
Maumere-SuaraSikka.com: Fraksi Partai Golkar DPRD Sikka mensinyalir Kabupaten Sikka sepertinya tidak memiliki pemimpin selama 5 tahun terakhir ini.
Sikap politik ini disampaikan anggota DPRD Sikka Maria Angelorum Mayestatis, Jumat (28/7), saat menyampaikan Pemandangan Umum Fraksi terhadap Pidato Bupati Sikka atas Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2022.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fraksi Partai Golkar mengatakan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dan Wakil Bupati Sikka Romanus Woga pada awalnya memberikan asa dan harapan rakyat untuk hidup lebih baik dan bahagia.
Awalnya rakyat kagum tatkala pemimpin pilihan mereka menebar mimpi dan angan untuk membawa perubahan yang lebih baik dari pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Rakyat bangga dan yakin bahwa hidupnya akan lebih baik, Sikka pasti akan terus maju dengan menggeliatnya pembangunan di segala bidang.
Hal ini ditambah lagi dengan suntikan dana dari PT SMI. Rakyat juga begitu yakin roda birokrasi akan ditata lebih baik secara profesional di tangan pemimpin yang bervisi Terpenuhnya Hak-Hak Dasar Masyarakat menuju Sikka Bahagia 2023.
“Wow, keren kedengarannya,” sentil Maria Angelorum Mayestatis.
Namun, seiring dengan perjalanan waktu ternyata ekspetasi ini seperti masih jauh panggang dari api, begitu samar-samar tenggelam dalam idealisme semu pemimpin Negeri Antabaranta. Kebanggaan itu hilang sirna ibarat senja dijemput malam kelam.
“Daerah ini sepertinya tak memiliki pemimpin politik yang memiliki tanggung jawab dan beban moril yang besar untuk membawa rakyatnya menuju bahtera hidup yang lebih baik,” tukas Maria Angelorum Mayestatis.
Dia mengatakan ada masalah yang berulang-ulang kali sering disuarakan dengan lantang di DPRD Sikka melalui mimbar paripurna. Tapi, katanya, tidak ada tindak lanjut yang jelas malah terkesan pembiaran oleh pemerintah.
Dia lalu menyebut proyek-proyek mangkrak yang bersumber dari dana PEN seperti Pembangunan RS Pratama Doreng, pekerjaan beberapa ruas jalan seperti Nita-Riit, Patimoa-Arewawo dan yang lainnya, merupakan potret kegagalan pemerintah saat ini.
Dengan kondisi ini disadari atau tidak cita-cita besar para pendahulu yang berharap Sikka akan lebih baik, lebih maju dan lebih berkembang, sekarang tinggal kenangan.
“Pemimpin yang ada saat ini lebih suka mengumbar janji, sibuk urusan mutasi yang cenderung sarat unsur KKN, balas dendam dan balas jasa politik, bongkar pasang mesin birokrasi dengan sesuka hati tanpa mempedulikan kajian teknis profesional dari Tim Penilai Kinerja, belum lagi kabar burung yang santer terdengar soal Tim sukses yang terlibat aktif mengatur pekerjaan proyek-proyek untuk kroni dan orang dekatnya,” umbar Maria Angelorum Mayestatis.
Ditambah lagi, kata dia, dengan cerita lama aroma upeti telah dijadikan seperti ladang baru untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan seperti zamannya para raja dulu.
Maria Angelorum Mayestatis mengatakan kondisi Kabupaten Sikka ini dipertegas dengan pernyataan Dian Patria, Kepala Satuan Tugas Direktorat V Kedeputian Bidang Koordinasi dan Supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dian Pratama saat memberikan keterangan pers menyebutkan Kabupaten Sikka dengan APBD terbatas, tapi banyak proyek bermasalah.
Pada momen ini, Fraksi Partai Golkar mengajak semua untuk kembali mengingat prinsip kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara.*** (eny)















