Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 416 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

DI PESISIR utara Flores, sekitar tiga puluh kilometer di sebelah timur Maumere, terbentang hamparan tanah yang selama berabad-abad menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Kabupaten Sikka. Tanah itu adalah Nangahale.

Bagi sebagian orang, Nangahale merupakan kawasan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. Bagi sebagian lainnya, Nangahale adalah tanah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara bagi Gereja Katolik, Nangahale merupakan bagian dari sejarah panjang karya misi, pendidikan, dan pembangunan sosial di pulau Flores.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, ketika sengketa tanah Nangahale kembali menjadi perhatian publik, persoalan ini tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai konflik antara Gereja dan masyarakat adat, atau antara pemegang sertifikat dan warga yang menguasai lahan. Sengketa tersebut sesungguhnya merupakan perjumpaan antara sejarah kolonial, hukum agraria modern, memori kolektif masyarakat adat, dan berbagai klaim kepemilikan yang berkembang hingga hari ini.

Baca Juga :  Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia

Untuk memahami persoalan Nangahale secara utuh, kita perlu menoleh jauh ke belakang, bahkan sebelum lahirnya perkebunan-perkebunan kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Sejak abad ke-16, Flores, Solor, Adonara, Lembata, dan Timor telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan, politik, dan misi Katolik Portugis. Para pedagang, misionaris, dan pejabat kolonial Portugis membangun hubungan dengan berbagai kerajaan lokal di kawasan ini. Dari perjumpaan tersebut, agama Katolik berkembang dan meninggalkan pengaruh budaya yang masih terasa hingga sekarang.

Baca Juga :  Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia

Berbagai arsip Portugis yang tersimpan di Arquivo Histórico Ultramarino (AHU) di Lisbon, Portugal, menunjukkan bahwa Flores dan kepulauan sekitarnya merupakan bagian dari ruang pengaruh Portugis yang menghubungkan Timor, Maluku, Goa, Chocin, Daman di India, Macau, Lisbon, Angola, Mozambik, Cabo Verde hingga Brasil. Walaupun hingga kini belum ditemukan arsip Portugis yang secara khusus menyebut Nangahale, berbagai dokumen kolonial memperlihatkan bahwa Flores telah lama berada dalam dinamika politik, ekonomi, dan keagamaan yang sama dengan wilayah-wilayah tersebut.

Berita Terkait

Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial
Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:48 WITA

Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia

Minggu, 12 Juli 2026 - 20:27 WITA

Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:55 WITA

Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB

Sabtu, 16 Mei 2026 - 20:27 WITA

Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:23 WITA

Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan

Senin, 11 Mei 2026 - 20:15 WITA

China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial

Senin, 11 Mei 2026 - 19:28 WITA

Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende

Berita Terbaru

Defri Ngo

Opini

Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih

Minggu, 12 Jul 2026 - 20:27 WITA