

Maumere-SuaraSikka.com: Prestasi akademis selalu tidak jauh dari SMPK Frater Maumere. Pelajar sekolah ini berhasil mencetak prestasi pada Lomba Bulan Bahasa dan Sastra yang digelar IKIP Muhammadiyah, Sabtu (16/10) lalu.
Kompetisi yang digelar IKIP Muhammadiyah yakni Lomba Dongeng, Lomba Puisi, dan Lomba Pidato. SMPK Frater Maumere mengutus 6 palajar, dan berhasil menyabet 4 juara dari tiga kategori lomba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ludfiani Aprilly keluar sebagai Juara 2 Lomba Dongeng. Berikutnya Yosefa M Ernestin Lein Juara 2 Lomba Puisi, serta Chricelin Margaretha Grun Juara 1 Lomba Pidato dan Anastasia Yuniarti Petra Lotu Juara 3 Lomba Pidato.
Sementara 2 pelajar peserta lomba gagal mengukir prestasi yaitu Andika William Robert pada Lomba Puisi dan Margaretha Irianti Candyliana pada Lomba Pidato.
Para pelajar yang terlibat Lomba Bulan Bahasa dan Sastra didampingi 4 orang guru pada sekolah itu. Mereka adalah Agustina R. Sumbi pendamping mendongeng, Wilfridus Kapol dan Adelberto Togo Lado pendamping puisi, dan Karolus Dolu Tien Toulwala pendamping pidato.

Kepala SMPK Frater Maumere Frater Herman Yoseph BHK memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih anak-anak didiknya. Dia juga memberikan apresiasi kepada para guru pendamping.
“Yah, ini prestasi yang baik, dan menjadi motivasi bagi pelajar yang lain. Terima kasih Muhammdiyah yang sudah memberi ruang berekspresi bagi anak-anak kami,” ujar Frater Herman Yoseph.

Ludfiani Aprilly naik podium dengan membawakan dongeng rakyat dari Kabupaten Belu. Dia tampil penuh percaya diri melalui Suri Ikun dan Bui Ikun, yang menceritakan asal-usul masyarakat keturunan Belu.
Pelajar Kelas 7 ini terbilang penyuka dongeng-dongeng fantasi. Dia menekuninya sejak masih bersekolah di SDK Maria Ferrari. Dalam kesibukan aktifitas sekolah, dia sudah menghabiskan puluhan buku cerita dongeng.

Puisi berjudul Di Tawamu Kulayarkan Perahuku, mengantar Yosefa M Ernestin Lein sebagai Juara 2 Lomba Puisi. Ini adalah satu dari tiga puisi yang disiapkan Panitia Pelaksana.
Yosefa M Ernestin Lein memilih puisi ini karena ada pesan kuat tentang persahabatan dan hubungan interaktif antarpersonal. Lebih dari itu, dia menyukai kalimat-kalimat kiasan dalam puisi itu.
Dia pun tampil dengan penuh penjiwaan, meski berlatih hanya 2 hari. Alhasil, Yosefa M Ernestin Lein menembus urutan kedua. Catatan prestasi Alumni SDK Gere ini dihadiahkan untuk orangtuanya.
“Sejak kecil Bapa dan Mama sudah mengajarkan saya berbahasa Indonesia yang baik dan benar,” ujar pembaca setia Kunang-Kunang, majalah anak-anak terbitan Ende.

Juara pertama Lomba Pidato jatuh kepada Chricelin Margaretha Grun, anak dari musisi lokal Jhon Papace.
Dalam durasi 7 menit, pelajar Kelas 9F ini membawakan pidato berjudul Berbahasa Indonesia secara Baik dan Benar melalui Belajar dan Berkarya Sastra.
Naskah pidato dibuat dari latar belakang semangat kemerdekaan para pahlawan bangsa, yang dia pelajari melalui matapelajaran PKN di sekolah itu.
“Bangga sekali punya Bahasa Indonesia, sebagai perekat dan penyatu warga bangsa. Karena Bahasa Indonesia maka para pahlawan waktu itu bisa berkomunikasi dengan baik, saling mengerti, sehingga berhasil melawan kolonialisme,” ujar dia.

Satu lagi pelajar yang mendapuk prestasi yakni Anastasia Yuniarti Petra Lotu. Pelajar Kelas 9C berusia 14 tahun ini keluar sebagai Juara 3 Lomba Pidato.
Dia membawakan naskah berjudul Memperkuat Karakter Generasi Muda yang Kreatif melalui Bahasa dan Sastra. Pilihan judul ini, kata dia, untuk mendorong generasi muda agar lebih mencintai bahasa dan sastra. Alasannya, dia menangkap kesan bahasa dan sastra sepertinya kurang diminati generasi muda.

Sementara itu Andika William Robert, peserta Lomba Puisi, gagal menorehkan prestasi. Dia mengaku kurang menguasai naskah puisi dan tidak mengekspresikan penjiwaan sesuai naskah.
Meski gagal, gadis 14 tahun penghuni Kelas 9B ini tidak patah semangat. Bagi dia, kegagalan tersebut justeru memotivasi dirinya untuk terus belajar dan mempersiapkan diri lebih maksimal lagi.

Bulan Oktober ditetapkan sebagai Bulan Bahasa dan Sastra, merujuk pada sejarah bangsa terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Sumpah Pemuda merupakan tonggak yang menjadikan Bangsa Indonesia menjunjung bahasa persatuan yang satu yakni Bahasa Indonesia.*** (eny)















