Maumere-SuaraSikka.com: Sebuah dokumen hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD TC Hillers Maumere, bocor ke media sosial dan kini menjadi viral. Belum ada satu pihak pun yang bertanggungjawab atas bocornya surat ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus yang dikonfirmasi terkait hal ini menjawab singkat dan diplomatis.
“Saya tidak berkomentar,” jawab pesan singkat Petrus Herlemus yang juga adalah Sekretaris Satgas Covid Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Dinas Kesehatan Sikka Clara Francis yang ditanya tentang dokumen rahasia yang bocor ke publik, mengaku tidak tahu menahu. Nama mantan Direktir RSUD TC Hillers ini disebut dalam surat itu sebagai pihak yang mengirimkan surat kepada Dinas Kesehatan NTT.
Sementara itu Ketua Satgas Covid Sikka yang juga Penjabat Sekda Sikka Wilhelmus Sirilus yang dihubungi melalui telepon selular, belum bisa dihubungi.
Surat yang bocor ini merupakan Hasil Pemeriksaan Laboratorium Instalasi Laboratorium Klinik dan Pelayanan Darah RSUD TC Hillers. Pemeriksaan dilakukan pada Selasa (7/4) kemarin. Surat hasil pemeriksaan ditandatangani penanggungjawab Dokter Kurniawan N MSc Sp PK dan pemeriksa Gabriel Calvo Gara S.S.T.
Belum diketahui, apakah ini hasil pemeriksaan terhadap ABK Lambelu dan petugas kantin di kapal itu, yang disebut-sebut terinfeksi terjangkit Covid 19, sebagaimana surat resmi Bupati Sikka. Ataukah hasil pemeriksaan dari 19 sampel yang lain.
Pada surat hasil pemeriksaan ini, data tentang nama, umur, nomor handphone dan alamat terperiksa, ditutup dengan tinta berwarna merah, sepertinya tinta spidol. Sulit mendeteksi data-data tersebut.
Ada dua catatan pada hasil pemeriksaan, yakni hasil tes ini tidak dapat menegakkan diagnosis infeksi Covid 19, dan hasil tes non reaktif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi.
Untuk catatan pertama, saran terhadap hasil rapid test pertama, ditulis non reaktif, lakukan karantina rumah mandiri selama 14 hari, PHBS, physical distancing. Dan saran terhadap hasil rapid test kedua yaitu non reaktif, yakni pasien tidak terpapar infeksi SARS-COV-2.
Sementara untuk catatan kedua, saran terhadap hasil rapid test pertama dan kedua, ditulis, reaktif, OTG dan ODP, isolasi di rumah dan PHBS, lalu PDP, gejala ringan isolasi di rumah, gejala sedang isolasi di rumah sakit darurat, dan gejala berat isolasi di rumah sakit rujukan. Dilanjutkan dengan tes konfirmasi PCR.
Hingga saat ini belum diketahui siapa yang bertanggungjawab membocorkan dokumen rahasia hasil pemeriksaan. Anehnya, dokumen ini sempat dipublikasikan oleh salah satu media yang terbit di luar Propinsi NTT.***















