Cerita Sulaiman tak unik. Artinya, pengalaman dia memperlakukan air dengan takzim dan cinta serta keyakinan yang membawa berkah keselamatan, juga dialami banyak orang. Pada peristiwa berbeda, orang sakit sembuh berkat air yang didoakan oleh seorang Pastor, Ustadz dan dukun.
Air mengandung daya menyembuhkan, membersihkan, menyucikan. Karena itu, dalam berbagai budaya dan agama, air sangatlah istimewa. Dalam Islam, air digunakan untuk berwudhu. Air merupakan sarana pembaptisan dalam Kristen — dan, air yang ditaruh di pintu-pintu Gereja memberi kesejukan dan kedamaian saat kita membuat tanda salib.
Pada kedua agama tersebut, makna dan peran air adalah membersihkan dan menyucikan. Pun demikian signifikansi air dalam agama-agama lain yang dianut warga Bumi, seperti air suci Gangga di India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, sama seperti perlakuan terhadap listrik yang tiada padam siang-malam karena tak ada yang peduli di rumah tangga, rumah ibadah dan kantor-kantor, sering kita temukan air diperlakukan secara tidak sopan dan kurang ajar. Saat cuci kendaraan pribadi di rumah, ada saja orang yang membiarkan air mengalir dari keran atau selang, terbuang-buang.
Bagaimana tanggapan kita saat mendapati realitas begini? Jika kita tidak tahu pemborosan energi air dan listrik akan mengundang petaka bagi Bumi, maka ignorance is bliss — ketidaktahuan adalah berkah. Kita cuek bebek, bersikap bodoh-amat, tidak peduli.
Bila tahu kesembronoan itu berakibat fatal bagi planet kita, pasti kita mengelus dada dan menggeleng sedih. Pendeknya, karena tahu maka kita berduka. Sebab, tak hanya merespon cinta seperti pengalaman Sulaiman, air juga bereaksi negatif-destruktif terhadap kengawuran dalam hal penggunaan energi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












