Fraksi Partai Gerindra Dibodoh-bodohi Ketua DPRD Sikka

0
105
Fraksi Partai Gerindra Dibodoh-bodohi Ketua DPRD Sikka
Ketua Fraksi Partai Gerindra Fransiskus Stephanus Say
Maumere-SuaraSikka.com: Empat fraksi di DPRD Sikka terpaksa walk out dari paripurna penetapan alat kelengkapan dewan, Jumat (1/11) malam. Salah satunya adalah Fraksi Partai Gerindra. Ketua Fraksi Partai Gerindra Fransiskus Stephanus Say mengaku telah dibodoh-bodohi Ketua DPRD Sikka Donatus David.
Selain Fraksi Partai Gerindra, yang walk out pada malam itu adalah Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Nasdem, dan Fraksi PAN. Praktis komposisi pimpinan alat kelengkapan dewan hanya ditentukan oleh 5 fraksi lainnya yakni Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi PKB, Fraksi Partai Hanura, Fraksi Partai Perindo, dan Fraksi Demokrat Sejahtera.
Stephanus Say mengatakan mestinya pembentukan alat kelengkapan dewan terjadi pada Rabu (30/10). Namun agenda tersebut batal dilaksanakan karena sebagian besar anggota DPRD Sikka tidak hadir, terutama dari Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi PKB, Fraksi Partai Hanura, Fraksi Partai Perindo, dan Fraksi Demokrat Sejahtera, yang disebut-sebut sebagai fraksi pendukung pemerintah.
Menurut mantan Wakil Ketua DPRD Sikka itu, bisa saja agenda penentuan komposisi pimpinan alat kelengkapan dipaksakan berlangsung pada Rabu (30/10). Namun dengan alasan etika, akhirnya anggota DPRD Sikka yang hadir waktu itu sepakat untuk menunda pembentukan pimpinan alat kepengkapan dewan pada Jumat (1/11).
“Kalau kami mau paksakan, pasti selesai pada hari itu. Tapi ini karena etika saja. Kami menganggap ini adalah bagian dari kebersamaan. Tidak baik kalau ada yang tidak ikut memilih,” ujar Stephanus Say di Gedung DPRD Sikka, Senin (4/11).
Agenda pembentukan alat kelengkapan dewan pun dijadwalkan Jumat (1/11). Sebelum paripuna, terlebih dahulu ada rapat konsultasi Pimpinan DPRD Sikka bersama Bupati Sikka di ruang kerja Ketua DPRD Sikka. Rapat konsultasi ini akhirnya meluas, karena Pimpinan Fraksi diundang hadir.
“Ada yang panggil saya ke ruangan Ketua, katanya rapat konsultasi. Saya tanya agenda apa? Kok tiba-tiba? Lalu jawabannya terkait alat kelengkapan dewan, katanya dibicarakan sama-sama, netting, sehingga tinggal ketuk palu di paripurna. Itu tawarannya. Karena diminta terus akhirnya saya masuk ke ruangan Ketua,” jelas dia.
Dalam rapat konsultasi, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo mengharapkan komposisi pimpinan alat kelengkapan dewan mempertimbangkan kebersamaan semua fraksi. Harapan ini disambut baik semua fraksi, termasuk Fraksi Partai Gerindra.
Menanggapi harapan Bupati Sikka, Stephanus Say lalu mengusulkan membagi pimpinan alat kelengkapan sesuai urutan pemenang Pemilu 2019. Karena PDI Perjuangan, PKB, dan Partai Golkar sudah menempati posisi Pimpinan DPRD, dia mengusulkan dilanjutkan urutan pemenang berikut yaitu Partai Nasdem dan Partai Hanura. Sementara partai-partai lainnya, seperti Partai Gerindra, Partai Perindro, PAN, PKP Indonesia, Partai Demokrat, dan PKS, mengikuti dinamika yang terjadi. Usulan ini pun disetujui Pimpinan DPRD Sikka dan Pimpinan Fraksi.
Kemudian dalam diskusi yang penuh dinamika, akhirnya disepakati komposisi pimpinan komisi-komisi. Ketua Komisi 1 Filario Charles Bertrandi dari Fraksi PAN, Wakil Ketua Fraksi Partai Perindo. Ketua Komisi 2 Fransiskus Stephanus Say Fraksi Partai Gerindra, Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem, dan Sekretaris Fraksi PKB. Komisi 3 dengan Ketua Fraksi PDI Perjuangan, yang kemudian masih tarik ulur karena “perebutan” dua anggota fraksi.
Saat paripurna pembentukan akat kelengkapan dewan pada Jumat (1/11) malam, Fraksi Partai Gerindra dan Fraksi PAN mempertanyakan hasil kesepakatan Ketua Komisi 3 yang menjadi “jatah” Fraksi PDI Perjuangan. Namun saat itu Ketua DPRD Sikka Donatus David yang memimpin rapat paripurna menjawab bahwa tidak pernah ada kesepakatan terkait komposisi pimpinan alat kelengkapan dewan.
Donatus David kemudian mengarahkan mekanisme pimpinan alat kelengkapan sesuai Peraturan Tata Tertib DPRD Sikka. Mekanisme yang dia maksudkan yakni ketua, wakil ketua, dan sekretaris komisi-komisi dipilih dari dan oleh anggota komisi. Jawaban ini membuat geram 4 fraksi, yang akhirnya memilih walk out dari paripurna.
“Kalau menggunakan mekanisme Peraturan Tata Tertib DPRD Sikka, kenapa siangnya dilakukan prakondisi untuk menentukan komposisi alat kelengkapan dewan? Ini yang kami keewa sekali karena merasa dibodoh-bodohi Ketua DPRD Sikka,” kesal Stephanus Say.
Dengan kondisi yang ada, pimpinan 3 komisi di DPRD Sikka diisi fraksi-fraksi pendukung pemerintah. Ketua Komisi 1 Florensia Klowe dari Fraksi Partai Hanura, Ketua Komisi 2 Stefanus Sumandi dari Fraksi PDI Perjuangan, dan Ketua Komisi 3 Alfridus Melanus Aeng dari Fraksi PDI Perjuangan. Anggota DPRD Sikka dari empat fraksi yang walk out hanya menjadi anggota biasa saja.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini