
Sebuah peristiwa besar pernah terjadi di Flores. Persisnya 30 tahun lalu, 12 Desember 1992. Bencana alam yang membekas hingga kini. Sejarah kelam yang tidak bakal terlupakan.
Gempa bumi dan tsunami meluluhlantahkan kehidupan masyarakat. Ribuan bangunan jadi korban, ribuan nyawa melayang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Wikipedia mencatat gempa bumi berkekuatan 7,8 SR terjadi di lepas Pantai Flores pada pukul 13.29 Wita. Gempa berkekuatan 7,8 SR, dengan pusat gempa di kedalaman 35 kilometer barat laut Kota Maumere.
Gempa bumi menyebabkan tsunami setinggi 36 meter. Tsunami hebat terjadi karena gempa tersebut memicu longsor di bawah laut. Tak ayal, gelombang tsunami melalap rumah di pesisir Pantai Flores.
Peristiwa alam ini setidaknya telah membunuh 2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang mengungsi.
Fasilitas publik pun menjadi korban. Gempa bumi menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya.
Daerah yang terkena gempa yakni Kabupaten Sikka, Ngada, Ende, dan Flores Timur. Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, menjadi paling parah. Tercatat iebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak berat.
Peristiwa gempa disertai tsunami di Flores tidak terdokumentasi dengan baik di dalam negeri. Hal ini karena saat itu sangat minim perhatian dari ilmuwan Indonesia.
Amuk Dahsyat
Beberapa tutur kisah mengabarkan cuaca di Kota Maumere dan Kabupaten Sikka pada umumnya terasa sangat panas dan menyengat tidak seperti hari-hari biasanya.
Dan tiba-tiba, tanpa peringatan terlebih dahulu, guncangan hebat melanda bumi.
Gemuruh seperti bunyi gedung-gedung yang sedang diruntuhkan, terdengar menakutkan telinga. Semua orang berlari tidak tentu arah, berhamburan dengan rasa takut yang luar biasa.
Lalu tiba-tiba dari arah pantai berhamburan warga masyarakat yang tinggal di kawasan. Tsunami melanda.
Gelombang air laut terus mendekati jalan raya. Beberapa tubuh terlihat jatuh terkulai bersama reruntuhan gedung yang menimpa mereka.
Sebuah kapal besi di kawasan Pelabuhan Sadang Bui, dilempar buang tsunami, langsung mengangkangi jalan raya pelabuhan.
Beberapa kapal kecil terlihat pasrah menerima keadaan antara laut dan darat dan membingkai peristiwa itu menjadi sebuah kenangan pahit yang sulit untuk dilupakan. Banyak warga yang berada di pelabuhan hilang ditelan laut.
Tsunami terus bergerak, menghancurkan semua yang berada di depannya. Pulau Babi, sebuah pulau kecil yang berada di depan Maumere hancur lebur diterjang gelombang. Banyak media memberitakan ratusan penghuni Pulau Babi tewas disapu tsunami.
Pulau kecil nan elok menghiasi lembaran peristiwa pahit dan tragis, menjadi saksi bisu betapa angkuhnya alam jika kita mulai mencampakan kebesaranNya.
PT Bali Raya, sebuah perusahaan pendinginan ikan satu-satunya di kawasan Pulau Flores saat itu, hancur diterjang gelombang tsunami.
Gelombang air laut naik dan dengan sombongnya merembes melewati gedung Bali Raya, lalu menuju rumah warga sekitarnya dan jalan raya di kawasan pertokoan.
Tidak sampai di situ, kampung nelayan tradisional Wuring dan wilayah sekitarnya yang berada tidak jauh dari Kota Maumere, tidak luput dari amukan tsunami.
Sebagian warga Wuring yang mendirikan rumah mereka di atas laut cuma bisa pasrahkan diri ketika amukan gelombang maut datang menyapa mereka. Semuanya hancur.
Peristiwa 30 tahun lalu itu, sepertinya sulit dilupakan. Berbagai kisah dan kepingan cerita terus membumi pada mereka yang mengalami dan menyaksikan dahsyatnya bencana tersebut.*** (vickydagomez/dari berbagai sumber)















