Jembatan Gantung dan Nasib Miris Transportasi Korobhera

0
59

Sebuah jembatan gantung membentang di atas Kali Arewawo di Kecamatan Mego Kabupaten Sikka. Panjangnya kurang lebih 60 meter. Dari atas jembatan gantung itu bisa dilihat mirisnya nasib akses transportasi ke Desa Korobhera.

Jembatan gantung ini dibangun pada tahun 2012 dengan sumber dana dari Bantuan PNPM Mandiri Pedesaan. Tidak ada informasi yang pasti berapa anggaran yang dihabiskan untuk konstruksi tersebut.

Kehadiran jembatan gantung, dirasakan sangat penting sekali. Terlebih lagi ketika Kali Arewawo tidak bisa dilewati kendaraan bermotor akibat banjir bandang. Dalam kondisi banjir bandang, praktis Desa Korobhera terisolir. Harapan satu-satu 1.000 lebih warga desa tersebut hanya pada jembatan gantung.

Seperti yang terlihat pada Senin (30/3), Kali Arawawo tidak bisa dilintasi, akibat debit air yang tinggi. Dua mobil yang hendak menuju ke Korobhera, tidak bisa menyeberang. Akibatnya semua penumpang turun, menyeberangi jembatan gantung, dan menggunakan jasa ojek hingga ke tempat tujuan.

Melewati jembatan gantung, sepertinya sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat di desa ini. Pejalan kaki menikmati penyeberangan di atas jembatan gantung. Tidak saja pejalan kaki, kendaraan roda dua pun dengan gampang melewati jembatan gantung.

Konstruksi jembatan gantung ini dari besi baja. Sarana untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor terbuat dari balok dan papan yang dipasang melintang selebar kurang lebih 1 meter. Banyak papan dan balok yang tampak sudah rapuh. Di beberapa bagian malah kelihatan sudah bolong. Tidak disadari, maut sedang mengancam para pelintas jalan.

Menembus Desa Korobhera, memang tidak mudah. Selepas dari jembatan gantung, pejalan kaki dihadapkan dengan ruas jalan yang buruk. Ruas jalan masih dengan jalan tanah, kecuali di beberapa bagian terlihat sudah ada jalan rabat. Itu pun jalan rabat sudah banyak yang rusak.

Tiga kilometer ke Kantor Desa Korobhera, melewati jalan tanah dan jalan rabat yang rusak, butuh waktu 20-25 menit. Pengendara roda dua harus ekstra hati-hati. Pemandangan laut lepas di bagian utara, menjadi hiburan tersendiri.

Korobhera bukan tempat terakhir di wilayah yang terisolir ini. Jalur transportasi dari Korobhera, menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Lela. Struktur jalannya pun adalah jalan tanah dan jalan rabat. Sebuah kondisi mengenaskan, setidaknya butuh perhatian serius pemerintah.*** (vicky da gomez)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini