

SEPAK BOLA, olah raga ini sejatinya mengukur nilai-nilai kejuangan. Di dalamnya juga mencakupi harga diri dan kehormatan.
Sebuah pertandingan akan berlangsung menarik simpati ketika nilai-nilai itu diterapkan dalam performa “jual beli” serangan. Tentunya dalam koridor fair play.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sepak bola, kita mengenal juga satu istilah yang disebut sepak bola gajah. Ini perumpamaan yang menggambarkan bagaimana sebuah pertandingan sengaja dikemas untuk memberikan keuntungan kepada salah satu tim.
Praktik sepak bola gajah bisa dilakukan dalam berbagai model. Tentu saja praktik-praktik semacam itu jelas sangat merusak citra persepakbolaan.
Sepak bola gajah laksana momok yang menakutkan. Untuk menghindari itu, biasanya sedari awal penyelenggara mewanti-wanti agar “mental buruk” seperti ini sedapatnya tidak terjadi.
Fair play dan sportivitas menjadi iklan semangat untuk menghindari sepak bola gajah. Di NTT, iklan tersebut ditambah lagi dengan misi mulia inisiator Eltari Cup: persaudaraan Flobamora.
Tapi apapun itu, sepak bola gajah kadang-kadang tidak bisa dihindari. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan faktor emosional.
Karena itu tidak heran jika praktik-praktik sepak bola gajah bisa saja terjadi Tidak terkecuali pada turnamen sekelas ETMC.
Sejauh ini belum pernah ada catatan miring sepak bola gajah pada turnamen Eltari Cup dan Eltari Memorial Cup. Semua pertandingan berlangsung normal, mengusung semangat fair play dan sportivitas.
Kalau mau mengandai-andai, mungkin saja pernah ada peristiwa pertandingan semacam sepak bola gajah di NTT. Ya, mungkin, karena tidak pernah terungkap lebih nyata ke publik.
Liga 3 ETMC XXXII di Kabupaten Rote Ndao, diikuti 27 tim, terdiri dari 20 perserikatan mewakili kabupaten/kota dan 7 klub. Praktis ada 2 tim atau lebih dari daerah yang sama.
Sebut saja, Perseftim dan Biru Muda Perkasa dari Kabupaten Flotim. Lalu, Persab Belu dan Bintang Timur FC dari Kabupaten Atambua.
Ada juga Persena dan Nirwana 04 FC dari Kabupaten Nagekeo. Terus, PSK Kupang dan Putra Oesao FC dari Kabupaten Kupang. Juga ada Persap Alor dan BMU Alor Pantar dari Kabupaten Alor. Lalu dari Kota Kupang ada PS Kota Kupang, Kristal FC, dan Platina FC.
Dalam Match Coordination Meeting, sempat ada peserta yang mengusulkan agar tim sekota sebaiknya di-split.
Hal ini lebih kepada antisipasi dini agar tim satu daerah tidak tergabung dalam grup yang sama di babak penyisihan. Maksudnya jelas: menghindari sepak bola gajah.
Namun, demi fair play dan sportivitas, terlebih demi memantapkan misi persaudaraan Flobamora melalui sepak bola, pikiran positip itu tidak diakomodir. Forum MCM meyakini sepak bola gajah harus menjadi musuh bersama.
Pada akhirnya, hasil drawing menunjukkan ada tim sedaerah yang tergabung dalam grup yang sama yakni Biru Muda Perkasa dan Perseftim di Grup G. Dua tim ini “menjepit” Persab Belu.
Sudah 23 laga pada babak penyisihan hingga Rabu (16/8). Semua tim masih berkutat mencari 2 tiket lolos otomatis dari masing-masing grup. Kini tersisa 16 pertandingan di babak penyisihan.
Baru tim tuan rumah Perserond Rote Ndao yang memastikan 1 tiket di Grup A, menyusul 2 kali kemenangan.
Sementara Persena Nagekeo di Grup A dan Persamba Manggarai Barat di Grup E hampir pasti kemas koper lebih awal, akibat 2 kali menderita kekalahan. Untuk lolos melalui jalur peringkat 3 terbaik, juga sangat tidak mungkin.
Satu tiket otomatis tersisa di Grup A, kini menjadi rebutan Persami Maumere dan Bintang Timur FC.
Pertandingan terakhir menjadi hidup mati bagi dua tim ini.
Persami Maumere menjajal tim tuan rumah Perserond Rote Ndao. Sementara Bintang Timur bentrok dengan Persena Nagekeo. Dua pertandingan digelar pada jam yang sama.
Juara ETMC 2015 Persami Maumere dalam kondisi kritis. Laskar Nian Tana sedang di ujung tanduk.
Suka tidak suka, Persami Maumere harus meraih poin penuh untuk memuluskan langkah. Itu pun dengan catatan Bintang Timur dan Persena Nagekeo berakhir imbang.
Jika Persami menang, dan Bintang Timur juga menang, maka otomatis 3 tim ini sama-sama mengoleksi nilai 6. Head to head menjadi penentu.
Dalam asumsi ini, kemungkinan besar 3 tim ini lolos ke babak berikut, karena hampir pasti peringkat 3 klasemen akhir Grup A bisa menjadi salah satu peringkat 3 terbaik.
Terburuk, jika Persami Maumere kalah, dan apapun hasilnya Bintang Timur FC kontra Persena Nagekeo, Tim Hijau Putih harus puas di peringkat 3 klasemen akhir. Nasibnya masih diuji dengan peringkat ketiga dari grup lain.
So, dalam kondisi di ujung tanduk, lolos tidaknya Persami Maumere sudah pasti wajib ditentukan oleh diri sendiri.
Ada begitu banyak faktor non teknis yang bisa mengganjal skuad Hijau Putih. Salah satunya yakni sepak bola gajah pada laga Bintang Timur FC dan Persena Nagekeo.
Yah, terlalu dini memang jika menduga-duga seperti ini. Karena belum tentu semangat sepak bola gajah itu hidup dalam persaudaraan Flobamora.
Tetapi memang baiknya momok menakutkan ini perlu serius diwanti-wanti, sehingga benar-benar tidak terjadi, lalu merusak citra sepak bola di NTT.
Nagekeo Anti Sepak Bola Gajah
Bicara sepak bola gajah, ternyata praktik sepak bola ini paling menjengkelkan bagi Persena Nagekeo.
“Persena tolak sepak bola gajah,” tegas Yend D Gare, Asisten Pelatih Persena Nagekeo, usai timnya ditekuk Persami Maumere dengan skor telak, 0-4.
Gaung pun bersambut. Persena Nagekeo tidak mengenal istilah sepak bola gajah. Rumus sepak bola gajah tidak ada dalam manejemen Persena Nagekeo.
Meski dengan peluang yang sudah sangat tipis, Yend D Gera memastikan Persena Nagekeo akan bermain habis-habisan menghadapi Bintang Timur FC.
Bagi dia, partisipasi Persena Nagekeo dalam ajang turnamen ini bukan semata soal kalah menang dan menjadi juara.
Karena yang paling penting dan terutama yakni harkat dan martabat masyarakat Nagekeo dipertaruhkan melalui ajang sepak bola.
Karena itu dia memastikan Persena Nagekeo tidak mungkin menggadaikan kehormatan, harkat dan martabat masyarakat Nagekeo melalui praktik-praktik sepak bola gajah.*** (vicky da gomez)















