
Maumere-SuaraSikka.com: Penampilan turnamen sepak bola di NTT sekelas Eltari Memorial Cup, kini sudah agak beda. Dalam beberapa edisi terakhir, tuan rumah penyelenggara memunculkan logo dan maskot.
Maskot adalah bentuk atau benda yang dapat berbentuk seseorang, binatang, atau objek lainnya yang dianggap dapat membawa keberuntungan dan untuk menyemarakkan suasana acara yang diadakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak 2015, tuan rumah penyelenggara biasanya selalu menampilkan maskot yang unik sesuai kearifan lokal masing-masing daerah.
Kabupaten Ende sewaktu menjadi tuan rumah pada tahun 2017, memperkenalkan Gerugiwa. Burung jenis ini hanya hidup di wilayah hutan lindung Kawasan Danau Kelimutu. Ini adalah salah satu spesies yang dilindungi.
Pemilihan burung Gerugiwa sebagai maskot karena burung tersebut memiliki 15 jenis suara. Inilah keunikan Gerugiwa.
Dua tahun berikut, Manu Meo menjadi maskot saat turnamen digelar di Kabupaten Malaka.
Simbol ayam jantan mempunyai jejak yang kuat dalam imajinasi orang-orang Malaka, khususnya bagi kelompok yang berbahasa Tetun.
Kabupaten Lembata menampilkan ikan paus sebagai maskot ketika turnamen ini digelar tahun 2022. Baleo, menjadi pekik semangat yang historis.
Ikan paus identik dengan Kabupaten Lembata. Nelayan Lamalera Lembata punya tradisi berburu dan menangkap ikan paus.
Kegiatan berburu ikan paus dengan peralatan tradisional sudah menjadi budaya masyarakat Lamalera. Keunikan tradisi itu yang membuat ikan paus dijadikan maskot ETMC XXXl.

Lalu bagaimana dengan Kabupaten Rote Ndao? Jangan ditanya, karena Rote Ndao memiliki begitu banyak keunikan.
Panitia Pelaksana ETMC XXXII Liga 3 kemudian melepas sayembara pembuatan logo dan maskot. Sebanyak 61 orang ikut berkompetisi, dan 52 akhirnya tereliminasi.
Dari 9 nominasi, akhirnya Rachul Dwi Putra Tulle memenangkan sayembara maskot.
Karakrer maskot dirancang dengan gambaran dari burung endemik asli Rote yang diberi nama Mizomela Irianawididoae. Jadilah maskot ini diberi nama Mizo.
Mizo dirancang dengan mengangkat budaya asli Rote Ndao. Terlihat burung endemik ini mengenakan baju berwarna putih dengan padanan kain tenun menutupi bagian bawah.
Burung endemik ini juga memakai Ti’i Langga, topi khas Rote Ndao yang sudah terkenal itu. Mizo mengenakan sepatu, dan digambarkan kakinya sedang dalam posisi mengapit sebuah bola.

Terdapat 3 warna yang mendominasi maskot ETMC XXXII Liga 3 Rote Ndao, yakni merah, abu-abu, dan putih.
Warna merah memancarkan energi semangat, keberanian, cinta dan kekuatan. Warna ini lebih kepada untuk meningkatkan pertandingan yang berkualitas.
Lalu warna abu-abu melambangkan ketenangan, kedewasaan. Warna ini merupakan contoh dari Respect For The Rules dalam permainan sepak bola atau menghargai dan menghormati di dalam lapangan pertandingan.
Selanjutnya warna putih melambangkan kebersihan, kesucian atau sportifitas dalam pertandingan.
Turnamen ETMC XXXII Liga 3 Rote Ndao bakal berlangsung selama 1 bulan, dimulai pada 10 Agustus 2023. Gubernur NTT dijadwalkan membuka turnamen.
Menurut informasi, diperkirakan 27 klub ikut meramaikan turnamen bergengsi ini. Total hadiah yang disiapkan Panitia Pelaksana sebanyak Rp 775 juta.*** (eny)















