


KAPAL Ratu Rosari bukan sekadar kapal yang pernah melintasi Laut Flores. Bagi banyak orang di Flores dan Nusa Tenggara, kapal ini merupakan bagian dari sejarah perjalanan, pendidikan, perdagangan, pelayanan sosial, dan kehidupan masyarakat pada zamannya.
Pada masa ketika transportasi antarpulau masih sangat terbatas, Ratu Rosari menjadi salah satu penghubung penting antara Flores, Timor, Jawa, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Kapal ini membawa manusia, barang, harapan, dan cerita dari satu pulau ke pulau lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi generasi yang pernah menggunakannya, nama Kapal Ratu tidak hanya mengingatkan pada sebuah alat transportasi, tetapi juga pada sebuah zaman ketika laut merupakan jalan utama menuju dunia yang lebih luas.
Dari Hamburg untuk Nusa Tenggara
Ratu Rosari lahir dalam konteks pelayanan misi Katolik di kawasan Nusa Tenggara. Kapal ini dibangun di Hamburg, Jerman, dan diluncurkan pada 27 Juni 1964 oleh Mgr Gabriel Manek, SVD.
Setelah menyelesaikan perjalanan menuju Indonesia, kapal ini tiba di Surabaya pada akhir Agustus 1964 dan mulai beroperasi pada September tahun yang sama.
Rute pelayarannya menghubungkan Surabaya-Flores-Timor. Kehadirannya menjadi sangat penting karena pada masa itu perjalanan laut merupakan salah satu sarana utama untuk menghubungkan masyarakat di pulau-pulau Nusa Tenggara dengan pusat-pusat perdagangan, pendidikan, pemerintahan, dan pelayanan di Jawa.
Bukan Sekedar Kapal Gereja
Walaupun lahir dari kebutuhan misi SVD, fungsi Ratu Rosari jauh lebih luas. Kapal ini tidak saja mengangkut para misionaris, tetapi juga membawa pelajar, mahasiswa, pedagang, tukang bangunan, orang sakit, pegawai pemerintah, bahan bangunan, serta berbagai kebutuhan masyarakat.


Ikuti Kami
Subscribe












