77 Siswa Seminari Bunda Segala Bangsa Dipaksa Makan Feses
Dibaca 10 kali
Suasana di Seminari BSB Maumere, Selasa (25/2)
Maumere-SuaraSikka.com: Hukuman keji terjadi di SMPK Seminari Maria Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere. Sebanyak 77 siswa Kelas VII dipaksa makan feses atau kotoran manusia oleh kakak kelas mereka.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (19/2) lalu. Kasus ini dibungkus rapi, dan baru terbongkar dua hari sesudahnya, Jumat (21/2). Terbongkarnya perlakuan keji itu setelah orang tua siswa memrotes tindakan itu melalui WhatsApp humas sekolah.
Pimpinan Seminari BSB RD Deodatus Du’u melalui rilis resmi, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Hanya saja, kata dia, para siswa yang mendapat hukuman, bukan diberi makan kotoran manusia, tetapi salah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada kotoran manusia pada bibir atau lidah 77 siswa tersebut.
Seorang siswa yang menjadi korban menceritakan, pada saat itu setelah makan siang, dia bersama teman-teman kembali ke asrama untuk istirahat. Ternyata di asrama, seirang pendamping siswa yang adalah kakak kelas, menemukan kotoran manusia dalam kantong, terletak di sebuah lemari kosong.
Pendamping ini memanggil semua siswa dan menanyakan siapa pelaku yang menaruh kotoran manusia tersebut. Karena tidak ada yang mengaku, pendamping tersebut langsung menyendok kotoran tersebut lalu menyuap ke dalam mulut para siswa.
Para siswa terpaksa menerima perlakuan itu tanpa perlawanan. Mereka juga tidak berani melaporkan perlakuan keji itu kepada orangtua, karena diancam akan disiksa lagi.
Romo Deodatus Du’u mengatakan peristiwa tersebut terjadi di asrama. Menurut dia, kakak kelas yang menghukum 77 siswa mengaku marah karena berkali-kali ditanya siapa pelaku yang menyimpan kotoran manusia di lemari, tetapi tidak ada yang mengaku.
“Karena marah, salah seorang kakak kelas mengambil kotoran itu dengan sendok makan lalu menyentuhkan kepada bibir atau lidah,” jelas dia.
Dia menambahkan peristiwa ini baru diketahui pembina asrama, setelah salah satu korban bersama orangtuanya melaporkan peristiwa tersebut pada Jumat (21/2). Mendapat informasi tersebut para pembina langsung memanggil 77 siswa yang jadi korban dan 2 kakak kelas untuk dilakukan klarifikasi.
Kasus keji ini sempat menjadi viral di sejumlah media sosial. Pimpinan sekolah yang sebelumnya enggan memberikan keterangan kepada media, akhirnya menerbitkan press release yang di-share pada berbagai sosial.
Romo Deodatus Du’u beralasan bukannya tidak mau memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan, tetapi pihaknya ingin terlebih dahulu melakukan pertemuan internal.*** (eny)