





KETIKA berbicara tentang Pulau Flores, perhatian kita sering tertuju pada keindahan alam, kekayaan budaya, atau sejarah kolonialnya. Namun di balik perjalanan panjang perkembangan sosial dan ekonomi selama ratusan tahun, terdapat satu komunitas yang turut membentuk denyut kehidupan daerah ini: komunitas China Flores.
Mereka bukan pendatang baru yang hadir semata-mata untuk kepentingan ekonomi moderen. Keberadaan mereka di Flores telah berlangsung sejak berkembangnya perdagangan antarpulau pada masa kolonial. Melalui jalur perdagangan yang menghubungkan Makasar, Surabaya, Timor, dan berbagai wilayah pesisir Nusantara, para pedagang Tionghoa secara bertahap datang dan menetap di Flores. Dari generasi ke generasi, mereka membangun kehidupan bersama masyarakat lokal dan perlahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Flores.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menarik untuk dicatat bahwa pada masa kolonial Portugis, kawasan Solor–Timor–Flores, dalam konteks yang lebih luas, pernah berada dalam satu kerangka administratif yang saling terhubung, termasuk dalam jaringan yang dikenal sebagai província Macau–Solor–Timor, sebagai bagian dari struktur yang berada di bawah subordinasi Estado da Índia (Estado do Goa). Struktur kolonial ini memperlihatkan bagaimana perdagangan, pemerintahan, dan kehidupan sosial di kawasan tersebut saling terhubung dalam satu sistem yang lebih luas pada masa itu.
Berbeda dengan gambaran umum komunitas Tionghoa di kota-kota besar yang sering dipandang eksklusif, China Flores berkembang dengan karakter yang jauh lebih membumi. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, mengikuti ritme sosial masyarakat, dan membangun hubungan kekeluargaan yang erat dengan warga lokal. Banyak di antara mereka lahir, besar, dan menghabiskan seluruh hidupnya di Flores.
Di berbagai daerah di Flores, masyarakat akrab menyebut mereka dengan panggilan “Baba” atau “Aci”. Sebutan ini lahir dari hubungan sosial yang telah terbangun lama dalam kehidupan sehari-hari. Panggilan tersebut bukan sekadar penanda etnis, melainkan bentuk kedekatan yang tumbuh melalui interaksi lintas generasi. Dalam banyak situasi, istilah ini bahkan terasa lebih lokal dan akrab dibanding penyebutan formal “Tionghoa”.
Di kota-kota seperti Lewoleba, Larantuka, Maumere, Ende, Mbay, Bajawa, Borong, Ruteng, dan Labuan Bajo, bahkan di sejumlah ibukota kecamatan, komunitas China Flores memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi lokal. Toko-toko keluarga mereka menjadi bagian dari sejarah perdagangan daerah. Dari usaha kecil di pasar hingga jaringan distribusi antar pulau, mereka membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pada masa lalu.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












