Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 205 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

Di Tanzania, akar persoalan tanah dapat ditelusuri hingga masa kolonial Jerman pada akhir abad ke-19 dan kemudian dilanjutkan oleh pemerintahan Inggris setelah Perang Dunia I. Pada masa itu, sejumlah besar wilayah adat dialihkan menjadi perkebunan kopi, sisal, kapas, dan berbagai komoditas ekspor lainnya. Banyak komunitas lokal kehilangan akses terhadap tanah yang selama berabad-abad menjadi sumber penghidupan mereka.

Setelah kemerdekaan, sebagian tanah memang dinasionalisasi atau direformasi, tetapi persoalan mengenai hak-hak historis masyarakat adat terhadap bekas lahan perkebunan kolonial tetap menjadi sumber konflik di berbagai daerah. Sengketa sering muncul ketika pemerintah atau investor mengembangkan kembali kawasan yang secara historis dianggap sebagai tanah adat.

Kasus serupa juga terjadi di Kenya. Pada masa kolonial Inggris, wilayah yang dikenal sebagai White Highlands dialokasikan bagi para pemukim Eropa untuk kegiatan pertanian dan perkebunan skala besar. Kebijakan tersebut menyebabkan banyak komunitas lokal, termasuk kelompok suku Kikuyu, kehilangan tanah yang mereka anggap sebagai wilayah leluhur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah kemerdekaan Kenya pada tahun 1963, persoalan redistribusi tanah menjadi salah satu isu politik paling sensitif. Sebagian lahan memang dikembalikan atau diperjualbelikan kepada warga lokal, namun banyak sengketa masih berlangsung karena adanya perbedaan antara dokumen hukum kolonial dan klaim historis masyarakat adat. Hingga saat ini, isu tanah tetap menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika sosial dan politik Kenya.

Afrika Selatan memberikan contoh yang bahkan lebih kompleks. Sejak masa kolonial hingga rezim apartheid, berbagai kebijakan hukum secara sistematis membatasi hak kepemilikan tanah masyarakat kulit hitam. Natives Land Act tahun 1913 menjadi salah satu tonggak utama yang menyebabkan sebagian besar tanah produktif berada di bawah kontrol minoritas kulit putih.

Setelah berakhirnya apartheid pada tahun 1994, pemerintah Afrika Selatan membentuk berbagai mekanisme restitusi tanah untuk mengembalikan atau memberikan kompensasi kepada komunitas yang kehilangan hak atas tanah mereka akibat kebijakan diskriminatif masa lalu. Namun proses tersebut tidak selalu mudah karena harus mempertemukan bukti sejarah, dokumen hukum, kepentingan ekonomi, dan tuntutan keadilan sosial. Banyak kasus masih diproses hingga sekarang dan menunjukkan bahwa penyelesaian warisan kolonial dalam bidang pertanahan dapat berlangsung selama puluhan tahun.

Berita Terkait

Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial
Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende
Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia
Napung Gete dan Jalan Panjang Kemandirian Pangan Kabupaten Sikka
Optimalisasi Peran Pelabuhan Laurens Say Maumere dalam Mendorong Kemandirian Fiskal Daerah
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 13:28 WITA

Hitung-Hitungan Sambut Baru: Sebuah Kesadaran yang Terlambat

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:48 WITA

Sekolah Rakyat di Sikka, Tunggu Penentuan Resmi Kemensos

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:06 WITA

SMKS Yohanes XXIII Maumere Beri Beasiswa Pendidikan Khusus Bagi Siswa Baru

Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:43 WITA

Kontroversi Gaji PPPK Paruh Waktu di Sikka, Tergantung Kondisi Keuangan Daerah

Rabu, 3 Juni 2026 - 07:54 WITA

Terima Amplop Kelulusan, Air Mata Bahagia Tumpah di SMPK Yapenthom 1 Maumere

Senin, 1 Juni 2026 - 12:05 WITA

Sekolah Jadi Tempat Ideal Implementasi Pancasila, Perlu Anggaran Lebih Banyak untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

Senin, 1 Juni 2026 - 10:32 WITA

Pesan Kepala BPIP: Jadikan Pancasila sebagai Idiologi Hidup

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:31 WITA

Mensos Gus Ipul Ajak Kepala Daerah Se-NTT Bangun Sekolah Rakyat

Berita Terbaru

Seorang anak di Paroki Santo Michael Nita menerima Komuni Suci Pertama, Minggu (7/6)

Daerah

Hitung-Hitungan Sambut Baru: Sebuah Kesadaran yang Terlambat

Minggu, 7 Jun 2026 - 13:28 WITA

Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago

Daerah

Sekolah Rakyat di Sikka, Tunggu Penentuan Resmi Kemensos

Minggu, 7 Jun 2026 - 07:48 WITA