Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 481 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransisco Soarez Pati

Fransisco Soarez Pati

Dalam perspektif hukum negara modern, kepemilikan dan penguasaan tanah ditentukan oleh dokumen resmi, sertifikat, keputusan administrasi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sebaliknya, dalam perspektif masyarakat adat, hubungan dengan tanah tidak selalu dibuktikan melalui dokumen tertulis. Hak atas tanah sering kali diwariskan melalui sejarah lisan, silsilah keluarga, ritus adat, batas-batas tradisional, dan memori kolektif yang hidup selama berabad-abad.

Karena itu, yang berhadapan di Nangahale sesungguhnya bukan hanya dua kelompok yang berbeda kepentingan. Yang berhadapan adalah dua sistem legitimasi yang berbeda: hukum formal negara di satu sisi, serta sejarah dan adat di sisi lainnya.

Persoalan seperti Nangahale sesungguhnya bukan fenomena yang berdiri sendiri. Di berbagai negara bekas koloni, sengketa serupa juga muncul ketika hak-hak masyarakat adat bertemu dengan warisan administrasi kolonial, kepemilikan lembaga keagamaan, dan sistem hukum negara modern. Perbedaan sistem penguasaan tanah yang berkembang pada masa sebelum kolonial, masa kolonial, dan masa negara merdeka sering kali menghasilkan tumpang tindih klaim yang bertahan hingga beberapa generasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Timor-Leste, misalnya, persoalan tanah merupakan salah satu isu paling kompleks sejak negara tersebut merdeka pada tahun 2002. Selama berabad-abad pemerintahan Portugis, banyak tanah dicatat dalam sistem administrasi kolonial yang tidak selalu sejalan dengan sistem kepemilikan adat masyarakat lokal.

Ketika Indonesia mengambil alih Timor Timur pada tahun 1975, berbagai kebijakan pertanahan baru kembali diperkenalkan. Setelah kemerdekaan, muncul persoalan mengenai tanah-tanah yang pernah dimiliki pemerintah kolonial Portugis, pemerintah Indonesia, Gereja Katolik, serta masyarakat adat. Tidak jarang satu bidang tanah memiliki beberapa klaim sekaligus yang masing-masing didasarkan pada dasar hukum dan sejarah yang berbeda.

Hingga kini, pemerintah Timor-Leste masih berupaya menyelesaikan berbagai sengketa tersebut melalui pembentukan kerangka hukum pertanahan yang mengakomodasi hak-hak adat sekaligus kepastian hukum modern.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:31 WITA

Peduli Kota Maumere Indah, Bank NTT Salurkan CSR Rp 172,5 Juta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:43 WITA

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:36 WITA

Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:59 WITA

Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:49 WITA

Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:27 WITA

Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:23 WITA

Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terbaru