Kisah Pilu Korban Setrum, Dari Jenguk Orangtua Sampai Dapat Job
Dibaca 37 kali
Suasana di kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere, Selasa (30/10) malam, menyusul tewasnya dua buruh pekerja jaringan telekomunikasi
Maumere-SuaraSikka.com: Dua orang buruh jaringan telekomunikasi tewas di tempat, Selasa (30/10) petang, setelah kesetrum listrik tegangan tinggi. Salah satunya adalah Mikael Moa Bero, yang datang dari Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara. Media ini mendapat kisah pilu korban dari niatnya mengunjungi orangtua hingga mendapatkan job pemasangan tiang telkom.
Mikael Moa Bero yang berusia 60 tahun, selama ini tinggal di Kefamenanu. Dia memiliki seorang istri dan dua orang anak. Istrinya baru saja meninggal satu tahun yang lalu. Korban aslinya adalah warga Kabupaten Sikka, yang dulu pernah menetap di Waewerut Desa Waiara Kecamatan Kewapante.
Saverius Nong Okto, salah satu keponakan korban yang ditemui di UGD RSUD TC Hillers Maumere, Selasa (30/10) pasca peristiwa naas itu, mengaku korban baru saja tiba dari Kefamenanu pada Senin (29/10). Tidak seperti biasanya, kali ini korban datang tanpa terlebih dahulu mengabarkan kepada keluarga di Waiara.
Berita Terkait:
“Biasanya dia kasih kabar, dia telepon kalau mau datang. Kali ini tidak. Tiba-tiba saja muncul. Dia alasan mau jenguk Mama-nya yang sedang sakit. Tadi malam tidur di rumah saya,” cerita Saverius Nong Okto.
Dari Kefamenanu korban menempuh jalan darat ke Kupang, kemudian ikut kapal dari Kupang menuju Larantuka. Rupanya di atas feri dia bertemu dengan beberapa orang yang akan bekerja di Maumere sebagai buruh pada perusahaan yang memenangkan tender pemasangan jaringan telekomunikasi.
Entah bagaimana cerita komunikasi di antara mereka, Saverius Nong Okto tidak terlalu tahu. Yang pasti, kata dia, korban menginformasikan bahwa akan bekerja pada proyek pemasangan jaringan telekomunikasi di Maumere. Korban juga mengikutsertakan salah satu keponakannya bernama Yosef Frans Bero.
Pada Selasa (30/10), korban bersama Yosef Frans Bero kemudian bergabung dengan 7 orang buruh untuk memulai pekerjaan hari pertama. Ketujuh buruh itu adalah Jusman Burhan Wadan, Abubakar Eli, Soleman Tetu, Sarif Udin, Murry Mashuri, Dani, dan Saverianus. Sembilan orang buruh ini di bawah pengawasan Rahmat Samsudin selaku mandor. Seorang buruh atas nama Jusman Burhan Wadan, warga Solor Kabupaten Flores Timur, juga menjadi korban setrum listrik.
Rahmat Samsudin yang ditemui di Kantor Polres Sikka, Selasa (30/10) malam, tidak terlalu banyak memberikan keterangan. Media ini sulit mendapatkan informasi dari mandor ini terkait mekanisme perekrutan tenaga kerja, kontrak kerja, gaji, asuransi kecelakaan, sampai kepada sarana pengaman kerja. Dia meminta media ini langsung mengklarifikasi dengan Direktur PT Percon Summa selaku kontraktor pelaksana.
“Nanti tanya Pa Edi saja, dia ada di Denpasar, besok sudah tiba di sini. Saya ini hanya mandor,” alasan Rahmat Samsudin.
Pantauan media ini tadi malam, jenazah korban setrum listrik sudah berada di kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere. Keluarga korban baik dari Desa Waiara maupun paguyuban Solor di Maumere tampak berada di kamar jenazah. Menurut informasi, setelah urusan administrasi keluarga korban akan membawa pulang jenazah. Korban Mikael Moa Bero rencananya disemayamkan di Desa Waiara, sementara korban Jusman Burhan wadan rencananya langsung dibawa ke Solor.*** (eny)