Polisi Olah TKP dan Ambil Keterangan Kasus Fases di Seminari BSB

0
44
Polisi Olah TKP dan Ambil Keterangan Kasus Fases di Seminari BSB
Kapolres Sikka AKBP Sajimin
Maumere-SuaraSikka.com: Kasus fases di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere terus menjadi perbincangan. Penyidik Polres Sikka pun telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengambil keterangan dari para pihak.
Kapolres Sikka AKBP Sajimin mengatakan penyidik telah mendatangi Seminari BSB pada Rabu (26/2) sekitar pukul 08.00 Wita. Di sekolah calon Imam itu, polisi melakukan olah TKP dan selanjutnya menggelar pemeriksaan.
Sudah sekitar 5 orang yang diperiksa penyidik, baik dari korban, pelaku, maupun pihak sekolah. Kapolres Sikka belum membeberkan detail siapa-siapa saja yang sudah diperiksa.
“Masih pemeriksaan, nanti kami sampaikan hasilnya,” ujar Kapolres Sikka kepada wartawan, Rabu (26/2).
Untuk melakukan pemeriksaan, kata dia, penyidik tidak melakukan sendirian. Karena pelaku dan korban adalah anak-anak, penyidik menyertakan juga Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
“Ini kan kaitan dengan anak-anak, ada aturan tersendiri. Kami akan tetap memperhatikan hak-hak mereka, seperti hak belajar dan lain sebagainya,” ujar Kapolres Sikka yang baru beberapa hari bertugas di Kabupaten Sikka.
Dia mengatakan sejak kasus ini menjadi viral, terjadi pembiasan informasi, misalnya jumlah korban dan bentuk perlakuan pelaku kepada korban. Informasi yang simpang siur, kata dia, bisa membentuk opini yang tidak berdasarkan fakta.
“Sebagai polisi, kami berkewajiban menjaga kantibmas. Jadi, kami minta keterangan, sehingga tidak terjadi simpang siur informasi. Kan nanti akan ketemu kronogisnya seperti apa. Kalau memenuhi unsur pidana misalnya, kita akan tahu pidana yang mana,” jelas dia.
Pemeriksaan atas peristiwa ini, dilaksanakan langsung di sekolah. Penyidik menempuh mekanisme tersebut agar tidak menimbulkan trauma dan ganggiuan psikologis pada korban dan pelaku.
Sebagaimana diketahui, sebanyak 77 siswa Kelas VII dipaksa makan feses atau kotoran manusia oleh kakak kelas mereka.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (19/2) lalu. Kasus ini dibungkus rapi, dan baru terbongkar dua hari sesudahnya, Jumat (21/2). Terbongkarnya perlakuan keji itu setelah orang tua siswa memrotes tindakan itu melalui WhatsApp humas sekolah.
Pimpinan Seminari BSB RD Deodatus Du’u melalui rilis resmi, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Hanya saja, kata dia, para siswa yang mendapat hukuman, bukan diberi makan kotoran manusia, tetapi salah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada kotoran manusia pada bibir atau lidah 77 siswa tersebut.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini