Mulai 15 Juni, NTT Normal Kembali

0
288
Mulai 15 Juni, NTT Normal Kembali
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat

Maumere-SuaraSikka.com: Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengambil sikap berani dengan menormalkan kembali wilayah NTT. Pemberlakuannya akan dimulai sejak 15 Juni 2020 mendatang.

Informasi ini terungkap melalui video teleconfrence antara Gubernur NTT bersama Bupati dan Walikota di NTT, Selasa (26/5).

“Maksimal tanggal 15 Juni 2020, saya minta sudah normal kembali aktifitas pemerintahan. Tidak ada lagi work from home. Karena di NTT WFH itu adalah libur, sehingga tidak ada produktifitas dan efektifitas yang ada,” ungkap dia.

Dia mengatakan standar yang diberikan WHO untuk menangani Covid 19 seperti masuk ke new normal, tidak bisa diterapkan di NTT. Orang WHO, kata dia, tidak pernah berkebun, tidak pernah pegang linggis. Mereka hanya membuat standar kesehatan, tapi tidak bisa diterapkan di seluruh negara.

“NTT itu berbeda. NTT berpikir sebagai orang miskin yang butuh makan. Untuk itu saya tekankan agar kita kembali beraktifitas normal pada 15 Juni 2020. NTT normal, kita tidak ada yang baru, normal kita, seperti biasa,” tambah dia.

Menurut Gubernur NTT, virus corona tidak pernah mematikan siapa pun di dunia. Yang positif lalu mati, katanya, karena yang bersangkutan punya penyakit bawaan lain.

Dia mengatakan yang lebih berbahaya adalah demam berdarah dengue (DBD), karena nyamuknya tidak ada batasan, tidak pernah dikarantina atau ditracing.

“Bahkan hari ini yang mati karena DBD ada 55 orang di NTT. Sedangkan positif Covid 19 yang mati sampai saat ini hanya 1 orang, itu pun karena tifus,” ujarnya membandingkan.

Karena itu, tambah dia, khusus untuk NTT, masyarakat harus kembali beraktifitas normal seperti biasa.

Dia mengingatkan Bupati dan Walikota di NTT agar tidak perlu takut dengan kebijakan menormalkan kembali NTT. Ketakutan, kata dia, justeru lebih berbahaya dari virus corona itu sendiri.

“Pemimpin yang paling buruk di dunia adalah pemimpin yang penakut. Bodoh tidak apa-apa, tapi kalau penakut itu salah.
Jangan ada bupati yang tutup wilayah, RT dengan RT, kelurahan dengan kelurahan,” tegas dia.

Kebijakan Gubernur NTT mendapat beragam tanggapan dari Bupati dan Walikota di NTT. Semuanya mendukung semangat Gubernur NTT, sambil tetap memperhatikan anjuran protokol kesehatan.

Bupati Ende Mareel Djafar menanggapi positip kebijakan menormalkan NTT. Dia mengaku sudah mulai menyosialisasikan kepada masyarakat untuk kembali beraktifitas seperti biasa.

“Selama dua bulan ini kami mengalami kerugian ekonomi yang cukup besar karena semua ditutup,” ungkap dia.

Hal yang sama diutarakan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran. Dia mengaku senang dengan
ketegasan Gubernur NTT. Demikian juga tanggapan Bupati Flotim Antonius Hadjon

Saya mengingatkan bahwa para petani harus tetap berkebun. Kami sudah siap wilayah tanam jagung. Kendalanya adalah kesiapan air untuk menanam. Masih kami upayakan mendapatkan sumber air untuk dimanfaatkan dalam penanaman jagung,” jelas Anton Hadjon.

Bupati Manggarai Barat Agistinus Dule berharap jika kembali aktifitas normal maka wisata Pulau Komodo kembali dibuka, agar kapal-kapal, hotel, travel dapat beraktifitas kembali.

“Semua mati selama dua bulan ini. Kami alami kekurangan hingga 57 persen, turun sekira Rp133 miliar,” ungkap dia.

Hal senada disampaikan Bupati Alor Amon Djobo. Ketegasan Gubernur NTT, kata dia, menjadi pemacu bagi masyarakat Alor untuk kembali beraktfitas seperti biasa.

“Kami tidak pandang apa itu Covid. Kami tetap buka toko, pasar, kios semua kami buka. Tapi tetap protokol kesehatan kami ikuti,” seru dia.

Dengan kembali normalnya NTT, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do bertekad akan fokus kembali kepada irigasi agar 6.000-7.000 hektar dapat dimanfaatkan untuk perkebunan jagung.

Sementara itu Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo menyambut baik kebijakan Gubernur NTT. Dia menekankan untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan.

“Kita tetap jaga agar jangan sampai ada transmisi lokal di Sikka,” ungkap dia.

Lain lagi dengan Bupati Lembata Yentji Sunur. Selama ini, kata dia, pihaknya tidak menerapkan WFH, melainkan kerja dari desa untuk mendata keluarga dalam rangka penerimaan BLT.

“Aparatur saya mendorong masyarakat untuk tetap lakukan aktifitas ekonomi seperti biasa karena petani, nelayan, tidak bisa kerja dari rumah,” ujar dia.

Usai teleconfrence, Bupati Sikka kepada wartawan di Kantor Bupati Sikka menyampaikan akan melaksanakan kebijakan Gubernur NTT untuk menormalkan kembali NTT, termsuk di Kabupaten Sikka.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini