Dagemage Putus Lagi, Masyarakat Menjerit Lagi

0
205
Dagemage Putus Lagi, Masyarakat Menjerit Lagi
Kondisi jembatan darurat di Dagemage Desa Kolisia Kabupaten Sikka yang putus lagi, Selasa (12/3)
Maumere-SuaraSikka.com: Untuk kesekian kalinya, jembatan darurat di Dagemage Desa Kolisia Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Propinsi NTT, putus lagi. Seperti yang terjadi Selasa (12/3) kemarin. Dan untuk kesekian kalinya, masyarakat wilayah pantai utara menjerit lagi.
Jembatan darurat itu putus akibat konstruksi pekerjaan yang tidak terlalu sempurna. Dan gelagar yang terbuat dari besi itu pun roboh. Transportasi wilayah utara kembali lumpuh. Warga masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan harus menyeberangi sungai.
Kisah pilu di Dagemage ini sudah berlangsung lama, sejak Desember 2017 lalu. Jembatan asli yang sudah rongsok dan dimakan usia, mulai keropos di bagian bawahnya. Banjir bandang yang besar waktu itu menghanyutkan jembatan dan badan jalan.
Dagemage Putus Lagi, Masyarakat Menjerit Lagi
Pemerintah Propinsi NTT yang memiliki kewenangan atas ruas jalan propinsi ini, sepertinya masih “tutup mata”. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah setempat untuk membangun jembatan darurat demi kelancaran arus barang dan manusia. Pemerintah daerah mau tidak mau harus intervensi dengan membangun jembatan darurat, meskipun bukan kewenangannya.
Jembatan ini terletak di ruas jalan Trans Flores di wilayah utara, yang menghubungkan delapan kabupaten di Flores, dari Flores Timur hingga Manggarai Barat. Setidaknya masyarakat pada empat kabupaten yang rutin melintasi ruas jalan ini, yakni Sikka, Ende, Nagekeo, dan Ngada. Hal ini bisa dilihat dari mobilitas kendaraan angkutan pedesaan dan angkutan antarkabupaten dalam propinsi.
Namun upaya pemerntah daerah setempat, sepertinya tidak maksimal. Jembatan darurat yang dibangun dengan menggunakan gelagar besi, tidak bisa bertahan lama. Banjir bandang yang kerap terjadi di daerah itu, begitu gampangnya menghanyutkan jembatan darurat. Diduga pekerjaan jembatan darurat ini hanya asal jadi saja, karena menyangkut alokasi dana.
Setiap kali datang banjir bandang, praktis jembatan darurat roboh. Dan setiap kali roboh, pemerintah daerah setempat kembali membangun jembatan darurat dengan konstruksi yang begitu-begitu saja. Tidak ada satu konstruksi yang permanen dan bertahan lama.
Pernah sekali terjadi, ketika sebuah dump truk melintas di atas jembatan  darurat, jembatan tersebut langsung ambruk, terlepas dari pangkuan yang berandalkan tebing sungai. Untung saja dump truk itu tidak terpersok ke dalam sungai.
Sampai siang ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka tengah mengerahkan alat berat untuk membetulkan kembali jembatan darurat. Masyarakat terpaksa menyeberangi kali. Kendaraan roda dua dipikul oleh anak-anak muda sekitar lokasi. Tidak heran kalau ada biaya jasa atas “pekerjaan” ini. Begitulah pemandangan yang biasa terjadi ketika petaka mendera Dagemage.
Dan yang paling ironis yakni ketika mobil ambulance hendak membawa pasien yang merujuk ke RSUD TC Hillers Maumere. Beberapa kali terlihat mobil ambulance terpaksa “berenang” di sungai. Jika tidak memungkinkan maka pasien rujukan terpaksa harus menyeberangi sungai dengan kondisi yang memprihatinkan.
Dagemage, entahlah cerita pilu itu kapan berakhir. Informasi menyebutkan Pemprop NTT sudah mengalokasikan dana pembangunan sebesar Rp 13 miliar lebih. Sementara ini dalam proses lelang. Warga masyarakat berharap agar segera dilakukan pekerjaan jembatan baru sehingga tidak menambah perih luka masyarakat.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini