HUT Kemerdekaan di Kojagete, Marhaenisme dan Pancasila Membumi

0
93
HUT Kemerdekaan di Kojagete, Marhaenisme dan Pancasila Membumi
Ketua GMNI Sikka Alvinus L. Ganggung mendampingi Kepala Desa Kojagete Suhut Firmansyah pada peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan, Sabtu (17/8)
Maumere-SuaraSikka.com: Aktivis GMNI Sikka melancarkan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Kojagete Kecamatan Alok Timur. Kegiatan berlangsung selama tiga hari sejak Kamis (15/8) dan berpuncak pada Sabtu (17/8) persis pada peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI. Tak pelak, marhaenisme dan Pancasila pun membumi di desa terpencil yang terletak di kepulauan itu.
Melalui rilis yang diterima media ini, Ketua GMNI Sikka Alvinus L. Ganggung menyebutkan kegiatan yang dilakukan aktivis GMNI Sikka antara lain bakti sosial kebersihan di sekitar lingkungan kantor desa, dan sosialisasi Pancasila serta tantangan kebangsaan kepada Karang Taruna, Remaja Mesjid, dan Orang Muda Katolik Stasi Nanga Paroki Santo Yoseph Talibura.
“GMNI sebagai organisasi gerakan dan organisasi nasionalis, selalu aktif membumingkan azas perjuangan yakni marhaenime dan Pancasila, sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dan dalam rangka HUT Kemerdekaan kali ini, kami memilih berada di tengah-tengah masyarakat Kojagete,” ujar Alvinus Ganggung.
Dia mengatakan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan embrio dari marhaenisme, yang mana sejak tahun 1927 selalu digaungkan Soekarno, Proklamator Indonesia. Pancasila merupakan jawaban atas kerinduan bangsa Indonesia untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Pancasila merupakan kunci bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kesejahteraan sosial. Pancasila juga merupakan benteng yang kokoh untuk menepis tantangan-tantangan kebangsaan baik itu secara internal dan eksternal.
“Oleh karena itu Pancasila perlu disosialisasikan secara holistik kepada masyarakat terutama kaum muda sebagai penerus tongkat estafet NKRI. Setiap nilai dari Pancasila bukan hanya sekedar dihapal, tetapi lebih dari itu bagaimana masyarakat mampu mengahayati nilai-nilai Pancasila sehingga masyarakat hidup rukun, damai, dan bertoleransi,” kata mahasiswa Unipa Maumere itu.
HUT Kemerdekaan di Kojagete, Marhaenisme dan Pancasila Membumi
Altivis GMNI Sikka pose bersama kamu muda Desa Kojagete usai sosialisasi marhanisme dan Pancasila
Kepala Desa Koja Gete Suhut Firmansyah mewakili pemerintahan dan masyarakat desa sangat antusias dengan kehadiran GMNI Sikka. Dia mengucapkan terima kasih kepada aktivis GMNI Sikka yang sudah berpartisipasi aktif dalam menyukseskan kegiatan HUT Kemerdekaan RI di Desa Kojagete.
“Orang muda yang progresif revolusioner sangat dibutuhkan untuk kemajuan sebuah daerah atau negara melalui ide-ide dan tindakan nyata yang inovatif. Aktivis GMNI Sikka menjadi contoh yang baik bagi kaum muda di sini,” ungkap Suhut Firmansyah.
Dalam Pidato Kemerdekaan, Suhut Firmansyah menyampaikan bahwa Desa Kojagete merupakan salah satu desa tertinggal di Kabupaten Sikka. Wilayah desa yang terdiri dari tiga dusun, sangat sulit diakses dikarenakan dusun-disn itu terbagi atas tiga daratan yang berbeda.
Meski demikian, Kojagete memiliki keunikan dan ketertarikan tersendiri.  Masyarakat di desa ini berasal dari berbagai suku yakni Suku Tana Ai, Suku Krowe, Suku PaluE, Suku Buton, dan Suku Lio. Praktis ada dua keyakinan di desa itu yakni Katolik dan Muslim.
“Walaupun berbeda suku dan agama, masyarakat sangat rukun dan damai. Hidup toleransi di desa ini sangat tinggi,” ujar Suhut Firmansyah dengan bangga.
Di samping itu Kojagete juga diberkahi alam yang begitu indah. Kenaturalan alam yang masih terjaga sehingga Kojagete masuk ke dalam wilayah konservasi kepulauan.
Suhut Firmansyah berharap GMNI Sikka perlu membantu pemerintahan Kojagete untuk mempromosikan wilayah itu sebagai salah satu desa pariwisata di Kabupaten Sikka. Dia berharap kerja sama yang dibangun dengan GMNI Sikka harus terus berlanjut hingga Kojagete menjadi desa yang mandiri dan maju.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini