Pohon beringin sudah mulai tidak rindang lagi sejak Pilkada Sikka Periode 2003-2008, sebuah proses pemilihan terakhir melalui lembaga DPRD, sekaligus pertama kali dalam pencalonan secara berpasangan.
Bahkan ketika proses Pilkada Sikka 2003-2008 sempat terjadi konflik internal seru di tubuh Partai Golkar. Paulus Moa, petahana kala itu, gagal mendapatkan dukungan dari Partai Golkar. Mantan Sekwilda Liquisa ini pun terdepak pada proses syarat administrasi di DPRD Sikka.
Partai Golkar merekomendasikan Albertus Manggela Keupung. Ketua Partai Golkar yang juga mantan Kepala Bappeda Sikka itu berpasangan dengan Sosimus Mitang, seorang birokrat senior, mantan Kepala Perwakilan NTT di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gedung DPRD Sikka kala itu didominasi warna merah, dikuasai PDI Perjuangan. Pemilu 1999 menghasilkan 14 kursi bagi partai berlambang banteng moncong putih. Sementara Partai Golkar hanya punya 10 serdadu. Tak pelak, Alexander Longginus dan Yoseph Ansar Rera yang diusung PDI Perjuangan keluar sebagai pemenang melalui pertarungan dua putaran.
Lima tahun berikut Partai Golkar merekomendasikan Hendro Alex Bapa, berpasangan dengan Fransiskus Roberto Diogo, seorang birokrat. Lagi-lagi Partai Golkar terseok, hanya nongkrong di posisi ketiga dari 5 pasangan calon.
Sosimus Mitang yang gagal pada periode sebelumnya berhasil menembus pertarungan dalam satu putaran bersama Wera Damianus, seorang dokter asal Kecamatan Palue.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












