


Maumere-SuaraSikka.com: Aktivitas seismik di wilayah Nusa Tenggara Timur tengah menjadi perhatian serius dunia geologi. Pasca gempa utama berkekuatan 7,7 Magnitudo, tercatat fenomena alam yang luar biasa dan langka. Gempa susulan Flores nyaris 10.000 kali.
Hingga Minggu (30/8) pukul 11.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi sebanyak 9.870 gempa susulan di wilayah Flores. Rangkaian gempa ini memiliki rentang magnitudo yang sangat lebar, mulai dari skala terkecil 1,0M hingga yang terbesar mencapai 6,2M. Dari total ribuan kejadian tersebut, sebanyak 35 gempa tercatat memiliki magnitudo minimal 5,0, dan setidaknya 156 guncangan dirasakan langsung masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Analisis Tektonik: Mengapa Jumlahnya Begitu Masif?
Tingginya frekuensi gempa ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Doktor Daryono selaku Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) memberikan perspektif ilmiah. Dia menjelaskan bahwa kuantitas gempa tersebut mencerminkan proses pelepasan energi tegangan sisa (residual stress) yang sangat aktif setelah gempa utama terjadi.
Berdasarkan data spasial BMKG, mayoritas episenter gempa susulan terkonsentrasi di sepanjang zona Flores Backarc Thrust atau Sesar Naik Belakang Busur Flores. Sebaran titik gempa ini membentang luas dari arah barat ke timur, meliputi perairan Laut Flores hingga merambat ke daratan Pulau Flores bagian tengah dan barat.
Salah satu faktor utama mengapa masyarakat sering merasakan getaran adalah karena mayoritas gempa terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, yakni di bawah 60 kilometer. Kedalaman yang minim ini membuat energi gempa lebih mudah merambat ke permukaan dan dirasakan oleh penduduk meskipun magnitudonya berada di kisaran kecil hingga sedang.
Fenomena Off-Fault Seismicity dan Sesar yang ‘Terbangun’
Hal yang paling menarik dari rangkaian bencana ini adalah temuan adanya aktivitas pada sumber sesar lain. Daryono menyoroti fenomena off-fault seismicity. Fenomena ini terjadi ketika transfer tegangan statis dari gempa utama memicu aktivitas pada sesar-sesar di sekitarnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












