Stigma negatif dan ketakutan masih sering dialami oleh sahabat penderita HIV AIDS. Angka kematian dan penularan yang masih terhitung tinggi menimbulkan keprihatinan tersendiri.
Masih banyak yang beranggapan jika penyakit ini tak bisa diobati. Padahal dengan pengobatan teratur seumur hidupnya, pasien HIV AIDS bisa hidup dan memiliki keluarga seperti orang normal lainnya.
Bahkan mereka yang memiliki jumlah virus yang sedikit dalam tubuhnya, bisa tidak menularkan kepada orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak heran jika badan kesehatan dunia dan seluruh negara memiliki fokus khusus terhadap teman-teman dengan HIV AIDS. Semangat mencegah penularan dan memperbaiki kualitas hidup orang dengan HIV AIDS menjadi tema utama Hari AIDS Sedunia kali ini.
Oleh karena itu, beberapa lembaga penelitian pun kerap dilibatkan untuk membantu kawan-kawan dengan HIV AIDS.
Satu tahun empat bulan, teman-teman INARESPOND telah menemani pemilik pita merah di Sikka.
Tim Peneliti HIV AIDS dari Balitbangkes Kementerian Kesehatan dan RSUD TC Hillers ini bertugas menemani penyandang HIV di Sikka selama tiga tahun.
Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi terbaru kondisi pasien HIV ini juga merupakan buah kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Departemen Kesehatan Amerika.
Melalui kegiatan ini diharapkan diperoleh data riil pasien HIV di lapangan, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam pengelolaan HIV AIDS di masa depan.
Di bawah pimpinan dr. Asep Purnama, Sp.Pd dan tim peneliti yang kece abis, pemeriksaan laboratorium rutin juga menjadi keuntungan tersendiri bagi peserta penelitian.
Melalui penelitian ini, peserta penelitian mendapatkan fasilitas pemeriksaan jumlah virus HIV dan CD4 secara rutin.
Pemeriksaan jumlah virus HIV merupakan fasilitas yang terhitung baru bagi masyarakat di Maumere. Dengan pemeriksaan virus, pasien HIV AIDS dapat lebih pasti mengetahui jumlah virus dalam tubuhnya.
Hal ini sangat menguntungkan bagi pasien, dikarenakan kemanjuran pengobatan bisa langsung terlihat melalui pemeriksaan laboratorium ini.

Hingga saat ini Tim INARSPOND Maumere telah menemani 180 pasien HIV AIDS di Maumere. Cukup memprihatinkan bahwa masih banyak orang yang enggan melakukan tes HIV AIDS.
Padahal organisasi kesehatan dunia menganjurkan agar semua orang setidaknya melakukan tes HIV sekali dalam hidupnya.
Pemeriksaan HIV bahkan bisa dilakukan berulang kali bagi mereka yang memiliki perilaku hidup berisiko seperti seks bebas dan penggunaan narkoba.
Ditemukan dan diobatinya penyakit ini lebih awal, terbukti menurunkan angka kematian dan penderitaan pada pasien, dibandingkan dengan mereka yang terlambat mengetahui status HIV-nya.
Tim Peneliti juga menemukan masih banyak pasien HIV AIDS di Maumere yang tidak rutin berobat. Ada yang meminum obatnya “bolong-bolong”, “putus-putus”, bahkan tidak minum sama sekali. Beberapa beralasan takut efek samping, dan lebih mengandalkan jamu atau obat kampung.
Padahal, menurut data yang diamati oleh Tim Peneliti hingga saat ini, menunjukkan bahwa mereka yang rutin berobat memiliki jumlah virus yang sangat sedikit dalam tubuhnya. Bahkan sebaliknya, mereka yang “putus-putus” minum obat, memiliki jumlah virus yang lebih besar dan kondisi tubuh yang tidak haik.
Hal ini sesuai dengan data-data sebelumnya di berbagai negara, yang mengatakan bahwa keteraturan minum obat berpengaruh pada jumlah virus dan kondisi tubuh pasien HIV AIDS.
Tim juga menemukan bahwa ketakutan munculnya efek samping pada konsumsi jangka panjang obat HIV di Maumere, tidak terbukti secara signifikan.
Bahkan ada pasien yang minum obat ini selama 9 tahun, hingga menikah dan punya anak. Dia masih minum obatnya secara rutin, dan anak-anaknya tidak tertular HIV hingga sekarang.
Substitusi obat HIV dengan obat lain (jamu, obat kampung, dan sebagainya), juga belum bisa membuktikan adanya perbaikan pada pasien HIV AIDS.
Hal lain yang dipantau oleh Tim Peneliti adalah kadar CD4 dalam darah pasien HIV AIDS. CD4 adalah parameter yang digunakan untuk menilai fungsi imunitas (kekebalan tubuh) seseorang.
Semakin tinggi CD4-nya (dalam range tertentu) semakin kuat tubuhnya melawan infeksi. Sebaliknya, semakin rendah nilai CD4, semakin mudah seseorang menjadi sakit.
Angka CD4 yang tinggi ini juga ditemukan pada pasien HIV AIDS yang berobat teratur. Mereka yang tidak tepat dalam minum obat HIV memiliki nilai CD4 yang lebih rendah.
Kedua hasil pemeriksaan di atas, memiliki korelasi yang kuat pula terhadap kondisi tubuh pasien HIV AIDS secara kasat mata.
Mereka yang memiliki jumlah virus yang banyak dan nilai CD4 yang rendah, cenderung mengalami berbagai penyakit hingga dirawat di rumah sakit. Beberapa pasien dengan nilai CD4 yang terlalu rendah berisiko mengalami infeksi berat seperi radang paru, tuberculosis, atau radang di otak.
Sedangkan pada mereka yang memiliki jumlah virus yang sedikit dan nilai CD4 yang tinggi tampak sehat dan bugar seperti orang normal kebanyakan. Mereka pun cenderung tidak menularkan virus kepada orang lain dan anaknya.
Dalam pertengahan jalan ini, Tim melihat bahwa keteraturan dan kepatuhan minum obat merupakan faktor utama dalam perbaikan serta keberlangsungan hidup pasien HIV AIDS.
Diketahuinya status HIV dan pengobatan lebih awal juga terbukti mengurangi beban penderitaan pada pasien HIV AIDS.
Beberapa kasus meninggal pada pasien HIV AIDS seringkali ditunjukkan oleh rendahnya nilai CD4 dan banyaknya jumlah virus HIV yang diawali dari keterlambatan dan ketidakpatuhan dalam pengobatan.
Oleh karena itu, edukasi dan dukungan seluruh komponen dibutuhkan agar pasien HIV AIDS dapat berobat secara rutin dan teratur dalam mengonsumsi obat.***
*) ditulis oleh dr Andre Mahardika Harsono, Asisten Penelitian INARESPOND di RSUD TC Hillers Maumere Kabupaten Sikka Propinsi NTT















