Pelaku Gunting Rambut Guru Akhirnya Menyesal dan Minta Maaf
Dibaca 26 kali
Arnold Raga memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Mapolres Sikka, Jumat (1/3)
Maumere-SuaraSikka.com: Arnold Raga, pelaku yang menggunting rambut guru SDI Madawat di Kabupaten Sikka Propinsi NTT mengaku tindakan yang dilakukan karena emosional semata. Akhirnya dia pun menyesal dan meminta maaf. Dia pun siap didenda secara adat jika persoalan ini diselesaikan dengan hukum adat.
“Saya minta maaf sebesar-besarnya. Lain kali saya tidak akan mengulangi lagi. Kalau bisa kita laksanakan secara adat saja,” tutur Arnold Raga kepada wartawan di Mapolres Sikka, Jumat (1/3).
Laki-laki ini mengatakan dia baru mengetahui rambut anaknya digunting pada Kamis (28/2) malam setelah dilaporkan anaknya sendiri. Saat mendapat laporan tersebut Arnold Raga spontan marah. Dia beralasan karena rambut anaknya baru dia gunting pada Selasa (26/2) pagi, kenapa harus digubtung lagi oleh gurunya ada Rabu (27/2).
Berita Terkait:
Rupanya kemarahan Arnold Raga itu tidak terelakkan lagi. Bahkan terkesan dia merencanakan membalas dendam terhadap Theresia Pramunista Rolle, guru yang telah menggunting rambut anaknya. Indikasi itu terlihat jelas karena saat mengantar anaknya ke sekolah pada Jumat (1/3), dia membawa juga sebuah gunting berwarna hitam.
Gunting itu dia simpan di kantong celana bagian belakang. Di SDI Madawat, Arnold Raga langsung mencari Theresia Pramunista Rolle yang biasa dipanggil Rista. Dia berhasil menemui Rista di ruang perpustakaan. Arnold Raga mengeluarkan gunting dan langsung menggunting rambut sang guru.
Persoalan ini pun berbuntut panjang. Rista tidak menerima perlakuan Arnold Raga terhadapnya. Didampingi suami, keluarga dan rekan-rekan guru, Rista melaporkan peristiwa ini ke Polres Sikka. Keduanya sudah diambil keterangan oleh penyidik Unit Tindak Pidana Ringan (Tipiring) Reskrim Polres Sikka.
Hingga siang tadi belum diketahui bagaimana kelanjutan persoalan antara guru dan orang tua murid ini. Rista menginginkan proses hukum ini berjalan terus untuk memberikan efek jera kepada orang tua yang suka melakukan kekerasan terhadap guru. Sementara Arnold Raga berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan, kalau pun boleh dengan proses hukum adat.*** (eny)