





DI banyak daerah, anggota DPRD sering diukur dari seberapa sering mereka berbicara di sidang, memasang baliho, atau tampil dalam kegiatan seremonial. Padahal seorang wakil rakyat seharusnya tidak hanya hadir secara fisik dalam politik, tetapi juga hadir secara intelektual.
Karena itu, sudah saatnya muncul satu budaya baru di Kabupaten Sikka: anggota DPRD seyogyanya menulis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gagasan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting bagi kualitas demokrasi lokal. Seorang Anggota DPRD bukan hanya pembuat keputusan politik, melainkan juga pembaca realitas sosial masyarakatnya. Mereka berbicara tentang kemiskinan, pendidikan, kesehatan, nelayan, petani, pariwisata, sejarah, budaya, tenaga kerja migran, lingkungan, hingga pembangunan daerah. Semua itu seharusnya tidak berhenti dalam pidato politik sesaat, tetapi dituangkan dalam pemikiran tertulis yang bisa dibaca, diuji, dan diwariskan kepada publik.
Politik Tanpa Tradisi Menulis, Perlahan Jadi Politik Tanpa Gagasan
Hari ini masyarakat sering tidak mengetahui apa sebenarnya pemikiran Anggota DPRD tentang daerahnya sendiri. Banyak wakil rakyat aktif berbicara, tetapi sangat sedikit meninggalkan jejak intelektual. Padahal melalui tulisan, masyarakat bisa melihat apakah seorang politisi benar-benar memahami persoalan daerah atau sekadar pandai berbicara di depan publik.
Karya tulis juga menjadi bentuk pertanggungjawaban moral kepada rakyat. Ketika seorang Anggota DPRD menulis tentang pertanian Sikka, krisis air, pendidikan, sejarah Kabupaten Sikka, pariwisata Flores, perdagangan orang, atau masa depan anak muda NTT, publik dapat membaca arah pikirannya secara lebih jernih.
Kabupaten Sikka sebenarnya memiliki begitu banyak isu penting yang layak ditulis dan diteliti. Mulai dari sejarah maritim Flores, perkembangan sosial masyarakat Sikka, warisan Portugis di kawasan timur Nusantara, problem tenaga kerja migran, kemiskinan desa, kerusakan lingkungan pesisir, budaya lokal, hingga tantangan ekonomi generasi muda. Semua itu membutuhkan politisi yang tidak hanya pandai berdebat, tetapi juga mampu berpikir mendalam dan menuangkannya dalam tulisan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












