Budaya menulis juga akan membuat kualitas diskusi politik menjadi lebih sehat. Politik lokal tidak lagi hanya dipenuhi isu pribadi, konflik kelompok, atau pertarungan jangka pendek, tetapi mulai bergerak ke arah pertukaran ide dan gagasan.
Di banyak negara maju, politisi justeru dikenal karena karya tulis dan gagasannya. Buku, artikel, jurnal, dan esai menjadi bagian penting dari kehidupan politik. Sebab menulis memaksa seseorang berpikir lebih serius, lebih hati-hati, dan lebih bertanggungjawab terhadap apa yang ia ucapkan.
Tradisi itu sebenarnya pernah hidup di Kabupaten Sikka. Salah satu contoh penting adalah almarhum EP da Gomez. Ia dikenal bukan hanya sebagai tokoh publik, tetapi juga sebagai sosok yang meninggalkan begitu banyak karya tulis, baik berupa buku maupun artikel. Pemikirannya tidak berhenti pada zamannya sendiri, tetapi terus dapat dibaca dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tokoh seperti EP da Gomez memperlihatkan bahwa seorang pemimpin daerah tidak harus hanya dikenang karena jabatan atau kekuasaan politiknya, tetapi juga karena warisan intelektualnya. Tulisan membuat gagasan tetap hidup bahkan setelah seseorang tiada.
Karena itu, Bupati dan Wakil Bupati juga tidak cukup hanya membuat program membaca atau gerakan “30 Menit Membaca” sebagai slogan seremonial. Sebagai pemimpin daerah, mereka seharusnya menjadi mentor sekaligus teladan intelektual bagi masyarakatnya sendiri. Seorang pemimpin yang ingin membangun budaya literasi harus terlebih dahulu memperlihatkan budaya membaca dan menulis dalam dirinya sendiri.
Magis Exemplo Quam Verbo
Dalam tradisi Latin dikenal adagium magis exemplo quam verbo, keteladanan jauh lebih berarti daripada kata-kata. Artinya, masyarakat akan lebih mudah mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya daripada sekadar mendengar pidatonya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












