


Maumere-SuaraSikka.com: Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere mendesak dilakukan audit forensik konstruksi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap ambruknya ruang tunggu Pelabuhan Laurentius Say Maumere. Bangunan ruang tunggu tersebut ambruk saat terjadi gempa bumi tektonik. Tiga orang meninggal dunia akibat ditindih bangunan yang ambruk.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Maumere Johan De Brito Papa Naga menegaskan desakan tersebut tidak berarti PMKRI Maumere sedang memvonis pihak tertentu. PMKRI Maumere menilai gempa merupakan faktor yang harus diperhitungkan secara teknis, tetapi tidak boleh serta-merta dijadikan satu-satunya kesimpulan sebelum kualitas desain, material, pelaksanaan konstruksi, pengawasan dan pemeliharaan diperiksa secara independen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami tidak ingin mendahului proses hukum. Tetapi kami juga tidak menerima jika seluruh persoalan berhenti pada alasan bahwa bangunan ambruk karena gempa. Gempa adalah fakta bencana, sementara kualitas konstruksi adalah fakta teknis yang dapat dan harus diperiksa,” ujar dia.

Menurut Rito Naga, apabila seluruh proses pembangunan telah memenuhi standar, hasil pemeriksaan harus disampaikan secara transparan kepada masyarakat. Sebaliknya, apabila ditemukan ketidaksesuaian atau kelalaian, harus ada pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum.
Periksa Konstruksi, Telusuri Anggaran
Sementara itu Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Maumere Melki Bata meminta pemeriksaan tidak berhenti pada puing bangunan, tetapi juga menelusuri seluruh dokumen pembangunan dan penggunaan anggaran.
“Puing bangunan hanya menunjukkan akibat. Pemeriksaan harus mencari penyebab. Yang harus diperiksa bukan hanya beton dan besi yang roboh, tetapi juga dokumen yang menjelaskan bagaimana bangunan itu dirancang, dibangun, diawasi dan dibayar,” ujar dia.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












