Kini akses dari dan ke Dusun Magerepu sama sekali tidak bisa difungsikan. Banjir bandang menghanyutkan jalan rabat yang menjadi satu-satu arus transportasi ke dusun itu.
Beberapa warga yang ditemui di lokasi putusnya badan Jalan Trans Flores Maumere-Magepanda, mengatakan di bagian selatan jalan ini ada sebuah dusun dengan jumlah penduduk ratusan orang. Mereka kuatir penduduk di dusun itu akan terislor karena jalan rabat yang menghubungkan dusun itu ikut hanyut terbawa banjir bandang.
Berita Terkait:
“Ke kampung bagian atas, lewat jalan rabat. Tapi (jalan) sudah putus. Angkutan pedesaan tidak bisa lintas lagi. Paling-paling roda dua. Itu pun harus hati-hati, bisa-bisa tergelincir masuk ke kali,” ujar Boy, salah satu warga Kolisia.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka M. Daeng Bakir membenarkan terdapat 370 jiwa di Dusun Magerepu yang terancam terisolir. Pihaiknya sudah berupaya melakukan pendekatan dengan 137 kepala keluarga untuk dievakuasi, tetapi mereka memilih untuk bertahan di dusun itu.
“Kami sudah komunikasikan dengan warga di dusun itu, kita siap evakuasikan mereka ke rumah-rumah keluarga. Tapi mereka tidak mau. Mereka ingin bertahan di kampung mereka,” jelas Daeng Bakir.
Daeng Bakir menambahkan warga Dusun Magerepu mengaku tidak akan terisolir jika ada jalan alternatif yang bisa menghubungkan mereka hingga ke Jalan Trans Flores Maumere-Magepanda. Satu-satunya jalan alternatif yakni melewati kebun-kebun warga sekitar.
Untuk menjawabi itu, BPBD Sikka telah berkoordinasi dengan Kepala Desa Kolisia, agar membangun komunikasi dengan pemilik-pemilik kebun, sehingga warga Dusun Magerepu yang hendak keluar atau kembali, bisa melintasi kebun-kebun warga.
“Mereka hanya bisa lewat kebun warga. Nanti Kepala Desa Kolisia yang urus. Saya belum dapat informasi terkini dari kepala desa. Tapi sejauh ini belum ada keluhan dari warga yang terancam terisolir. Semoga sudah ada jalan keluar,” jelas Daeng Bakir.
Sebagian besar penduduk Dusun Magerepu adalah petani. Ada beberapa orang yang menafkahi hidup sebagai tukang ojek. Media ini masih kesulitan mendapat data pasti, misalnya berapa banyak anak sekolah, ibu hamil, jompo, dan penyandang disabilitas.*** (eny)