Sekitar akhir tahun 2021, wacana pembangunan menara lonceng menyeruak tajam ke permukaan. Entah datangnya dari mana, kabar ini bergulir cepat dan mulus. Lalu spontan menjadi diskursus nonformal masyarakat pada berbagai ruang dan kesempatan.
Seiring dengan itu, muncul tindakan serius untuk mewujudkan wacana tersebut menjadi sesuatu yang nyata.
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo memastikan peletakkan batu pertama dilakukan pada 2 Pebruari 2022. Tanggal cantik: 02-02-22. Lokasi pembangunan di Gelora Samador da Cunha Maumere.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak main-main. Satu hari sebelum ground breaking, dilakukan upacara adat di Gelora Samador da Cunha Maumere.
Entahlah apa maksudnya ini. Secara adat, bisa saja ritus ini mungkin saja untuk meminta dukungan arwah leluhur agar ide besar tersebut berjalan mulus dan terealisir.
Kegiatan peletakkan batu pertama, berlangsung sederhana. Tapi dalam kesederhanaan, substansi kegiatan terbilang luar biasa.
Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera sebagai Ketua Panitia Pembangunan, bicara gagah, sambil menjaga betul karakter bicara dan gestur tubuh.
Dia meyakini sekali pembangunan menara lonceng dimulai hari itu sejak setelah peletakkan batu pertama. Pembangunan direncanakan dalam 3 tahap selama 2 tahun.
Bagaimana anggaran pembangunan? Adrianus Firminus Parera menyebut anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 12 miliar. Wow! Fantastis! Sebuah angka yang tidak main-main.
Lalu dari mana sumber anggaran? Ah, kicil sa. Hal yang begini gampang buat seorang Adrianus Firminus Parera.
Dia menyebut anggaran bersumber dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Sikka, program CRS, para donatur, dan masyarakat luas yang dapat menyumbang secara sukarela.
Sumber anggaran ternyata tidak main-main. Menyebut anggaran melalui pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten, itu bukan sembarang sebutan. Bukan sekedar klaim bibir manis.
Dengan itu, asumsinya jelas sekali. Hampir pasti, untuk 2 tahun anggaran, 2022 dan 2023, ada alokasi anggaran pembangunan menara lonceng yang termuat pada APBN, APBD NTT dan APBD Sikka.
Ini menunjukkan begitu hebatnya kualitas komunikasi politik anggaran yang dilakukan Bupati Sikka dan Sekda Sikka kepada pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten, bersama legislator pada tingkatan masing-masing.
Hanya saja waktu itu Sekda Sikka belum mau, atau mungkin sengaja tidak mau mempublikasikan besaran anggaran dari masing-masing sumber. Bisa jadi “Bapa Tua” lebih memilih merahasiakan.
Ada hal luar biasa yang lain lagi. Pada momen peletakkan batu pertama, Sekda Sikka mempresentasikan melalui visual rencana pembangunan menara lonceng. Oh, sungguh luar biasa Kota Maumere nantinya setelah menara lonceng hadir.
Ini bukti kerja cerdas dan kerja cepat Sekda Sikka. Dalam berbagai kesibukan rutinitas, dia mampu menggandeng tim kerja hebat.
Bisa jadi karena kepiawaian Sekda Sikka dalam urusan kerja cepat, kerja cerdas dan kerja hebat, meski sibuk sebagai dapurnya pemerintah, meski kemampuan minus malum dalam urusan teknis fisik, toh Bupati Sikka memberikan kepercayaan kepada Sekda Sikka untuk mewujudkan mimpi besar itu.
Masih ada hal luar biasa yang lain lagi. Uskup Maumere hadir pada momen historis ini. Bisa jadi, kehadiran Uskup Maumere merupakan bagian dari kerja cepat, kerja cerdas, dan kerja hebat Sekda Sikka.
Panitia mampu meyakinkan dan menghadirkan Uskup Maumere, semakin memberikan keyakinan kepada publik bahwa gagasan pembangunan menara lonceng bukanlah ide kaleng-kaleng.
Momen luar biasa peletakkan batu pertama juga tampak dari dialog tidak resmi antara Uskup Maumere dan Bupati Sikka.
Uskup Maumere, dalam nada kehati-hatian, mengajak masyarakat dan umat Keuskupan Maumere untuk mendukung pembangunan menara lonceng.
Kenapa “nada kehati-hatian”? Karena redaksi kalimat berikutnya cukup “mengganggu”. Dengan nada datar Uskup Maumere mengingatkan agar pembangunan menara lonceng tidak mangkrak.
Ini sebuah peringatan yang tidak boleh dianggap biasa saja. Suara Uskup Maumere, adalah representasi suara umat Katolik di Keuskupan Maumere.
Sekda Sikka yang bermodalkan kerja cepat, kerja cerdas, dan kerja hebat, semestinya tidak saja memahami sabda ini secara iman, tapi juga perlu menjawabnya dengan keseriusan bekerja.
Rupanya tidak ada hal yang menjadi kendala dalam memuluskan gagasan mulia ini. Dan itu terlihat dari semangat dan keyakinan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo.
Dalam momentum itu, Bupati Sikka langsung menanggapi keragu-raguan Uskup Maumere. Dengan penuh percaya diri dia memastikan pembangunan menara lonceng tidak bakal mangkrak. Luar biasa! Sabda ini meyakinkan sekali.
Ternyata oh ternyata. Sehabis peletakkan batu pertama, tidak ada aktifitas kegiatan di lokasi pembangunan. Besoknya, demikian juga. Hingga hari keempat, masih saja tidak ada aktifitas.
Sekda Sikka yang kerja cepat, kerja cerdas, dan kerja hebat itu, anteng saja menimpali kondisi ini. Masih dengan penuh keyakinan dia beralibi Panitia Pembangunan Menara Lonceng sedang melakukan konsolidasi penetapan rencana operasional.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk konsolidasi? Sekda Sikka tenang saja. Setenang dirinya yang selalu menganggap persoalan bukanlah persoalan.
Dia tenang, dan tidak perlu menjawab pertanyaan ini. Mungkin dia anggap pertanyaan tersebut tidak penting dijawab.
Satu bulan berlalu, dua bulan lewat, dan sekarang sudah pada bulan kesebelas. Sedikit hari lagi, peletakkan batu pertama pembangunan menara lonceng memasuki usia 1 tahun.
Keragu-raguan Uskup Maumere terjawab. Bukan saja kuatir mangkrak, tapi faktanya tidak ada kelanjutan pembangunan. Menara lonceng mentok pada batu pertama.
Beragam momen luar biasa yang “dipertontonkan” pada saat peletakkan batu pertama, ternyata hanya panggung sandiwara.*** (vicky da gomez)















