Maumere-SuaraSikka.com: Petani di Kabupaten Sikka menjerit. Dalam sepekan terakhir ini hama ulat grayak menyerang tanaman jagung yang baru berusia 1 bulan. Serangannya meluas mencapai 756,55 hektar. Yang paling parah di wilayah Kecamatan Alok.
Ulat grayak utama adalah spodoptera exigua atau larva berwarna coklat kehijauan dan spodoptera litura atau larva berwarna coklat.
Ulat grayak tinggal di bawah permukaan tanah di siang hari dan aktif memakan tajuk tumbuhan pada malam hari. Serangannya sangat hebat sehingga dalam waktu semalam dapat menghabiskan suatu pertanaman, dan oleh sebab itu dikenal sebagai ulat tentara.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Sikka Kristian Amstrong yang ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/1), membenarkan terjadinya serangan hama ulat grayak.
“Dalam satu minggu terakhir ini saya dapat informasi selerti itu. Saya sudah turun ke lapangan dan melihat sendiri kondisinya. Dan benar, ulat grayak mulai menyerang tanaman jagung,” jelas dia.
Kristian Amstrong mengaku telah mengumpulkan Petugas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) untuk mendapatkan data tingkat serangan hama ulat grayak. Data dari POPT menyebutkan serangan ringan seluas 281,55 hektar, serangan sedang 404 hektar, dan serangan berat 71 hektar.

Terkait kondisi ini pihaknya telah menyarankan para petani untuk melakukan mekanis dengan cara membersihkan dan membakar. Selain itu, dia juga menyarankan untuk dilakukan pembasmian dengan penyemprotan insektisida.
Menurut dia, munculnya hama ulat grayak, akibat dari pengolahan lahan yang tidak sesuai anjuran. Secara normal, katanya, pengolahan lahan harus lebih awal, minimal 2 minggu atau 1 bulan sebelum proses menanam. Dengan demikian, tanah yang diolah sempat terjemur, sehingga bisa mematikan bakteri.
“Kebiasaan petani sekarang mengolah lahan setelah turun hujan. Nah itu yang keliru. Ulat grayak berpotensi pada lahan yang salah pengolahan. Dan lebih berpeluang lagi kalau terjadi musim yang tidak menentu, sebentar hujan, sebentar panas,” ungkap dia.















