Manggela Keupung, Membangun Sikka Tanpa Sekat

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 26 Desember 2022 - 14:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 68 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Albertus Manggela Keupung (foto: istimewa)

Albertus Manggela Keupung (foto: istimewa)

Mantan Ketua DPRD Sikka Albertus Manggela Keupung tutup usia. Birokrat tulen dan politisi andal itu meninggal dunia pada Minggu (25/12) pukul 06.00 Wita, persis pada Hari Raya Natal.

Laki-laki kelahiran 15 Januari 1938 itu menyelesaikan ziarah hidupnya pada usia 84 tahun 11 bulan 9 hari. Sebuah perjalanan nan panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Manggela Keupung, dikenal sebagai tokoh tiga zaman. Dalam konteks itu, dia termasuk sosok yang beruntung karena memiliki banyak kontribusi bagi Kabupaten Sikka.

Alumnus Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta ini, mengawali jejak birokrat pada tahun 1965 sebagai Asisten I KAMARES Hansip/Wanra 7/XX Daerah Tingkat II Sikka.

Selanjutnya oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sikka Paulus Samador da Cunha, Manggela diangkat sebagai Camat Lela (1966-1968).

Pada tahun 1970, Manggela dipercayakan sebagai Pejabat Koordinator Pemerintahan Kota (Kopeta) Maumere. Setahun sebagai Penjabat, Manggela didefinitifkan menjadi Kopeta Maumere.

Pada tahun 1978, dia diangkat sebagai Kepala Sub Direktorat Pemerintahan pada Setwilda Tingkat II Sikka. Dia menjabat selama 3 tahun, dan diberi tugas rangkap jabatan sebagai Kopeta Maumere dan Komandan Pol PP Dati II Sikka.

Manggela menapaki puncak karir birokrat dalam jabatan penting yakni Ketua Bappeda Tingkat II Sikka. Dia menggeluti jabatan ini selama 14 tahun (1980-1994).

Selain sebagai seorang birokrat, sejak tahun 1959 ayah 5 anak ini juga berkecimpung dalam dunia politik. Waktu itu tidak ada larangan bagi birokrat untuk terjun berpolitik.

Dengan usia yang masih sangat muda, 21 tahun, ketika dia menjadi Kepala SMEP Bunga Fatima Lela, Manggela menekuni politik melalui Partai Katolik Cabang Sikka Sub Komisariat Lela.

Setelah itu, sejalan dengan dinamika politik dan pemerintahan pada saat itu, Manggela beralih ke Golongan Karya (Golkar). Dia bernaung di bawah pohon beringin sejak tahun 1966 hingga ajal menjemputnya.

Di Partai Golkar, Manggela sempat menduduki jabatan srrategis yakni sebagai Sekretaris (1979-1984), Wakil Ketua (1984-1994), dan puncaknya sebagai Ketua Partai Golkar (1998-2008).

Sebagai pekerja partai yang loyal, Manggela tercatat sebagai anggota DPRD Sikka selama 11 tahun, yakni 1992-1993, lalu 1999-2004 (Wakil Ketua DPRD), dan 2004-2009 (Ketua DPRD).

Kiprah Manggela di panggung politik semakin menguat menjelang suksesi kepemimpinan Bupati Sikka Periode 2003-2008.

Berkat kualitas dan  kemampuan yang dia miliki, Partai Golkar mengusung Manggela sebagai Calon Bupati Sikka. Dia berpasangan dengan Sosimus Mitang, birokrat aktif di Pemkab Sikka.

Waktu itu ada tiga paket calon. Manggela-Sosi menembus putaran kedua. Pada akhirnya pasangan ini kalah dari Alexander Longginus dan Yoseph Ansar Rera.

Manggela mengakhiri petualangan politiknya pada tahun 2009, seiring dengan usia yang sudah mulai menua yakni 71 tahun. Dia turun dari kursi legislatif, dan memilih lebih menikmati masa tua.

Tidak bisa dipungkiri Manggela Keupung, sebagai birokrat dan politisi, merupakan salah satu tokoh yang penuh totalitas memberikan dedikasi untuk kepentingan daerah ini.

Sepak terjangnya dengan visi ideal yang kuat dan mengakar: membangun Sikka tanpa sekat.

Manggela, sosok yang dikenal kalam, tenang, sederhana, dan selalu tampil sebagai motivator. Jarang terdengar Manggela marah, karena dia pandai membungkus kemarahan dengan gaya diplomasi dan komunikasi yang apik.

Selama menjadi Pimpinan DPRD Sikka (1999-2009), Manggela selalu tampil piawai memainkan jalannya dinamika politik di Gedung Kulababong.

Kabupaten Sikka berduka, setidaknya itulah topik diskusi dan wacana para pegiat politik di daerah ini ketika Manggela tutup mata selamanya.

Manggela termasuk legenda Kabupaten Sikka yang berumur panjang. Hampir kebanyakan tokoh kelahiran tahun 1930 hingga 1940 sudah lebih dulu berpulang. Mereka semua pantas dihormati sebagai “pahlawan-pahlawan” di daerah ini.*** (vicky da gomez)

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:32 WITA

BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Berita Terbaru