
Namanya Jessica Cheryl Hartono. Dia adalah putri sulung dari pasangan Nur Hadi dan Maria Gunawan. Gadis ini kini duduk pada Kelas VIII SMPK Frater Maumere, sekolah yang dibina Yayasan Bunda Hati Kudus.
Jessie — demikian nama kecil gadis kelahiran 30 Juli 2008 ini. Umurnya baru 13 tahun. Tapi jangan heran jika dia tercatat sebagai salah seorang pelajar penulis nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Label “profesi” ini dilekatkan oleh Gerakan Menulis Buku (GMB) Indonesia. Jessie tercatat dalam 100 pelajar penulis nasional atas partisipasinya dalam program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional.
“Dadu Regang Sang Pencabut Nyawa”, cerpen 8 halaman, telah mengantar Jessie ke level pelajar penulis nasional. Kumpulan cerpen dari 100 pelajar penulis nasional, dirangkum dalam sebuah buku dengan judul “Alkisah”. Buku ini sedang dalam proses cetak.
Jessie mulai beradaptasi dengan cerpen dan puisi, sejak Kelas VII SMPK Frater. Dorongan awal datang dari tugas-tugas sekolah yang diberikan Adrianus Bareng, guru Bahasa Indonesia di sekolah itu.
Lama-kelamaan Jessie mulai jatuh cinta dengan cerpen dan puisi. Dia mulai rajin menulis cerpen untuk mengisi Antologi Cerpen Siswa SMPK Frater Maumere. Buku Antologi Cerpen kini dalam proses cetak.

Minatnya pada cerpen terus membumi. Apalagi di saat awal-awal pandemi Covid, Jessie mendapatkan banyak waktu untuk menghasilkan sejumlah cerpen.
Gadis bintang Leo ini lebih tertarik cerpen dengan aliran fiksi. Dia menangkap cerita, pengalaman, kisah nyata dan segudang informasi, kemudian dia menarasikan dengan daya imaginasinya.
Sebagai pemula, dia membutuhkan waktu satu hingga dua minggu untuk sebuah cerpen yang berdurasi di atas 7 halaman. Hasil karyanya akan lebih cepat jika durasi cerpen semakin singkat.
Daya imajiner Jessie mengalir cukup baik, karena dia penikmat buku-buku cerita yang berlatarbelakang misteri, legenda, dan action. Buku-buku bacaan ini lebih banyak dia membacanya secara online.
Keseriusannya bergelut dengan cerpen-cerpen fiksi, mengharuskan dia rajin berselancar mencari referensi digital untuk menguatkan daya imajinernya.
“Pena Gading Ajaib” misalnya, sebuah cerpen yang dia ikutkan pada Lomba Menulis Cerpen di Masa Pandemi yang dilaksanakan oleh Lusia dan Lenny untuk Literasi.
Jessie menampilkan Lairana sebagai tokoh utama. Lairana merupakan tokoh imaginer dari khayalan tinggi Jessie.
Dia melukiskan Lairana sebagai seorang bocah perempuan kecil berambut keriting dan pendek berkulit sawo matang. Kojadoi, sebuah desa terluar di Kabupaten Sikka menjadi latar belakang lokasi cerpen ini.
Kisah Lairana di Kojadoi membawa Jessie menjadi terbaik ketiga dari 32 peserta. Dia mendapatkan hadiah berupa uang tunai, sertifikat dan buku cerita anak.
Dari sini kiprah Jessie bergerak hingga tercatat sebagai 100 pelajar penulis nasional. Alumni SD Maria Ferrari ini terus termotivasi untuk menghasilkan karya-karya berkualitas.

Sudah 10 cerpen yang dia hasilkan. Cerpen pertama berjudul “Pohon Angpao Ajaib”. Dia menukik juga cerita momentum seperti “Keajaiban di Hari Valentine”. Termasuk kasus kriminal yang terjadi di Pasar Geliting, dinarasikan dalam judul “Dadu Regang Sang Pencabut Nyawa”.
Jessie juga menyentuh kehidupan masyarakat seperti cerpen “Pena Gading Ajaib”, “Kasih Sayang Tanpa Batas”, dan “Duo Manusia Serigala Penyelamat”.
Dua cerpen fiktif lainnya yakni “Xin Xue Sang Penakluk Monster Ikan” dan “Arti Sahabat Hanakoto Aiko no yujo (Persahabatan Hanako dan Aiko)”, menegasikan bagaimana Jessie mengilhami darahnya sebagai turunan etnis Tionghoa.
Tidak hanya itu, Jessie juga membidik budaya dan peradaban Kabupaten Sikka melalui cerpen “Misteri di Balik Alunan Musik Gong Waning” dan “Bambu Gaib Tari Tua Reta Lou”.
Kini 10 cerpen hasil karya Jessie sedang dalam proses cetak menjadi sebuah buku. Jessie memilih “Pena Gading Ajaib” sebagai judul buku tersebut. Adrianus Bareng, guru yang menjadi motivator gadis ini, didaulat sebagai penyunting, dan Robi Fahik sebagai Prolog.
Kisah Jessie tidak hanya sampai di situ. Ternyata gadis ini diam-diam menulis juga sebuah novel yang sedang dalam proses cetak menjadi buku. Dia mengangkat judul “Bintang Kehidupan”.
Di balik minat dan bakat yang luar biasa ini, Jessie juga tampil fenomenal dari sisi akademis. Dia termasuk salah satu siswi yang berprestasi. Tidak heran, karena dia terlahir dari ayahnya yang seorang dosen dan ibunya seorang dokter gigi.
Gadis ini terbilang pribadi yang tenang. Dia tidak suka hura-hura. Tampilan dia yang kalem ini, sering menjadikan dia eksklusif dan lebih prioritas mementingkan peningkatan visi akademis dan minat bakatnya di dunia cerpen dan puisi.

Jessie terkenal juga sebagai gadis multitalent. Dia pencinta musik dan pintar bermain piano. Dia juga seorang atlit renang yang sering mengharumkan nama Kabupaten Sikka pada ajang nasional melalui
Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).
Tidak mudah menemukan seorang pelajar yang masih berusia muda dengan segudang kemampuan minat bakat. Kepala Sekolah SMPK Frater Maumere Frater Herman Yoseph BHK hanya menyebut dua kata untuk Jessie: Luar Biasa.

Gadis yang masih mencari identitas ini, belum tahu ke arah mana nanti ke depannya dia melangkah. Jessie bahkan belum punya cita-cita, layaknya keinginan dan ambisi para remaja seusia dia.
Pendidikan masih menjadi konsentrasi utama bagi Jessie, meskipun tidak bisa dipungkiri dunia literasi — cerpen dan puisi — menjadi panggung tersendiri bagi dia.
Jessie meyakini dunia pendidikan akan membawanya kepada masa depan yang lebih baik. Entahlah sebagai seorang dosen seperti ayahnya, atau sebagai dokter gigi seperti ibunya, atau juga mengais rejeki sebagai seorang penulis cerpen yang produktif.*** (vicky da gomez)



















