Jejak keberadaan mereka juga tersimpan dalam cerita-cerita lokal. Di Kabupaten Sikka, misalnya, terdapat kawasan Geliting yang dalam sejumlah tradisi lisan masyarakat dikaitkan dengan seorang pedagang Tionghoa bernama Go Lie Ting. Nama ini diyakini berkaitan dengan perkembangan kawasan perdagangan lama di wilayah tersebut. Pada masa lalu, Geliting dikenal sebagai salah satu titik penting perdagangan masyarakat pesisir di utara Maumere. Kawasan ini menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok, mulai dari masyarakat lokal, pedagang Tionghoa, hingga pelaut dan pedagang dari Wajo (Sulawesi Selatan) serta Tidore/Tidung (Maluku Utara).
Dari interaksi inilah terbentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan Flores dengan jalur ekonomi antar pulau di kawasan timur Nusantara. Dalam ingatan masyarakat setempat, Pasar Go Lie Ting bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga ruang pertemuan sosial antara masyarakat lokal dan komunitas pendatang.
Dari tempat-tempat seperti inilah hubungan sosial antara komunitas China Flores dan masyarakat setempat tumbuh secara alami selama puluhan tahun. Aktivitas perdagangan tidak hanya menciptakan hubungan ekonomi, tetapi juga melahirkan kedekatan sosial, pertukaran budaya, hingga hubungan kekeluargaan lintas generasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun sejarah China Flores sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah yang lebih besar di kawasan timur Nusantara, terutama hubungan mereka dengan komunitas China Timor. Flores dan Timor sejak lama berada dalam jalur perdagangan serta pengaruh kolonial Portugis yang saling terhubung. Karena itu, pola perkembangan komunitas Tionghoa di kedua wilayah ini memiliki banyak kesamaan. Bahkan dalam perjalanan sejarah sosialnya, tidak sedikit terjadi perkawinan lintas komunitas antara keturunan China Timor dan China Flores, yang semakin memperkuat jejaring kekerabatan dan hubungan sosial di antara keduanya.
Kajian mengenai China Timor pernah diteliti secara mendalam oleh Douglas Kammen bersama Jonathan Chen dalam buku China Timor: Baba, Hakka, and Cantonese in the Making of Timor-Leste, 2022. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa di Timor tidak berkembang sebagai kelompok yang terpisah, melainkan berproses menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat Timor Portugis dalam jangka panjang.
Dalam konteks kawasan yang lebih luas, pola interaksi seperti ini tidak hanya terjadi di Timor saja. Flores, sebagai bagian dari ruang sejarah yang sama dalam perdagangan dan pengaruh kolonial di kawasan tersebut, juga memperlihatkan dinamika yang serupa.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












