Tarik Ikan Paus 1,5 Ton, Aco Terpaksa Berhenti 4 Kali

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 3 Oktober 2020 - 19:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 32 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aco, nelayan penemu paus pilot yang mati di perairan Nangahure

Aco, nelayan penemu paus pilot yang mati di perairan Nangahure

Ikan paus jenis sirip pendek, menjadi cerita seru masyarakat Kota Maumere Kabupaten Sikka pada dua hari ini, Jumat-Sabtu (2-3/10). Bangkai paus sudah dikuburkan, tapi kisahnya belum terkubur.

Paus terdampar di Wuring, begitu kisah awalnya. Orang ramai pun mendatangi Wuring Leko di Kelurahan Wolomarang Kecamatan Alok Barat, di sebuah wilayah yang terkenal sebagai kampung tradisionil.

Tarik Ikan Paus 1,5 Ton, Aco Terpaksa Berhenti 4 Kali

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ikan dengan panjang 3,40 meter itu terkapar di pantai. Sudah tidak ada napas lagi. “Raksasa” berwarna hitam agak coklat itu hanya menyisakan kerumunan tontonan di tengah imbauan protokoler kesehatan.

Ternyata paus pilot bukan terdampar sebagaimana cerita awal. Adalah Aco, nelayan yang berdomisili di Wuring Leko yang membawanya tubuh seberat 1,5 ton itu ke Wuring Leko.

Setiap hari nelayan 40 tahun ini wajib mencari ikan di laut. Profesi ini sudah digeluti sekian puluh tahun. Nelayan, menjadi profesi andalan bagi laki-laki beranak 5 ini. Seluruh kebutuhan rumah tangganya dicukupkan dari hasil melaut.

Jumat (2/10), sekitar jam 12.00 Wita, seperti biasa, Aco turun ke laut. Dia mengitari Laut Flores yang seidkit bergelombang, dengan perahu motor bermesin. Perairan Nangahure dan sekitarnya, menjadi landang pria ini mencari nafkah.

Tarik Ikan Paus 1,5 Ton, Aco Terpaksa Berhenti 4 Kali
Persiapan penguburan bangkai ikan paus di Urung Pigang

Dua jam sudah Aco belum beruntung. Perahunya masih kosong. Bau ikan segar masih belum tercium pada perahu yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri.

Di sebuah rumpon, Aco melihat sesuatu yang muncul di permukaan laut. Dia meyakini sekali sesuatu itu adalah sirip dari seekor ikan besar. Sebagai nelayan yang sudah puluhan tahun, Aco yakin itu adalah sirip ikan paus.

Baca Juga :  Meski Masa Tanggap Darurat, Sekolah di Sikka Mulai Tatap Muka, Prioritaskan Keselamatan dan Fokus Hilangkan Trauma

Dia pun menanti peristiwa langka: semburan paus. Menunggu beberapa menit, ternyata tidak ada semburan sebagaimana paus-paus bermain di atas permukaan.

Aco merasa ada yang aneh. Sirip yang dia lihat, ternyata tidak bergerak. Nelayan ini memberanikan diri untuk mendekat dari jarak 2 meter. Pikiran dia sederhana, dari jarak itu, paus akan merasa terganggu, dan dalam waktu sekian detik pasti langsung menghilang.

Ternyata tidak. Sirip tetap di tempat, dipukul “mesra” gelombang. Aco meyakini sekali, paus itu sudah mati. Dia pun mendekat ke arah sirip. Aco tidak salah. Paus sudah tidak bernyawa.

Pikirannya mulai kacau. Dua jam tidak dapat ikan, mungkin peristiwa ini adalah rezeki baginya. Aco mulai membayangkan jika paus itu dipotong-potong, ada yang dijual, ada juga yang dibagikan kepada tetangga dan keluarga. Setidaknya dia bisa mendapatkan uang untuk belanja kebutuhan rumah tangga.

Pikiran Aco akhirnya final. Dia mulai memutar otak untuk membawa pulang paus seberat 1,5 ton itu. Dia menempelkan perahu ke tubuh paus. Lalu “raksasa” itu diikat merapat ke perahunya.

Perahu Aco mulai melaju ke darat. Jalannya pelan dan lambat karena membawa serta beban yang sangat besar. Gelombang yang tidak terlalu besar menjadi tantangan tersendiri.

Aco sangat berhati-hati agar tali pengikat paus tidak terputus. Dia juga berupaya agar perahu yang dikendalikan tetap dalam kondisi seimbang, dan terus melaju menuju tujuan.

Baca Juga :  BNPB Komitmen Percepat Proses Rehab-Rekon Pascagempa Bumi Tektonik di Flores, Rumah Rusak Mencapai 77.912 Unit

Tidak gampang upaya ini. Apalagi mesin perahu mulai onar karena tidak sanggup mengangkut beban. Paling tidak empat kali Aco harus berhenti, sekedar untuk mendinginkan mesin perahu yang terus mengepulkan asap.

Aco pun tiba bersama paus di Wuring Leko sekitar 19.00 Wita. Artinya selama 5 jam pria ini berjuang “mengamankan” paus hingga ke darat. Padalah, jika dalam kondisi normal saja, biasanya dia hanya butuh waktu tempuh 1,5 jam dari rumpon menuju tambatan perahu di Wuring Leko.

Paus tiba di daratan, serentak warga mulai heboh. Cerita pun berkembang dari mulut ke mulut. Sementara Aco masih dengan pikiran final: dipotong-potong dan dibagi-bagi.

Niat Aco akhirnya tidak tersampaikan. Beberapa keluarga dan sejumlah nelayan lain, mendorong Aco untuk menyampaikan hal ini kepada institusi yang berwenang.

Aco mengalah. Dia lalu menghubungi orang-orang yang sekiranya bisa ikut terlibat memberikan solusi atas paus yang sudah meninggal itu. Dalam sekejap, Polair NTT turun ke lokasi, menyusul BKSDA Maumere ikut merapat, demikian juga Lanal Maumere dan Dinas Kelautan dan Perikanan Sikka.

Jadilah paus pilot sirip pendek ini tidak menjadi milik Aco semata. Giliran sejumlah institusi berwenang berembuk untuk menguburkan paus.

Di Urung Pigang Kelurahan Wailiti, di lokasi penguburan paus, Aco hadir di situ. Dia menyaksikan seluruh proses dengan kekaguman.

Sampai dengan proses selesai, Aco pun pulang. Dia kembali ke rumahnya, untuk seperti biasa, bergelut dan bergulat lagi dengan Laut Flores.*** (vicky da gomez)

Berita Terkait

Meski Masa Tanggap Darurat, Sekolah di Sikka Mulai Tatap Muka, Prioritaskan Keselamatan dan Fokus Hilangkan Trauma
Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Sikka Diperpanjang Hingga 11 September 2026
Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT
Ruang Tunggu Ambruk, 3 Orang Meninggal Dunia, PMKRI Maumere Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurens Say
Rehab-Rekon Pascagempa Bumi di Sikka, Golkar Serukan Pakai Bantuan Presiden Rp 20 Miliar, BTT Jangan Diganggu
Sikka Fokus 4 Pilar Capai Target Pajak Daerah
Wali Kota Kupang Serahkan Bantuan Rp 200 Juta dan 500 Paket Sembako untuk Korban Gempa di Sikka
Dana Desa di Sikka Anjlok Setengah Bagian, Pelayanan Tidak Optimal

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:42 WITA

Meski Masa Tanggap Darurat, Sekolah di Sikka Mulai Tatap Muka, Prioritaskan Keselamatan dan Fokus Hilangkan Trauma

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:13 WITA

Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Sikka Diperpanjang Hingga 11 September 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:41 WITA

Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:10 WITA

Ruang Tunggu Ambruk, 3 Orang Meninggal Dunia, PMKRI Maumere Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurens Say

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:13 WITA

Rehab-Rekon Pascagempa Bumi di Sikka, Golkar Serukan Pakai Bantuan Presiden Rp 20 Miliar, BTT Jangan Diganggu

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:56 WITA

Wali Kota Kupang Serahkan Bantuan Rp 200 Juta dan 500 Paket Sembako untuk Korban Gempa di Sikka

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:37 WITA

Dana Desa di Sikka Anjlok Setengah Bagian, Pelayanan Tidak Optimal

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:01 WITA

BNPB Komitmen Percepat Proses Rehab-Rekon Pascagempa Bumi Tektonik di Flores, Rumah Rusak Mencapai 77.912 Unit

Berita Terbaru

Sebuah rumah warga di Kecamatan Palue Kabupaten Sikka rusak berat diguncang gempa bumi tektonik Sabtu (15/8) lalu

Bencana Alam

Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 29 Agu 2026 - 21:41 WITA