
Lewoleba-SuaraSikka.com: Lembata gagal di kandang sendiri. Magis pinalti ternyata tidak bertuah. Tropi bergilir ETMC pun diboyong Perse Ende ke Bumi Kelimutu.
Ende unggul 5-4 (3-2) pada drama adu pinalti partai final Liga 3 ETMC XXXI Tahun 2022 yang berlangsung di GOR 99 Lewoleba, Kamis (29/9).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adu pinalti dilakukan setelah pertandingan waktu normal berakhir imbang 2-2. Dua tim tidak lagi mencetak gol pada perpanjangan waktu.
Kekalahan Lembata sudah mulai kelihatan ketika Ulrikus Mas Pati gagal mengeksekusi bola. Tendangan kerasnya hanya membentur mistar gawang.
Sebastianus Wetu yang biasanya cakap melakukan eksekusi, kali ini juga tendangannya di atas mistar gawang.
Begitu juga Yohanes Kopong mengalami nasib yang sama. Tendangannya berhasil ditepis penjaga gawang Akbar Al Jawali Rahman.
Lembata hanya mampu menyarangkan 2 gol melalui Muhammad Hajir Suryana dan kapten tim Arsenius Ola.

Kapten Ende Adi Aba juga tidak sempurna. Sepertinya dia dipaksakan menjadi eksekutor awal meskipun dalam kondisi sedang cedera.
Mohamad Noval Kurniawan, penendang keempat, juga gagal karena bola melambung di atas mistar.
Ende sukses melalui tiga penendang yakni Muhajir Sulaiman, Rizal Dwi Handoko, dan Akbar Al Jawali Rahman. Penjaga gawang Ende menjadi eksekutor penentu.
Ini adalah drama adu pinalti keempat bagi Lembata. Justeru pada partai puncak Lembata gagal memberikan hasil yang terbaik.
Sebelumnya pada fase knock out, tim tuan rumah selalu lolos ke babak berikut berkat unggul drama adu pinalti.
Pada babak 16 besar, Lembata menekuk PS Malaka dengan skor 4-3. Lalu menang 4-3 atas Persami Maumere pada babak 8 besar. Dan terakhir unggul 5-4 atas Perserond Rote Ndao pada babak semifinal.
Hebatnya, semua penendang Lembata selalu sukses melakukan eksekusi. Begitu juga penjaga gawang Marianus Labi Namang, spesialis pinalti, cerdas membaca tendangan lawan.
Ketika partai puncak Liga 3 ETMC XXXI harus diakhiri dengan drama adu pinalti, publik meyakini Lembata bakal memenangkan pertarungan.
Lembata yang belakangan disebut jago pinalti karena pengalaman tiga kali menang adu pinalti, ternyata harus kalah dari drama adu pinalti.

Gol Cepat
Laga Lembata dan Ende berlangsung dalam tempo tinggi. Ende mengawali dengan 2 gol cepat pada 10 menit pertama.
Baru menit ke-7, Ende sudah unggul melalui Cahya Dwi Permana yang menggetarkan jala Yucius Betekeneng.
Sebuah tendangan dari sektor kiri pertahanan Ende, jatuh di kotak pinalti. Penjaga gawang sempat keluar, namun gagal menghalau bola. Cahya Dwi Permana yang berlari dari second line dengan gampang melesakkan bola ke gawang.
Ende belum selesai bikin kejutan. Tiga menit berselang, giliran Alfian Ibrahim memaksa Yucius Betekeneng memungut bola dari gawang.
Berawal dari tendangan penjuru yang dilakukan Adi Aba. Bola diangkat ke tengah gawang, dan Alfian Ibrahim menaduk dengan sempurna.
Pertarungan berlangsung panas. Lembata tidak mau menyerah saja di depan publik tuan rumah yang memadati GOR 99. Kurang lebih 15.000 penonton dengan dominan jersey biru terus memberikan spirit kepada tim kebanggaan mereka.
Lembata baru bisa memperkecil kekalahan pada menit ke-16. Wasit menunjuk titik putih setelah Yohanes Kopong dijatuhkan di kotak pinalti. Sebastianus Wetu berhasil melakukan eksekusi dengan baik.
Babak kedua benar-benar menjadi milik Lembata. Tuan rumah terus melancarkan tekanan. Serangan bergelombang silih berganti, namun belum membuahkan hasil.
Lima menit terakhir menjadi malapetaka bagi Ende. Sebuah tendangan bebas dari sektor kiri pertahanan Lembata, langsung mengarah ke jantung pertahanan Ende.
Penjaga gawang Akbar Rahman sempat membendung. Hanya saja bloking yang dilakukan mengena punggung belakang pemain bertahan Ende Muhajir Sulaiman. Bola mental dan masuk ke gawang sendiri.
GOR 99 Lewoleba spontan bergemuruh. Ribuan pendukung Lembata langsung bersorak riang.
Pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Lembata nyaris saja berpesta. Sayang, tendangan terukur Sebastianus Wetu melenceng 1 centimeter di atas mistar gawang.

Hadiah
Sukses tahun ini, mencatatkan Ende tiga kali juara ETMC, sejajar dengan Persami Maumere.
Dua kali sebelumnya terjadi pada tahun 1999 dan 2017 di kandang sendiri. Praktis, tahun ini Ende mencatat rekor karena merengkuh tropi bergilir di kandang lawan. Fakta ini menegaskan bahwa sesungguhnya Ende bukan jago kandang sebagaimana label yang disematkan selama ini.
Atas prestasi ini, selain membawa pulang tropi bergilir, Ende berhak atas piala tetap, piagam penghargaan, medali emas, dan uang pembinaan sebesar Rp 200 juta.
Sedangkan Persebata Lembata sebagai Juara 2, berhak atas piala tetap, piagam penghargaan, medali perak, dan uang pembinaan Rp 150 juta.
Lembata boleh sedikit terhibur karena ditetapkan sebagai Tim Fair Play dan mendapatkan uang pembinaan Rp 10 juta.
Kapten Persebata Lembata Arsenius Ola dinobatkan sebagai pemain terbaik, dan berhak atas piala tetap dan uang pembinaan Rp 5 juta.
Sementara itu Persim Manggarai sebagai Juara 3 mendapat piala tetap, piagam penghargaan, medali perak, dan uang pembinaan Rp 100 juta.
Striker Persim Manggarai Andika Mokan menjadi top scorrer, dan berhak atas piala tetap dan uang pembinaan Rp 5 juta.
Sedangkan Perserond Rote Ndao sebagai Juata 4 berhak atas piala tetap, piagam penghargaan, dan uang pembinaan Rp 50 juta.
Liga 3 ETMC XXXI Tahun 2022 reami ditutup Penjabat Bupati Lembata Marsianus Jawa. Pada momen itundia menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kontribusi semua pihak sehingga turnamen bergengsi region NTT ini berlangsung sukses.*** (eny)















