Maumere-SuaraSikka.com: Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah corona yang sedang mewabah. Ritus adat menjadi salah satu alternatif. Media ini ikut menyaksikan bagaimana upacara adat melawan corona dari Korobhera.
Korobhera adalah salah satu desa di Kecamatan Mego Kabupaten Sikka Propinsi NTT. Kurang lebih ada 300 kepala keluarga atau sekitar 1.100 jiwa di wilayah terpencil ini. Ini satu-satunya desa di wilayah Kecamatan Mego yang dekat dengan laut.
Ritus adat menolak bala dan penyakit sudah sering dilakukan di desa ini. Terutama yang bersentuhan langsung dengan akfitifas kehidupan rutinitas masyarakat seperti kegiatan pertanian, perdagangan, dan perikanan kelautan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Wabah corona membuat panik warga Desa Korobhera. Kepanikan kian meningkat karena virus ini sudah menjadi isu yang mendunia. Kuatir virus ini mengganggu warga desa, para tokoh adat berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan tokoh agama, untuk menggelar ritual adat.
Ritual adat dengan sebutan bahasa setempat joka segu ngawu re’e atau menolak sakit penyakit. Seremoni dilakukan di kuwu si’e yang dipercaya sebagai tempat pembuangan sakit penyakit. Lokasi ritus terletak di Dusun Wara, yang persis berada di tepi pantai.
Sebelum melaksanakan ritus, warga desa terlebih dahulu membuat pagar, semacam batas antara wilayah pantai dan daratan. Pagar dibuat secara sederhana dari bahan-bahan lokal seperti daun-daun kelapa. Hanya ada satu akses masuk keluar, persis di depan tempat ritual.
Pantauan media ini, sebanyak 8 orang tetua adat yang disebut Atalaki, duduk melingkar di depan pintu masuk. Bernadus Kere, 82 tahun, selaku Lakipu’u memimpin ritual adat. Karena usia yang sudah tua, dia duduk pada sebuah kursi. Sementara yang lainnya bersila di atas tanah.
Ritual adat yang berlangsung kurang lebih setengah jam ini, diawali dengan ibadah dan berkat oleh Pastor Paroki Santa Maria Imakulata Mego RD
Yulius Heribertus. Setelah itu, dalam bahasa daerah setempat, pemimpin ritual meminta kehadiran arwah para leluhur dan menyampaikan ujud ritual dalam. Kemudian dilanjutkan dengan memberi makan dan minum kepada arwah.
Pada bagian akhir ritual, Bernadus Kere menutup tempat ritual dengan sebuah nyiru. Hal ini dimaksudkan agar virus corona tidak masuk ke wilayah Indonesia secara umum, dan apabila sudah masuk ke Indonesia, dikeluarkan ke tempat-tempat yang tidak mengganggu kehidupan manusia.
Ritual adat ini disaksikan warga desa setempat, termasuk Kepala Desa Korobhera Darius We’u dan Pastor Paroki. Hadir juga anggota DPRD Sikka Benediktus Lukas Raja.
Blasius Senda, jurubicara Atalaki mengatakan ritual adat ini mengombinasikan tiga aspek yakni alam, arwah, dan agama. Pihaknya meyakini dengan kekuatan tiga aspek ini, wabah corona bisa dihentikan.
Dia menambahkan setelah ritual adat ini, ada dua hal penting yang wajib dilaksanakan warga Desa Korobhera. Dua hal yang sifatnya larangan yakni selama 2 hari ini tidak boleh membuat kegaduhan dengan bunyi-bunyian, dan dilarang menerima tamu dari luar.
Camat Mego Alwan Mahmud menyebutkan sudah 19 orang dari wilayah Kecamatan Mego yang mendapatkan pemeriksaan secara medis. Rata-rata mereka baru kembali perjalanan dari luar daerah. Dia sudah meminta semua kepala desa untuk melakukan pemantauan terhadap para pelaku perjalanan di wilayah itu.*** (eny)















