Maumere-SuaraSikka.com: Sudah dua minggu ini KMP Windu Karsa Dwitya berlabuh di Pelabuhan Penyeberangan Feri Kewapante di Kabupaten Sikka. Kapal ini belum bertolak ke Surabaya, diduga karena manajemen kesulitan biaya pengadaan bahan bakar minyak (BBM).
Kepala PT Windu Karsa Cabang Maumere Merlin Sidabalok belum bisa dihubungi. Dari kantornya di Pelabuhan Feri Kewapante, Kamis (16/1), seorang staf menyampaikan yang bersangkutan tidak masuk kantor karena sedang sakit.
Sementara itu puluhan armada ekspedisi masih parkir di halaman Kantor Pelabuhan Feri Kewapante. Dikabarkan terdapat 2 armada yang menarik kembali biaya tiket pemberangkatan, dan memilih berangkat melalui Pelabuhan Ipi di Kabupaten Ende.
Tidak terlihat lagi 159 penumpang yang sebelumnya sudah masuk manifest. Informasi yang dihimpun media ini, para penumpang hanya bertahan selama satu minggu. Setelah itu mereka menarik biaya tiket dan memilih berangkat ke Surabaya dengan cara mereka masing-masing.
Truk ekspedisi masih parkir di halaman Kantor Pelabuhan Feri Kewapante
Ruslan bin Zakar, seorang sopir ekspedisi Permata Hokky mengaku berada di Pelabuhan Feri Kewapante sejak 3 Januari 2020. Hari itu adalah jadwal KMP Windu Karsa Dwitya bertolak ke Pelabuhan Perak Surabaya. Namun karena gelombang besar dan angin kencang, kapal ditunda keberangkatannya.
Para sopir dan penumpang diminta bersabar, menunggu cuaca berubah normal. Manajemen PT Windu Karsa kemudian menjadwalkan keberangakatan pada Kamis (9/1). Namun jadwal ini pun ditunda, dengan alasan cuaca.
“Padahal waktu itu cuaca sudah normal. Mereka alasan ada imbauan dari BMKG. Yah, kami ikuti saja,” jelas dia.
Namun belakangan ketika cuaca sudah membaik, kapal belum juga diberangkatkan. Para sopir mulai mencurigai ada sesuatu yang terjadi pada internal manajemen. Setelah dicari tahu, dan ditanyakan langsung, mereka mendapat jawaban bahwa kapal belum bisa berangkat karena persoalan BBM.
Sopir yang biasa disapa Lanco itu mengaku heran jika manajemen bermasalah dengan BBM. Karena yang dia tahu pemerintah daerah setempat telah berjuang KMP Windu Karsa Dwitya memperoleh BBM Subsidi. Dia pun menduga manajemen kapal feri ini tidak memiliki biaya operasional untuk pengadaan BBM.
“Kalau masalah BBM kan tinggal beli saja. Nah kenapa kok jadi berlarut-larut. Jangan-jangan perusahaan ini tidak punya uang untuk beli BBM,” curiga dia.
Hingga sekarang belum ada kejelasan kapan KMP Windu Karsa Dwitya akan diberangkatkan. Dia mengatakan setiap kali para sopir bertanya, staf di kantor selalu menjawab besok berangkat. Tapi nyatanya tidak berangkat juga.
Ardianus, yang juga sopir ekspedisi Permata Hokky, mengaku sudah jenuh menunggu jadwal keberangkatan yang tidak pasti. Rencananya hari ini dia akan menarik kembali uang tiket, dan mengalihkan armadanya ke Pelabuhan Ipi karena ada kapal feri yang berangkat ke Surabaya pada Sabtu (18/1).
“Saya dari tanggal 31 Desember 2019 sudah di sini. Sampai sekarang tidak jelas kapan kapal berangkat. Kami menunggu sampai bosan. Sementara orang kantor tidak bisa kasih kepastian,” ujar sopir asal Timor yang bekerja pada pengusaha dari Kabupaten Lembata.
KMP Windu Karsa Dwitya tiba di Pelabuhan Feri Kewapante pada 31 Desember 2019. Kapal itu rencananya diberangkatkan pada Jumat (3/1), namun ditunda karena masalah cuaca. Sebanyak 159 penumpang terpaksa tidur di Kantor Pelabuhan Feri Kewapante.
Hingga kini KMP Windu Karsa Dwitya masih bersandar di Dermaga Pelabuhan Feri Kewapante. Belum ada informasi pasti kapan kapal ini bertolak ke Pelabuhan Feri Kewapante.*** (eny)