Karena itu, Ratu Rosari menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kapal tersebut ikut membuka ruang mobilitas bagi orang-orang Flores yang hendak mencari pendidikan, berdagang, bekerja, berobat, atau melakukan perjalanan ke daerah lain.
Dalam konteks pembangunan Nusa Tenggara pada masa itu, transportasi laut bukan hanya soal perpindahan manusia. Ia juga berarti perpindahan pengetahuan, barang, tenaga, dan kesempatan.
Ratu Rosari di Mata Flores
Di Flores, kapal ini lebih dikenal dengan sebutan Kapal Ratu. Salah satu tempat yang memiliki kenangan kuat terhadap pelayaran Ratu Rosari adalah kawasan Maumere. Kapal ini disebut sering singgah di Sadang Bui, kawasan yang kini kemudian dikenal sebagai Pelabuhan Laurens Say.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi masyarakat yang hidup pada masa itu, kedatangan Kapal Ratu merupakan sebuah peristiwa. Penumpang naik dan turun, barang dibongkar dan dimuat, sementara keluarga menunggu kedatangan orang-orang yang datang dari jauh.
Kapal itu menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Flores. Dia bukan hanya membawa orang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, tetapi juga menjadi simbol perjalanan menuju kehidupan yang lebih luas.
Gereja Terapung
Salah satu keunikan Ratu Rosari adalah keberadaan ruang ibadah di dalam kapal. Karena memiliki kapel, altar, dan fasilitas untuk kegiatan keagamaan, kapal ini kemudian dikenal sebagai “gereja terapung.”


Ikuti Kami
Subscribe












