




Mantan Ketua DPRD Sikka Albertus Manggela Keupung tutup usia. Birokrat tulen dan politisi andal itu meninggal dunia pada Minggu (25/12) pukul 06.00 Wita, persis pada Hari Raya Natal.
Laki-laki kelahiran 15 Januari 1938 itu menyelesaikan ziarah hidupnya pada usia 84 tahun 11 bulan 9 hari. Sebuah perjalanan nan panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Manggela Keupung, dikenal sebagai tokoh tiga zaman. Dalam konteks itu, dia termasuk sosok yang beruntung karena memiliki banyak kontribusi bagi Kabupaten Sikka.
Alumnus Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta ini, mengawali jejak birokrat pada tahun 1965 sebagai Asisten I KAMARES Hansip/Wanra 7/XX Daerah Tingkat II Sikka.
Selanjutnya oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sikka Paulus Samador da Cunha, Manggela diangkat sebagai Camat Lela (1966-1968).
Pada tahun 1970, Manggela dipercayakan sebagai Pejabat Koordinator Pemerintahan Kota (Kopeta) Maumere. Setahun sebagai Penjabat, Manggela didefinitifkan menjadi Kopeta Maumere.
Pada tahun 1978, dia diangkat sebagai Kepala Sub Direktorat Pemerintahan pada Setwilda Tingkat II Sikka. Dia menjabat selama 3 tahun, dan diberi tugas rangkap jabatan sebagai Kopeta Maumere dan Komandan Pol PP Dati II Sikka.
Manggela menapaki puncak karir birokrat dalam jabatan penting yakni Ketua Bappeda Tingkat II Sikka. Dia menggeluti jabatan ini selama 14 tahun (1980-1994).
Selain sebagai seorang birokrat, sejak tahun 1959 ayah 5 anak ini juga berkecimpung dalam dunia politik. Waktu itu tidak ada larangan bagi birokrat untuk terjun berpolitik.
Dengan usia yang masih sangat muda, 21 tahun, ketika dia menjadi Kepala SMEP Bunga Fatima Lela, Manggela menekuni politik melalui Partai Katolik Cabang Sikka Sub Komisariat Lela.
Setelah itu, sejalan dengan dinamika politik dan pemerintahan pada saat itu, Manggela beralih ke Golongan Karya (Golkar). Dia bernaung di bawah pohon beringin sejak tahun 1966 hingga ajal menjemputnya.
Di Partai Golkar, Manggela sempat menduduki jabatan srrategis yakni sebagai Sekretaris (1979-1984), Wakil Ketua (1984-1994), dan puncaknya sebagai Ketua Partai Golkar (1998-2008).
Sebagai pekerja partai yang loyal, Manggela tercatat sebagai anggota DPRD Sikka selama 11 tahun, yakni 1992-1993, lalu 1999-2004 (Wakil Ketua DPRD), dan 2004-2009 (Ketua DPRD).
Kiprah Manggela di panggung politik semakin menguat menjelang suksesi kepemimpinan Bupati Sikka Periode 2003-2008.
Berkat kualitas dan kemampuan yang dia miliki, Partai Golkar mengusung Manggela sebagai Calon Bupati Sikka. Dia berpasangan dengan Sosimus Mitang, birokrat aktif di Pemkab Sikka.
Waktu itu ada tiga paket calon. Manggela-Sosi menembus putaran kedua. Pada akhirnya pasangan ini kalah dari Alexander Longginus dan Yoseph Ansar Rera.
Manggela mengakhiri petualangan politiknya pada tahun 2009, seiring dengan usia yang sudah mulai menua yakni 71 tahun. Dia turun dari kursi legislatif, dan memilih lebih menikmati masa tua.
Tidak bisa dipungkiri Manggela Keupung, sebagai birokrat dan politisi, merupakan salah satu tokoh yang penuh totalitas memberikan dedikasi untuk kepentingan daerah ini.
Sepak terjangnya dengan visi ideal yang kuat dan mengakar: membangun Sikka tanpa sekat.
Manggela, sosok yang dikenal kalam, tenang, sederhana, dan selalu tampil sebagai motivator. Jarang terdengar Manggela marah, karena dia pandai membungkus kemarahan dengan gaya diplomasi dan komunikasi yang apik.
Selama menjadi Pimpinan DPRD Sikka (1999-2009), Manggela selalu tampil piawai memainkan jalannya dinamika politik di Gedung Kulababong.
Kabupaten Sikka berduka, setidaknya itulah topik diskusi dan wacana para pegiat politik di daerah ini ketika Manggela tutup mata selamanya.
Manggela termasuk legenda Kabupaten Sikka yang berumur panjang. Hampir kebanyakan tokoh kelahiran tahun 1930 hingga 1940 sudah lebih dulu berpulang. Mereka semua pantas dihormati sebagai “pahlawan-pahlawan” di daerah ini.*** (vicky da gomez)






















