Dinas Perlindungan Anak Dampingi Korban dan Pelaku Fases

0
75
Dinas Perlindungan Anak Dampingi Korban dan Pelaku Fases
Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Nenu dan staf menemui Pimpinan Seminari BSB, Rabu (26/2)
Maumere-SuaraSikka.com: Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Sikka tengah melakukan pendampingan kepada korban dan pelaku fases di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa (BSB).
Pendampingan dilakukan sejak Rabu (26/2) pagi, menyusul peristiwa tersebut merebak dan menjadi viral. Beberapa staf dinas tampak terlihat di Seminari BSB.
Kepala Dinas P2KBP3A Maria Bernadina Sada Nenu yang dihubungi media ini, Kamis (27/2), membenarkan pihaknya sedang melakukan pendampingan kepada korban dan pelaku. Pendampingan awal dilakukan saat korban dan pelaku dimintai keterangan oleh penyidik dari Polres Sikka.
“Korban dan pelaku mesti didampingi karena masih kategori usia anak. Kemarin waktu ada identifikasi kasus dari polisi, staf mendampingi mereka,” jelas mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka itu.
Selain pendampingan, jelas dia, pihaknya juga akan terus memberikan penguatan kapasitas. Hal ini dilakukan agar psikologis korban dan pelaku tetap stabil.
Menurut dia, pendampingan kepada korban dan pelakunakan terus dilanjutkan hingga proses pemulihan. Jika ada perubahan psikososia, maka perlu dirujuk ke psikolog untuk proses rehabilitasi.
“Informasi dari staf, kemarin waktu pendampingan, secara kasat mata, baik korban maupun pelaku tidak ada tekanan atau perubahan kondisi yang serius. Mereka masih terlihat biasa saja. Meski demikian, kami akan terus melakukan pendampingan,” tambah dia.
Pantauan media ini Rabu (26/2), Kepala Dinas P2KBP3A bersama beberapa staf sempat menemui Prases Seminari BSB Romo Deodatus Du’u dan Kepala SMP Seminari BSB Romo Felix Dari di salah satu ruang kelas.
Pertemuan ini dilaksanakan usai Praeses dan Kepala Sekolah Seminari BSB bertemu Ketua dan Anggota dan sejumlah DPRD Sikka. Sama dengan sebelumnya, pertemuan ini pun berlangsung tertutup.
Sebagaimana diketahui, sebanyak 77 siswa Kelas VII dipaksa makan feses atau kotoran manusia oleh kakak kelas mereka.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (19/2) lalu. Kasus ini dibungkus rapi, dan baru terbongkar dua hari sesudahnya, Jumat (21/2). Terbongkarnya perlakuan keji itu setelah orang tua siswa memrotes tindakan itu melalui WhatsApp humas sekolah.
Pimpinan Seminari BSB RD Deodatus Du’u melalui rilis resmi, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Hanya saja, kata dia, para siswa yang mendapat hukuman, bukan diberi makan kotoran manusia, tetapi salah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada kotoran manusia pada bibir atau lidah 77 siswa tersebut.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini