Jika Bupati, Wakil Bupati, Anggota DPRD, Kepala Dinas, Camat, hingga Kepala Desa mulai aktif menulis gagasan, artikel, catatan pembangunan, atau refleksi tentang daerahnya sendiri, maka budaya intelektual itu perlahan akan hidup di tengah masyarakat.
Tetapi jika pemimpin sendiri tidak pernah membaca, tidak pernah menulis, dan tidak pernah meninggalkan gagasan tertulis, maka sulit berharap masyarakat akan tumbuh menjadi masyarakat literer.
Sayangnya, budaya itu kini semakin jarang terlihat. Politik lokal terlalu sering bergerak tanpa tradisi intelektual yang kuat. Akibatnya, pembangunan sering berjalan tanpa arah pemikiran jangka panjang.
Karena itu, DPRD Sikka sebenarnya bisa menjadi pelopor budaya politik baru di NTT. Setiap Anggota DPRD seyogyanya menulis minimal satu karya setiap tahun tentang isu daerah, hasil reses, problem masyarakat, atau gagasan pembangunan. Tulisan itu dapat dipublikasikan melalui website DPRD, media lokal, atau dibukukan sebagai arsip pemikiran daerah.
Bayangkan jika setiap periode lahir puluhan tulisan dari para wakil rakyat tentang Kabupaten Sikka dan Flores. Dalam jangka panjang, daerah ini tidak hanya memiliki arsip politik, tetapi juga memiliki warisan intelektual.
Seorang politisi mungkin bisa dikenang karena jabatannya. Tetapi seorang pemimpin yang menulis akan dikenang karena pikirannya. Dan sebuah daerah akan jauh lebih kuat jika wakil rakyatnya tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu meninggalkan gagasan yang tertulis untuk generasi berikutnya.***
Ditulis oleh Fransisco Soarez Pati, diaspora Sikka, tinggal di Jakarta





Ikuti Kami
Subscribe












