





WACANA penerbitan obligasi daerah kembali menguat pasca terselenggaranya Sarasehan Nasional ke VI di Maumere, Kabupaten Sikka Propinsi NTT pada Kamis 12 Pebruari 2026. Kegiatan ini bernaung di bawah tema besar “Obligasi Daerah sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah dan Instrumen Investasi Publik”.
Turut hadir Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Andi Achmad Dara, serta Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR RI Anies Mayangsari Muninggar. Selain itu, jajaran Forkopimda Propinsi NTT, para bupati dan wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota, pimpinan DPRD tingkat propinsi maupun kabupaten/kota, serta berbagai unsur masyarakat juga hadir dalam kegiatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian sarasehan terarah pada suatu kesimpulan bahwa obligasi merupakan gagasan yang sangat menjanjikan. Gagasan ini membuka ruang bagi daerah untuk mencari pembiayaan sendiri tanpa terlalu bergantung pada pusat.
Obligasi juga penting karena dalam beberapa tahun terakhir, struktur transfer ke daerah berubah pasca regulasi Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD). Dengan kondisi ini, pemerintah daerah dituntut lebih kreatif dan adaptif dalam mencari sumber pembiayaannya sendiri.
Namun demikian, sebelum menyambutnya sebagai “jalan keluar” bagi kemandirian fiskal daerah, penting untuk bertanya secara jujur perihal: apakah kondisi fiskal dan ekonomi NTT benar-benar siap bermain di level pasar modal?
Masalah Dasar
Secara umum, sebagian besar APBD Kabupaten/Kota di Propinsi NTT masih sangat bergantung pada dana transfer pusat. Data Kementerian Keuangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di banyak daerah NTT masih di bawah 20 persen dari total pendapatan. Artinya, kemandinan fiskal kita memang masih terbatas.


Ikuti Kami
Subscribe












