Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 194 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

DI PESISIR utara Flores, sekitar tiga puluh kilometer di sebelah timur Maumere, terbentang hamparan tanah yang selama berabad-abad menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Kabupaten Sikka. Tanah itu adalah Nangahale.

Bagi sebagian orang, Nangahale merupakan kawasan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. Bagi sebagian lainnya, Nangahale adalah tanah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara bagi Gereja Katolik, Nangahale merupakan bagian dari sejarah panjang karya misi, pendidikan, dan pembangunan sosial di pulau Flores.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, ketika sengketa tanah Nangahale kembali menjadi perhatian publik, persoalan ini tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai konflik antara Gereja dan masyarakat adat, atau antara pemegang sertifikat dan warga yang menguasai lahan. Sengketa tersebut sesungguhnya merupakan perjumpaan antara sejarah kolonial, hukum agraria modern, memori kolektif masyarakat adat, dan berbagai klaim kepemilikan yang berkembang hingga hari ini.

Untuk memahami persoalan Nangahale secara utuh, kita perlu menoleh jauh ke belakang, bahkan sebelum lahirnya perkebunan-perkebunan kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Sejak abad ke-16, Flores, Solor, Adonara, Lembata, dan Timor telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan, politik, dan misi Katolik Portugis. Para pedagang, misionaris, dan pejabat kolonial Portugis membangun hubungan dengan berbagai kerajaan lokal di kawasan ini. Dari perjumpaan tersebut, agama Katolik berkembang dan meninggalkan pengaruh budaya yang masih terasa hingga sekarang.

Berbagai arsip Portugis yang tersimpan di Arquivo Histórico Ultramarino (AHU) di Lisbon, Portugal, menunjukkan bahwa Flores dan kepulauan sekitarnya merupakan bagian dari ruang pengaruh Portugis yang menghubungkan Timor, Maluku, Goa, Chocin, Daman di India, Macau, Lisbon, Angola, Mozambik, Cabo Verde hingga Brasil. Walaupun hingga kini belum ditemukan arsip Portugis yang secara khusus menyebut Nangahale, berbagai dokumen kolonial memperlihatkan bahwa Flores telah lama berada dalam dinamika politik, ekonomi, dan keagamaan yang sama dengan wilayah-wilayah tersebut.

Berita Terkait

Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial
Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende
Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia
Napung Gete dan Jalan Panjang Kemandirian Pangan Kabupaten Sikka
Optimalisasi Peran Pelabuhan Laurens Say Maumere dalam Mendorong Kemandirian Fiskal Daerah
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 13:28 WITA

Hitung-Hitungan Sambut Baru: Sebuah Kesadaran yang Terlambat

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:48 WITA

Sekolah Rakyat di Sikka, Tunggu Penentuan Resmi Kemensos

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:06 WITA

SMKS Yohanes XXIII Maumere Beri Beasiswa Pendidikan Khusus Bagi Siswa Baru

Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:43 WITA

Kontroversi Gaji PPPK Paruh Waktu di Sikka, Tergantung Kondisi Keuangan Daerah

Rabu, 3 Juni 2026 - 07:54 WITA

Terima Amplop Kelulusan, Air Mata Bahagia Tumpah di SMPK Yapenthom 1 Maumere

Senin, 1 Juni 2026 - 12:05 WITA

Sekolah Jadi Tempat Ideal Implementasi Pancasila, Perlu Anggaran Lebih Banyak untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

Senin, 1 Juni 2026 - 10:32 WITA

Pesan Kepala BPIP: Jadikan Pancasila sebagai Idiologi Hidup

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:31 WITA

Mensos Gus Ipul Ajak Kepala Daerah Se-NTT Bangun Sekolah Rakyat

Berita Terbaru

Seorang anak di Paroki Santo Michael Nita menerima Komuni Suci Pertama, Minggu (7/6)

Daerah

Hitung-Hitungan Sambut Baru: Sebuah Kesadaran yang Terlambat

Minggu, 7 Jun 2026 - 13:28 WITA

Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago

Daerah

Sekolah Rakyat di Sikka, Tunggu Penentuan Resmi Kemensos

Minggu, 7 Jun 2026 - 07:48 WITA