China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 11 Mei 2026 - 20:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 424 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

Komunitas Tionghoa di Flores dan Timor berkembang melalui jaringan perdagangan pada masa kolonial di wilayah ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang, Hakka, Hokkien, Cantonese serta keluarga Tionghoa yang berakar secara lokal melalui proses panjang integrasi budaya dan perkawinan campur, kemudian perlahan membangun kehidupan baru di wilayah pesisir dan pusat-pusat perdagangan lokal.

Berbeda dengan komunitas Tionghoa di kota-kota besar Indonesia yang sering dipersepsikan lebih eksklusif, komunitas Tionghoa di Flores dan Timor justeru berkembang dalam pola integrasi sosial yang kuat. Mereka menggunakan bahasa lokal, ikut serta dalam praktik budaya masyarakat setempat, serta membangun hubungan sosial yang erat dengan lingkungan sekitar. Banyak di antara mereka tidak lagi memandang Flores atau Timor semata sebagai tempat mencari nafkah, melainkan sebagai rumah sosial dan kultural mereka sendiri.

Hal ini terlihat jelas pada periode 1950-an, ketika di berbagai daerah Indonesia muncul tekanan politik terhadap komunitas Tionghoa pasca kemerdekaan. Di Flores dan Timor, banyak keluarga Tionghoa memilih menggunakan nama atau marga bercorak Portugis-Flores sebagai bentuk penegasan identitas lokal mereka. Pilihan tersebut bukan sekadar urusan administratif, melainkan juga mencerminkan rasa memiliki terhadap wilayah tersebut sebagai rumah mereka sendiri. Fenomena penggunaan nama Portugis-Flores ini juga menunjukkan kuatnya pengaruh sejarah kolonial Portugis di Flores dan Timor. Dalam masyarakat yang dipengaruhi tradisi Katolik serta budaya Portugis lokal, proses integrasi komunitas Tionghoa berlangsung lebih lentur dibandingkan di banyak wilayah lain di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka tidak membangun tembok sosial yang kaku dengan masyarakat sekitar. Sebaliknya, mereka tumbuh dalam relasi yang cair, bergaul secara terbuka, mengikuti kehidupan sosial setempat, dan menjadi bagian dari dinamika masyarakat sehari-hari. Karena itu, banyak warga memandang mereka bukan sebagai “orang luar”, melainkan sebagai bagian dari masyarakat Flores itu sendiri.

Kontribusi komunitas China Flores juga tidak berhenti pada perdagangan. Selama puluhan tahun, banyak keluarga China Flores aktif membantu kehidupan sosial masyarakat. Mereka terlibat dalam pembangunan Gereja, sekolah, kegiatan sosial, hingga bantuan kemanusiaan bagi warga yang membutuhkan. Dalam masyarakat Flores yang menjunjung tinggi solidaritas dan kehidupan religius, keterlibatan seperti ini mempererat hubungan antara komunitas China Flores dan masyarakat lokal.

Seiring waktu, sebagian keluarga dalam komunitas keturunan Tionghoa di Flores mengalami mobilitas sosial dari aktivitas perdagangan lokal menuju jaringan usaha yang lebih luas, mencakup hubungan antarpulau hingga kota-kota besar di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Perkembangan ini juga diikuti oleh generasi berikutnya yang menempuh pendidikan dan berkiprah di berbagai bidang seperti usaha, pendidikan, hukum, kesehatan, dan profesi lainnya.

Berita Terkait

Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende
Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia
Napung Gete dan Jalan Panjang Kemandirian Pangan Kabupaten Sikka
Optimalisasi Peran Pelabuhan Laurens Say Maumere dalam Mendorong Kemandirian Fiskal Daerah
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:06 WITA

Bupati Sikka Diingatkan Jangan Gegabah Terapkan Pergub Pembatasan BBM Bersubsidi

Selasa, 30 Juni 2026 - 07:19 WITA

Mahasiswa Unipa Maumere Kritik Gubernur NTT: Hak Subsidi Rakyat Jangan Dikorbankan Demi Pajak!

Minggu, 28 Juni 2026 - 22:27 WITA

Polres Sikka Bantah Tudingan Oknum Polisi Minta Uang Tebusan BBM

Jumat, 26 Juni 2026 - 19:22 WITA

Sebut Gubernur NTT Malas, PMKRI Maumere Soroti Kebijakan Larangan Penggunaan BBM Bersubsidi

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:53 WITA

NTT Siapkan Arena PON 2028 Dekat Lokasi Wisata

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:02 WITA

Setelah Viral Permintaan Tebusan Rp 50 Juta, Polres Sikka Kebakaran Jenggot, Langsung Rilis Pengungkapan Kasus Penyalahgunaan BBM

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:03 WITA

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, Bandara Frans Seda Maumere Ditutup Sementara

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:31 WITA

Pedagang Pasar Alok Sempat Kejar, Bupati Sikka: Saya Tidak Melarikan Diri

Berita Terbaru

Ketua MK Suhartoyo

Nasional

Putusan MK: Kepala Daerah Tetap Dipilih Rakyat

Selasa, 30 Jun 2026 - 15:33 WITA