Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 481 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

Krisis ekonomi yang berkaitan dengan dampak Perang Dunia I menyebabkan Amsterdam Soenda Compagnie mengalami kemunduran dan akhirnya bangkrut. Dalam situasi tersebut, lahan perkebunan Nangahale kemudian dibeli oleh Vikariat Apostolik Kepulauan Sunda Kecil dan dikembangkan menjadi perkebunan kelapa. Peristiwa ini menunjukkan perubahan penting dalam sejarah Nangahale.

Jika sebelumnya tanah tersebut dikelola oleh perusahaan perkebunan dalam kerangka ekonomi kolonial Belanda, maka setelah beralih kepada Vikariat Apostolik Kepulauan Sunda Kecil pengelolaannya berada di bawah lembaga Gereja Katolik yang juga beroperasi dalam wilayah administrasi Hindia Belanda. Dengan demikian, terjadi peralihan dari pengelolaan perusahaan kolonial kepada lembaga misi Gereja, meskipun keduanya sama-sama berlangsung dalam konteks pemerintahan kolonial Belanda.

Sejak saat itu Nangahale tidak lagi hanya menjadi bagian dari sejarah ekonomi kolonial, tetapi juga masuk ke dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Flores. Dalam berbagai catatan sejarah, perkebunan Nangahale menjadi salah satu sumber pendanaan bagi karya-karya sosial Gereja, termasuk pendidikan, pelayanan kesehatan, pembinaan iman, dan berbagai kegiatan pastoral yang berkembang di Flores pada abad ke-20.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun perubahan status pengelolaan tersebut tidak pernah sepenuhnya menghapus ingatan masyarakat adat mengenai hubungan historis mereka dengan tanah tersebut. Bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar aset ekonomi atau objek hukum. Tanah adalah identitas, ruang hidup, sejarah, dan warisan leluhur yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Setelah Indonesia merdeka, status penguasaan tanah kembali mengalami perubahan. Sistem agraria nasional memperkenalkan berbagai bentuk hak atas tanah yang diatur oleh negara, termasuk Hak Guna Usaha (HGU). Dalam konteks inilah sebagian kawasan Nangahale kemudian memperoleh legitimasi berdasarkan hukum pertanahan nasional.

Di sinilah muncul salah satu akar utama sengketa yang masih berlangsung hingga sekarang.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:31 WITA

Peduli Kota Maumere Indah, Bank NTT Salurkan CSR Rp 172,5 Juta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:43 WITA

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:36 WITA

Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:59 WITA

Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:49 WITA

Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:27 WITA

Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:23 WITA

Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terbaru