Derita Pelintas Pantura Flores, Seberangi Kali, Motor Digotong
Dibaca 16 kali
Sekelompok anak muda mengevakuasi motor melewati Kali Magerepu akibat jembatan darurat di lokasi itu hanyut terbawa banjir bandang, Selasa (29/1)
Maumere-SuaraSikka.com: Dua jembatan di jalur pantai utara (pantura) Flores tepatnya di Desa Kolisia Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Propinsi NTT, putus total. Pelintas jalan pun mengalami penderitaaan yang hebat, dari harus menyeberangi kali, hingga kendaraan roda dua pun terpaksa digotong. Praktis kondisi transportasi manusia dan barang di dua lokasi ini pun kembali seperti masa lampau.
Pantura Flores menjadi momok yang menakutkan bagi para pelintas jalan sejak akhir Desember 2017. Saat itu Jembatan Dagemage yang sudah keropos dimakan usia, mulai menebar ancaman. Akhirnya jembatan itu pun roboh setelah diterjang banjir bandang.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka terpaksa membangun jembatan darurat. Namun jembatan darurat ini pun menuai masalah. Banjir bandang kembali menghanyutkan gelagar-gelagar. Lagi-lagi Dinas PUPR Sikka harus ekstra kerja keras membangun lagi jembatan darurat. Transportasi pun mulai berangsur normal.
Hadirnya jembatan darurat, memang hanya insisdentil saja. Cuaca ekstrim yang memicu banjir bandang kembali menghanyutkan jembatan darurat di Dagemage, Kamis (17/1). Saat yang bersamaan Jembatan Magerepu yang letaknya kurang lebih 100 meter dari Dagemage, ikut hanyut dibawa banjir bandang. Bahkan kondisinya lebih parah, karena badan jalan pun ikut hanyut. Praktis jalur ini putus total.
Berita Terkait:
Lagi-lagi Dinas PUPR Sikka harus mengerahkan kemampuan untuk membangun jembatan darurat di dua lokasi berbeda itu. Mereka membentang kembali gelagar-gelagar untuk membuat jembatan darurat. Transportasi pun mulai berangsur normal, sebelum akhirnya Selasa (29/1), banjir bandang kembali menerjang gelagar-gelagar jembatan darurat hingga lepas dari pangkuan.
Dalam kondisi bermasalah seperti ini, para pelintas jalan pun pasrah saja dengan keadaan. Masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan, terpaksa harus menyeberangi Kali Dagemage dan Kali Magerepu. Menyeberangi dua kali itu bukan hal yang gampang, apalagi jika debit air cukup tinggi. Apalagi jika mereka membawa serta barang-barang seperti ternak, hasil perdagangan dan pertanian, termasuk barang-barang untuk kebutuhan bisnis dan pasaran.
Pelintas yang membawa kendaraan roda dua, tidak ada pilihan untuk merogoh ekstra biaya penyeberangan. Warga masyarakat sekitar membantu evakuasi motor-motor dengan cara ramai-ramai digotong. Biayanya pun tidak sedikit, berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 50.000.
Entahlah kondisi penderitaan pelintas jalan pantura Flores ini berlangsung sampai kapan. Terbetik kabar, Pemprop NTT telah mengalokasikan pembangunan Jembatan Dagemage senilai Rp 13,2 miliar. Tentu ini menjadi kabar gembira. Namun persoalannya bagaimana dengan Jembatan Magerepu. Jika dibiarkan saja menggunakan jembatan darurat di lokasi ini, maka bukan tidak mungkin nasibnya pun akan sama ketika banjir bandang kembali datang.*** (eny)