Di NTT, contoh proyek potensial bisa mencakup pengembangan Pelabuhan Tenau Kupang, peningkatan fasilitas RSUD rujukan propinsi, atau infrastruktur penunjang pariwisata di Labuan Bajo.
Namun kuncinya adalah bahwa diperlukan proyeksi pendapatan yang realistis, bukan sekadar optimisme. Sebab, obligasi daerah memiliki tiga risiko besar yang tidak boleh diabaikan.
Pertama, risiko fiskal. Dalam teori “debt sustainability”, utang dianggap sehat jika rasio pembayaran bunga dan pokok tidak menggerus belanja wajib seperti pendidikan dan kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika proyek gagal menghasilkan pendapatan sesuai target, pembayaran obligasi tetap harus dilakukan. Ini bisa memangkas anggaran pelayanan publik.
Kedua, risiko tata kelola. Memang benar obligasi daerah akan diawasi ketat oleh pasar dan regulator seperti Otontas Jasa Keuangan (OJK).
Namun pengawasan pasar tidak otomatis menghilangkan risiko moral hazard. Jika sejak awal perencanaan proyek tidak transparan atau studi kelayakannya lemah, maka masalah tetap bisa muncul.


Ikuti Kami
Subscribe












