Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 481 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

DI PESISIR utara Flores, sekitar tiga puluh kilometer di sebelah timur Maumere, terbentang hamparan tanah yang selama berabad-abad menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Kabupaten Sikka. Tanah itu adalah Nangahale.

Bagi sebagian orang, Nangahale merupakan kawasan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. Bagi sebagian lainnya, Nangahale adalah tanah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara bagi Gereja Katolik, Nangahale merupakan bagian dari sejarah panjang karya misi, pendidikan, dan pembangunan sosial di pulau Flores.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, ketika sengketa tanah Nangahale kembali menjadi perhatian publik, persoalan ini tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai konflik antara Gereja dan masyarakat adat, atau antara pemegang sertifikat dan warga yang menguasai lahan. Sengketa tersebut sesungguhnya merupakan perjumpaan antara sejarah kolonial, hukum agraria modern, memori kolektif masyarakat adat, dan berbagai klaim kepemilikan yang berkembang hingga hari ini.

Untuk memahami persoalan Nangahale secara utuh, kita perlu menoleh jauh ke belakang, bahkan sebelum lahirnya perkebunan-perkebunan kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Sejak abad ke-16, Flores, Solor, Adonara, Lembata, dan Timor telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan, politik, dan misi Katolik Portugis. Para pedagang, misionaris, dan pejabat kolonial Portugis membangun hubungan dengan berbagai kerajaan lokal di kawasan ini. Dari perjumpaan tersebut, agama Katolik berkembang dan meninggalkan pengaruh budaya yang masih terasa hingga sekarang.

Berbagai arsip Portugis yang tersimpan di Arquivo Histórico Ultramarino (AHU) di Lisbon, Portugal, menunjukkan bahwa Flores dan kepulauan sekitarnya merupakan bagian dari ruang pengaruh Portugis yang menghubungkan Timor, Maluku, Goa, Chocin, Daman di India, Macau, Lisbon, Angola, Mozambik, Cabo Verde hingga Brasil. Walaupun hingga kini belum ditemukan arsip Portugis yang secara khusus menyebut Nangahale, berbagai dokumen kolonial memperlihatkan bahwa Flores telah lama berada dalam dinamika politik, ekonomi, dan keagamaan yang sama dengan wilayah-wilayah tersebut.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:31 WITA

Peduli Kota Maumere Indah, Bank NTT Salurkan CSR Rp 172,5 Juta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:43 WITA

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:36 WITA

Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:59 WITA

Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:49 WITA

Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:27 WITA

Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:23 WITA

Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terbaru