Ada pula Kardinal Malcolm Ranjith (Uskup Agung Metropolitan Colombo, Srilanka), Kardinal Pietro Parolin (Vatican Secretary State), Kardinal Pierbattista Pizzaballa (Patriark Latin Jerusalem), serta Kardinal Peter Erdo (Uskup Agung Metropolitan Esztergom-Budapes Hungaria).
Sisanya ialah Kardinal Willem Eijk (Uskup Agung Metropolitan Utrecht, Belanda), Kardinal Anders Arboclius (Uskup Stockholm, Swedia), Kardinal Charles Bo (Uskup Agung Yangon, Myanmar), dan Kardinal Jean-Mare Aveline (Uskup Agung Metropolitan Merseille, Perancis).
Selain nama-nama tersebut, masih ada nama-nama kardinal lain, menurut perkiraan media atau pengamat lain. Misalnya, Kardinal Fridolin Ambongo Besungu (Presiden Simposium Konferensi Uskup Afrika dan Madagaskar, yang juga Uskup Agung Kinshasa, Republik Demokratik Kongo), Kardinal Mario Grech (Sekretaris Jenderal Sinode para Uskup yang berasal dari Malta).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Termasuk Kardinal Gerald Cyprien Lacroix (Uskup Agung Metropolitan Quebec, Kanada), Kardinal Peter Turkson dari Ghana, dan juga Kardinal Jose Tolentino Calaca de Mendoca dari Portugal.
Diketahui, kesepakatan penentuan tanggal konklaf diambil oleh sekitar 180 kardinal dari 252 kardinal, lebih dari 100 adalah kardinal elektor, yakni kardinal yang memiliki hak pilih dan dipilih yang saat ini sudah berada di Roma. Mereka berkumpul untuk Kongegrasi Umum kelima, di Vatikan.
Sesuai ketentuan Konstitusi Apostolik, hanya kardinal yang berusia 80 tahun ke bawah yang menjadi kardinal elektor, yang memiliki hak pilih dan dipilih. Maka, dari 252 kardinal yang berasal dari 90 negara, ada sejumlah 135 kardinal yang akan menjadi kardinal elektor, termasuk Ignatius Kardinal Suharyo dari Indonesia.*** (*/eny)


Ikuti Kami
Subscribe












