Kisah Jon Saat Gunakan KIS untuk Berobat

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2020 - 09:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 44 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Johanes Jati Henong

Johanes Jati Henong

Maumere-SuaraSikka.com: Johanes Jati Henong, 45 tahun, merasakan manfaat besar saat mengalami sakit. Hanya menggunakan kartu KIS dia terbebas dari biaya pengobatan.

Pria asal Desa Mekendetung Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka ini pun menuturkan kisahnya.

Jon, begitu dia disapa, telah menjadi peserta JKN-KIS sejak awal Januari 2020. Dia memiliki KIS segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU). Segmen ini merupakan peserta JKN-KIS yang membayar iuran sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Setiap bulan saya menyetor iuran. Tidak pernah ada tunggakan,” ujar dia saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria ini menderita sakit pada bagian gusi, atau dalam istilah medis disebut gingvitis. Sakit ini membawa beban tersendiri, terutama masalah biaya pengobatan.

Apalagi saat itu dia sedang berada di daerah perantauan, di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), masih dalam wilayah Propinsi NTT.

Sebagai seorang pedagang kecil, dengan penghasilan tidak menentu, Jon merasakan benar kesulitan yang dia hadapi. Gusi kian membengkak, namun solusi biaya pengobatan belum terpecahkan.

Dalam kondisi yang sangat sulit, dia memberanikan diri mendatangi fasilitas kesehatan. Dia mengaku nekad saja, dari pada terus menderita sakit.

Baca Juga :  Bom Hantam Gereja Katolik di Papua Tengah, 5 Korban Dibawa Lari ke Rumah Sakit 

Bermodalkan KIS, dia pun memeriksakan kesehatan di sebuah klinik di Kefamenanu. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, Jon tercengang karena tidak ada biaya pengobatan.

“Ternyata semua biaya sudah dijamin oleh BPJS Kesehatan. Ya, itu karena saya menjadi peserta JKN-KIS. Luar biasa sekali,” kenang dia.

“Keajaiaban” program JKN-KIS ini, kata dia, membuatnya rajin memeriksakan gusi yang sakit pada sebuah klinik. Berkali-kali dia berobat, berkali-kali juga tanpa biaya, karena semuanya sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

Pengalaman itu juga memicu dia untuk terus disiplin dan bertanggungjawab membayar iuran setiap bulan. Dia mengaku merasa nyaman jika iuran lancar, karena jaminan kesehatannya tertanggung program unggulan pemerintah ini.

“Iuran yang saya bayar setiap bulan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan saat saya sakit,” simpul dia.

Jon mengaku terharu sekali dengan pengalaman yang dia alami. Dia membayangkan beban penderitaan yang sangat, gusi sakit dan tidak ada biaya pengobatan. Ternyata semua itu terjawab karena jaminan kesehatannya ditanggung BPJS Kesehatan.

Baca Juga :  Sikka Darurat, Cairan Dialisa Habis, Pasien Cuci Darah Tidak Dilayani

“Saya hanya pedagang kecil saja. Penghasilan tidak jelas. Untuk kehidupan keluarga saja terasa masih sulit. Apalagi untuk biaya kesehatan. Syukurlah, BPJS Kesehatan menjawab semua kesulitan ini,” ungkapnya haru.

Dari berbagai informasi, dia mengetahui bahwa banyak orang yang merasakan manfaat besar dari JKN-KIS. Terutama di kalangan warga masyarakat yang selalu mengalami kesulitan ekonomi. Kuncinya, kata Jon, hanya dengan rajin membayar iuran setiap bulan.

“Saya menjadi saksi bahwa Program JKN-KIS nyata membantu masyarakat. Dengan iuran yang tidak seberapa, sudah dapat menjamin seluruh biaya pelayanan kesehatan walau berulang-ulang kali digunakan,” ujar Jon sambil mengacungi jempol sebagai bentuk ungkapan kepuasaannya.

Dengan wajah gembira, Jon menyampaikan terima kasih kepada pemerintah melalui BPJS Kesehatan yang telah menyelenggarakan Program JKN-KIS secara baik.

Program ini sangat membantu dan menolong bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat kurang mampu.

Dia berharap BPJS Kesehatan terus berupaya meningkatkan kepuasan dan kemudahan kepada seluruh peserta JKN-KIS.*** (eny)

Berita Terkait

Bertahun-Tahun Kontrak Rumah di Maumere Demi Bisa Cuci Darah, Warga Flotim Minta Pemerintah Hadirkan Unit Hemodialisis di Larantuka
Paguyuban Sound System Maumere Sumbang Rp 25 Juta untuk Pembangunan Gereja Santo Gabriel Waioti
Partisipasi Rendah, Hanya 5 SMK di Sikka Ikut FLS3N dan O2SN
Cairan Dialisa Sudah Tersedia, Pasien Cuci Darah di Maumere Kembali Dilayani
Sikka Darurat, Cairan Dialisa Habis, Pasien Cuci Darah Tidak Dilayani
Bom Hantam Gereja Katolik di Papua Tengah, 5 Korban Dibawa Lari ke Rumah Sakit 
Fantastis! Closing Ceremony Festival Sepak Bola, 1500 Pelajar di Sikka Kreasi Tarian Kolosal
Jelang 2 Hari Launching, HM Infinity Sport & Cafe Bagi 100 Paket Sembako untuk Warga Kota Uneng

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:54 WITA

Bertahun-Tahun Kontrak Rumah di Maumere Demi Bisa Cuci Darah, Warga Flotim Minta Pemerintah Hadirkan Unit Hemodialisis di Larantuka

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:56 WITA

Paguyuban Sound System Maumere Sumbang Rp 25 Juta untuk Pembangunan Gereja Santo Gabriel Waioti

Rabu, 20 Mei 2026 - 22:38 WITA

Partisipasi Rendah, Hanya 5 SMK di Sikka Ikut FLS3N dan O2SN

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:22 WITA

Cairan Dialisa Sudah Tersedia, Pasien Cuci Darah di Maumere Kembali Dilayani

Senin, 18 Mei 2026 - 15:12 WITA

Sikka Darurat, Cairan Dialisa Habis, Pasien Cuci Darah Tidak Dilayani

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:13 WITA

Fantastis! Closing Ceremony Festival Sepak Bola, 1500 Pelajar di Sikka Kreasi Tarian Kolosal

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:37 WITA

Jelang 2 Hari Launching, HM Infinity Sport & Cafe Bagi 100 Paket Sembako untuk Warga Kota Uneng

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:33 WITA

Festival Sepak Bola Pelajar Sukses Meniti Prestasi, Bupati Sikka Beri Apresiasi

Berita Terbaru