Catatan Akhir Tahun (1): Selamat Ultah Corona!

0
372
Catatan Akhir Tahun (1): Selamat Ultah Corona!
Tim Medis usai melakukan rapid test terhadap ABK KM Lambelu, awal April 2020 lalu

Tinggal beberapa hari lagi, genap sudah 1 tahun, dunia bergelut dengan virus corona. Seandainya berwujud manusia, “bayi” corona kini mungkin sedang belajar merangkak lebih cepat.

“Benda deo” ini pertama kali diidentifikasi dari sekelompok kasus pneumonia di Kota Wuhan, Cina. Kasus ini dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Desember 2019.

Virus itu menyebar cepat, hingga pada Januari 2020 mulai merambah 31 propinsi di Negeri Tirai Bambu.

Tidak berhenti di situ, corona mulai menggerayangi Thailand, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, hingga masuk Indonesia.

Kasus virus corona di Indonesia terungkap usai ada laporan warga negara Jepang dinyatakan positif. Warga Jepang itu baru saja berkunjung ke Indonesia.

Pemerintah langsung menelusuri siapa saja yang melakukan kontak dengan pasien tersebut. Dua orang terdeteksi, seorang ibu berusia 64 tahun, dan putrinya 31 tahun.

Tidak butuh waktu lama, corona mulai menyerang isi perut Indonesia, tidak terkecuali NTT. Di NTT, hingga 26 Desember 2020, tercatat 2.041 terkonfirmasi positip, dengan 36 orang meninggal.

Virus tidak kelihatan ini mulai mengendus Kabupaten Sikka pada 15 Maret 2020. Geliatnya merebak ketika satu pasangan suami istri yang baru datang dari Inggris, dirujuk dari RSU Lembata ke RSUD TC Hillers Maumere. Hanya operasi usus buntu, tapi karena mereka 15 tahun menetap di Inggris, bayangan ketakutan tidak dapat diabaikan.

Lambelu, awal April 2020, berbuntut cerita panjang corona hingga kini di negeri Nyiur Melambai Sikka. Sampai dengan 26 Desember 2020, tercatat sudah 103 terkonfirmasi positip, di mana 1 meninggal dan 1 probabel meninggal. Untuk sementara Lambelu mensuplai paling banyak: 27 orang.

Sama seperti di belahan dunia lain, petinggi di Kabupaten Sikka harus putar otak dan kerja ekstra. Dari preventif sampai kuratif, termasuk promotif. Kantong Sikka harus keluar Rp 54 miliar lebih untuk kerja besar ini. Ini mungkin anggaran terbesar dari semua kabupaten/kota di NTT.

Tidak gampang menggelontorkan Rp 54 miliar lebih untuk kabupaten yang PAD-nya hanya Rp 100 miliar. “Baku debat” di paripurna tidak terelakkan, demi Sikka bebas virus corona. Rasionalisasi anggaran menjadi pilihan. Praktis, sejumlah anggaran pembangunan dialihkan untuk program kegiatan melawan corona.

Dinas Kesehatan menjadi garda terdepan untuk kerja besar ini. Sejak Maret hingga Desember, 10 bulan penuh, seluruh fokus kerja ditujukan untuk menghalau corona dari Bumi Nian Sikka.

Sejalan dengan itu, pemerintah daerah setempat mulai mengeluarkan jurus-jurus strategis. Pelbagai kebijakan diterbitkan untuk menghadang laju corona.

Lokasi karantina terpusat disiapkan. Gedung SCC yang mestinya menggenjot peningkatan PAD, dikorbankan sebagai lokasi karantina terpusat. Tidak heran, PAD dari pos ini menurun drastis.

Bahkan Rumah Jabatan Bupati Sikka di Jalan Eltari dijadikan salah satu lokasi karantina terpusat. Rumah yang sejatinya menjadi lambang dan gengsi kewibawaan daerah, hingga kini hanya jadi hiasan. Untunglah belum dijadikan tempat mesum.

Arus keluar masuk pelaku perjalanan dipantau ketat. Sejumlah petugas medis “berkantor” di Bandara Frans Seda. Personil Dinas Perhubungan bersama TNI Polri disiagakan 24 jam di tiga titik perbatasan kabupaten. Pelabuhan Laurens Say lengang sementara, menyusul larangan pemerintah daerah setempat untuk aktifitas pelayaran kapal-kapal Pelni.

Sekolah-sekolah diliburkan jika zona merah. Dan kemudian diaktifkan lagi kalau sudah kembali zona hijau. Seperti buka tutup, begitu sudah nasib pendidikan dan masa depan anak bangsa di daerah ini. Guru, murid, orang tua, ikuti saja “selera” penentu kebijakan.

Ada kebijakan pengetatan aktifitas dan pergerakan masyarakat, dibikin ala Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Eh, kemudian diralat, alasannya karena salah ketik. Maksudnya pengetatan kegiatan masyarakat, disingkat PKM. Ternyata, ini sebuah model kebijakan yang tidak diatur dalam Revisi 5.

PKM ala Sikka seperti angat-angat tahi ayam. Aturan mengikuti kepentingan-kepentingan tertentu. Pembatasan aktifitas sampai jam 18.00 Wita, seolah-olah corona hanya bergerilia pada malam hari saja.

Para pejuang rupiah yang mengais rezeki pada malam hari, akhirnya urut dada. Pendapatan berkurang karena “tergeletak” lesuh dihajar kebijakan. Hanya satu kalimat yang menghibur mereka: siapa mau help?

Masyarakat terus-menerus diimbau tegakkan protokoler kesehatan, sementara ada saja yang dengan tahu dan mau membentuk kerumunan melalui kegiatan-kegiatan yang tidak populis.

Konon kabar Bupati Sikka pernah ditegur seorang polisi, lantaran tidak mengenakan masker. Cerita ini kemudian dibantah oleh Bupati Sikka, termasuk si polisi.

Kasus lain, baru-baru ini polisi membubarkan paksa sebuah kegiatan tanpa izin. Ratusan orang berkumpul di ruangan terbatas, dengan tidak menerapkan protokol kesehatan. Bupati Sikka baru saja meninggalkan lokasi kegiatan. Aneh bin ajaib, Bupati menghadiri kegiatan tanpa izin, dan seolah membiarkan pelanggaran terhadap protokol kesehatan.

Pencegahan corona juga dibendung dari sisi hukum. Sebuah peraturan bupati diterbitkan, Perbup Sikka Nomor 28 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokoler Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Covid di Kabupaten Sikka.

Nomenklaturnya keren. Implementasinya, bisa jadi belum tentu keren. Sejak Perbup 28 diterbitkan, praktis aktifitas penegakkan regulasi ini terkesan hidup enggan mati tak mau. Awal-awalnya gencar, belakangan mulai kendor. Entahlah apa kendalanya: semangat, biaya operasional, atau ada hal lain. Padahal corona tidak pernah berhenti menebar ancaman.

Penanganan virus corona di Kabupaten Sikka menjadi perhatian dan sorotan publik. Berbagai kebijakan penanganan, baik dari pemerintah maupun Gugus Tugas Pencegahan Covid-19, sering mendapat respons keras.

Misalnya, pada awalnya pasien positip dirawat di ruang isolasi RSUD TC Hillers. Belakangan, meski ruang isolasi RSUD TC Hillers masih ada kamar kosong, tetapi dirawat di ruang isolasi Dinkes. Terakhir ada juga yang dirawat di Puskesmas, hingga Rumah Stunting pun dimanfaatkan. Kesannya, model penanganan belum berlandaskan pada standar yang sama.

Lain lagi tentang swab dan karantina. Puluhan orang yang diketahui kontak erat, biasanya diambil swab. Sampel swab dikirim ke Kupang. Hasil swab belum keluar, pelaku kontak erat dibiarkan bebas berada di tengah masyarakat. Praktis, mereka berkontak erat dengan orang lain. Bayangkan jika hasil swab keluar, dan dinyatakan positip.

Dan benar, terbukti seorang kontak erat pernah ikut kegiatan pesta di kabupaten tetangga, di saat sampel swab sedang antri di laboratorium. Tidak lama kemudian hasil swab keluar, dan dia dinyatakan terkonfirmasi positip di tengah kegembiraan pesta. Oh Tuhan, sudah berapa banyak yang kontak erat dengan orang ini.

Warga karantina yang bebas virus corona dipulangkan ke rumah, beberapa waktu lalu

Memang baiknya jika sebelum hasil swab keluar, orang-orang itu dikarantina secara terpusat. Ini akan lebih memberikan kepastian agar dia terlebih dahulu steril dari aktifitas kontak sosial dengan orang lain.

Persoalan menjadi lain ketika 12 orang dipastikan positip baru-baru ini. Padahal, mereka semua sudah dipulangkan dari karantina terpusat dengan mengantongi surat keterangan sehat. Hasil swab mereka keluar setelah orang-orang ini dipulangkan. Semuanya positip.

Menunggu hasil pemeriksaan swab PCR di Kupang, menjadi kendala tersendiri. Butuh kesabaran tingkat tinggi. Padahal, idealnya, hasil swab diketahui 1×24 jam sesudahnya, sehingga mudah untuk penanganan medis selanjutnya.

Warga Kelurahan Beru dari Klaster Magetan dievakuasi ke ruang isolasi RSUD TC Hillers Maumere, (17/5) malam

Dalam berbagai keterbatasan dan kekurangan, harus diakui pemerintah daerah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah penularan virus corona. Dari berbagai cerita, Kabupaten Sikka menjadi referensi penanganan untuk kabupaten lain di NTT.

Kekurangan penanganan, antara lain, gagalnya pemerintah membendung munculnya kasus transmisi lokal. Padahal, ketika ada penambahan jumlah kasus, pemerintah berani “busung dada” karena belum tersentuh transmisi lokal.

Ternyata, apa mau dikata. Kasus transmisi lokal kini sudah tidak bisa dibendung. Sudah 12 warga daerah ini yang terkonfirmasi positip klaster transmisi lokal, menambah koleksi klaster sebelumnya, dari Lambelu, Magetan, Gresik, Kerincing, dan pelaku perjalanan.

Pengambilan swab di lokasi karantina terpusat, Sabtu (16/5)

Satu lagi yang sedang trend akhir-akhir ini yakni ungkapan rumah sakit “mengcovidkan” pasien. Klausa ini muncul akibat beberapa kasus positip, padahal sebelumnya pasien masuk dengan diagnosa penyakit lain. Hal ini mengakibatkan keresahan akut dan membuat masyarakat takut memeriksakan kesehatan ke rumah sakit.

Efek corona benar-benar bikin dokter dan paramedis tersinggung karena dituding mengcovidkan pasien. Padahal tidak segampang itu. Jika benar, ini artinya sama dengan bunuh diri.

Ada hal-hal teknis medis yang awam bagi masyarakat, seperti rekam medik pasien, pengecekan dan tracing, konfirmasi ulang, hasil TCM atau PCR yang tidak mungkin direkayasa, verifikasi BPJS Kesehatan untuk penggantian biaya perawatan pasien yang diikuti dengan verifikasi Kementerian Kesehatan, termasuk keterlibatan BPK.

Dalam obrolan dengan Asep Purnama, dokter senior pada RSUD TC Hillers yang terlibat penanganan pasien positip, dia menyebut ada pengawasan yang berlapis. Dan tentu saja akan sangat sulit bagi rumah sakit mengcovidkan pasien.

Salah seorang warga yang divonis positip corona sedang disemprot antispektik sebelum dievakuasi ke ruang isolasi, Kamis (14/5) malam

Sudah 1 tahun, virus corona terus bikin gelisah, galau, dan merana. Ekonomi mati. Bisnis tenggelam. Semua aspek terganggu. Kucuran berbagai jenis bantuan dari pemerintah pusat, propinsi, dan daerah, belum cukup mengobati geliat hidup masyarakat.

Entahlah, sampai kapan virus ini berhenti. Sampai sekarang belum ada vaksinnya. Itu artinya pemerintah dan masyarakat masih terus berhadap-hadapan dengan virus tidak berbentuk ini.

Pakai masker, hindari kerumunan, jaga jarak, cuci tangan, terus mewarnai seluruh aktifitas hidup masyarakat. Banyak yang bilang tidak ideal. Bisa ya, bisa juga tidak.Tapi setidaknya itulah yang dianjurkan WHO. Suka tidak suka, mau tidak mau, masyarakat harus taat.

Karena bagaimana pun, pemerintah saja tidak cukup menjadi malaikat. Satgas Covid Sikka saja tidak mampu bekerja sendiri. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan, bukan Tuhan Allah. Aparat keamanan, Pol PP, BPBD, Tagana, PMI, bukan semacam “anjing penjaga” yang harus mengawasi masyarakat 1×24 jam.

Perlu ada gerakan bersama seluruh stakeholder, perlu ada kesadaran seluruh masyarakat. Perlu menanamkan semangat praduga bersalah terhadap setiap aksi dan juga terhadap setiap orang.

Ilustrasi

Ya, sudah 1 tahun corona hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Entahlah, apakah kita harus mengucapkan selamat ulang tahun untuk “monster” ini.

Kalau pun harus “tiup lilin” untuk operasi sukses 1 tahun corona, dunia berharap virus ini segera kiamat.*** (vicky da gomez)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini